Kesepakatan AS-Iran Selat Hormuz: Uranium, Sanksi, dan Gencatan 60 Hari

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kesepakatan AS-Iran soal Selat Hormuz kembali mengemuka, dengan tawaran membuka jalur minyak dunia seperti sebelum perang. Drafnya menyebut komitmen Iran memusnahkan uranium yang diperkaya tinggi, sementara AS menyiapkan pelonggaran sanksi terbatas selama 60 hari. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Selat Hormuz adalah nadi energi global, karena sebagian besar ekspor minyak Teluk melewati koridor sempit itu. Ketika Teheran menutupnya sejak perang pecah pada akhir Februari, pasar membaca sinyal eskalasi yang bisa menular ke mana-mana. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Laporan New York Times menyebut kesepakatan belum ditandatangani dan masih menunggu restu Donald Trump serta pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Seorang pejabat AS menekankan metode pemusnahan uranium masih dinegosiasikan, artinya inti teknisnya belum aman. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Di sisi Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menegaskan tidak ada keputusan di luar Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan tanpa izin Khamenei. Pernyataan itu adalah pengingat bahwa diplomasi Iran bukan sekadar urusan kabinet, melainkan arsitektur kekuasaan yang berlapis. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Axios merinci draf nota kesepahaman: gencatan senjata diperpanjang 60 hari dan Selat Hormuz dibuka kembali. Iran disebut akan membersihkan ranjau dan mengizinkan kapal melintas tanpa pungutan tol, sementara AS mencabut blokade pelabuhan Iran. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Imbalannya adalah pengecualian sanksi terbatas yang memungkinkan Iran menjual minyak lebih bebas selama 60 hari. Seorang pejabat AS menyebut skemanya “bantuan berdasarkan kinerja”, sehingga insentif ekonomi tidak diberikan di muka. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Bagian paling sensitif adalah nuklir: komitmen Iran tidak mengupayakan senjata nuklir, menegosiasikan penangguhan pengayaan, dan memusnahkan stok uranium yang diperkaya tinggi. Namun NYT juga menulis kesepakatan yang diusulkan tidak membahas pasokan rudal Iran dan belum memuat moratorium pengayaan sebagai paket final. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Celah ini penting karena “pemusnahan uranium” bukan istilah tunggal dalam praktik verifikasi. Apakah dimusnahkan di dalam negeri, diekspor, atau diencerkan menjadi tingkat rendah, akan menentukan seberapa cepat program itu bisa dipulihkan jika kesepakatan runtuh. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

CBS News mengutip pejabat Washington yang menilai rancangan ini lebih kuat daripada kesepakatan nuklir 2015 era Barack Obama. Klaim “lebih kuat” biasanya mengacu pada jangkauan inspeksi, nasib stok material, dan mekanisme snapback, tetapi rincian itu belum dibuka ke publik. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Di lapangan, aspek keamanan maritim diserahkan pada koordinasi CENTCOM dan mitra Teluk untuk memastikan jalur aman. Ini menandakan Washington ingin membuka selat tanpa menarik pasukan lebih dulu, sehingga risiko sabotase tetap ditanggung oleh postur militer yang ada. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Nama-nama yang terlibat juga memberi petunjuk arah politiknya, karena ada JD Vance, Steve Witkoff, dan Jared Kushner. Ketika negosiasi dipegang lingkaran inti, kesepakatan cenderung dipercepat, tetapi juga rentan menjadi komoditas politik domestik. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Dari Teheran, juru bicara Kemenlu Esmaeil Baghaei mengakui “kesimpulan” sudah dicapai pada sebagian besar isu, tetapi menolak klaim penandatanganan segera. Ia juga menuduh Washington mengubah posisi, sinyal klasik bahwa ada detail yang masih diperebutkan di menit-menit akhir. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Soal “tarif tol” menjadi contoh perang narasi yang halus. Pejabat AS menolak gagasan tarif tol sebagai tidak dapat diterima, sedangkan Baghaei menyebut Iran hanya memungut biaya layanan navigasi dan perlindungan lingkungan. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Di luar dua pihak, dukungan regional disebut datang dari Arab Saudi, Qatar, Mesir, Turki, Pakistan, dan Uni Emirat Arab, dengan Pakistan memainkan peran mediasi sentral. Ini penting karena legitimasi kawasan sering menjadi penyangga, sekaligus pengawas informal agar kesepakatan tidak dibajak oleh aktor yang ingin perang berlanjut. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Draf itu juga tampak ditautkan dengan upaya mengakhiri perang Israel dan Hizbullah di Lebanon. Israel disebut tetap diizinkan bertindak jika Hizbullah mempersenjatai diri kembali atau melanjutkan serangan, sehingga gencatan tidak otomatis berarti de-eskalasi total. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Kesepakatan AS-Iran tentang Selat Hormuz pada dasarnya adalah barter: stabilitas jalur energi ditukar dengan pengetatan nuklir yang dapat diverifikasi. Tetapi barter ini hanya bekerja bila definisi “pemusnahan” uranium dan standar verifikasinya disepakati secara operasional, bukan sekadar politis. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Skema 60 hari adalah jendela uji coba, bukan perdamaian. Ia memberi ruang bagi kedua pihak untuk mengklaim kemenangan cepat, sambil menunda pertarungan paling sulit: rudal, pengayaan jangka panjang, dan arsitektur sanksi permanen. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Risiko terbesar ada pada ketidaksinkronan ekspektasi. Washington ingin “menangani seluruh pasokan material yang diperkaya”, sementara Teheran menekankan kedaulatan pengelolaan selat dan biaya layanan, sehingga satu frasa saja bisa memicu tuduhan pelanggaran. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Di atas itu semua, faktor domestik tidak bisa diabaikan. Trump membutuhkan kesepakatan yang terlihat tegas, sedangkan Khamenei membutuhkan kesepakatan yang tidak tampak sebagai penyerahan, dan keduanya harus menjualnya kepada elite masing-masing. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Jika Selat Hormuz benar-benar dibuka tanpa pungutan tol dan ranjau dibersihkan, dunia akan merasakan dampaknya seketika lewat turunnya premi risiko energi. Namun jika detail nuklir dan sanksi dibiarkan menggantung, 60 hari hanya akan menjadi jeda sebelum krisis berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)

Pertanyaannya bukan sekadar apakah AS dan Iran bisa menandatangani kertas, melainkan apakah mereka sanggup mengikat diri pada mekanisme yang membuat pelanggaran menjadi mahal. Dalam diplomasi, ketahanan sebuah kesepakatan sering ditentukan bukan oleh kata-kata indah, tetapi oleh desain insentif dan verifikasi yang tidak memberi ruang untuk saling menipu. (Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)