Kasus Influenza A Naik, Kemenkes Diminta Perkuat Faskes

FPKB DPR RI

FPKB DPR RI

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Kasus Influenza A kembali jadi perhatian publik setelah data Kemenkes menunjukkan proporsi positif influenza melonjak hingga 46 persen pada minggu ke-36. Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKB, Neng Eem Marhamah Zulfa, mendesak Kemenkes memperkuat kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) agar lonjakan pasien tidak membuat layanan kolaps.

Peningkatan kasus Influenza A menguji ketahanan sistem kesehatan yang selama ini lebih sering disorot saat wabah besar. Neng Eem menilai kesiapan puskesmas dan rumah sakit krusial karena pasien bisa menumpuk cepat, terutama pada musim penularan.

Ia meminta Kemenkes memperketat surveilans dan memastikan rantai respons dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) hingga rumah sakit berjalan mulus. Ia juga menekankan ketersediaan obat dan kesiapan tenaga medis sebagai penyangga pertama sebelum kondisi pasien memburuk.

Dalam pernyataannya di Jakarta, Kamis (24/9/2026), Neng Eem mengingatkan bahwa deteksi dini adalah kunci agar kasus tidak berubah menjadi kegawatan. Ia menegaskan, “Jangan sampai peningkatan kasus membuat fasilitas kesehatan kewalahan.”

Data resmi Kemenkes per minggu ke-36 (19 September 2026) mencatat proporsi positif influenza mencapai 46 persen dari spesimen yang diperiksa. Dari 86 spesimen positif, dominasi varian Influenza A(H1N1)pdm09 menjadi sinyal bahwa sirkulasi virus sedang kuat.

Angka yang paling mengkhawatirkan adalah komposisi kelompok usia yang terdampak. Sebanyak 42 persen penderita berasal dari balita usia 0–4 tahun, yang secara klinis lebih rentan mengalami dehidrasi, demam tinggi, dan komplikasi pernapasan.

Dalam situasi seperti ini, kesiapan faskes bukan sekadar soal tempat tidur rumah sakit. Kesiapan berarti triase berjalan, rujukan tidak macet, dan edukasi di layanan primer cukup kuat untuk memisahkan gejala ringan dari tanda bahaya.

Neng Eem mendorong penguatan layanan di level FKTP agar beban rumah sakit tidak meledak. Ia juga menekankan pentingnya stok obat, karena kelangkaan di fase awal sering memicu pembelian panik dan memperlebar ketimpangan akses.

Ia mengimbau masyarakat mengenali gejala klinis, seperti demam tinggi, menggigil, nyeri otot, hingga sesak napas. Ia juga meminta Protokol Kesehatan (Prokes) dan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kembali digalakkan di rumah dan sekolah.

Seruan DPR agar Kemenkes memperkuat kesiapan faskes patut dibaca sebagai alarm tata kelola, bukan sekadar peringatan musiman. Lonjakan proporsi positif 46 persen menunjukkan sistem deteksi bekerja, tetapi juga mengindikasikan laju penularan yang tidak bisa diremehkan.

Masalahnya, publik sering sulit membedakan influenza biasa dengan Influenza A yang berpotensi lebih berat pada kelompok tertentu. Ketika informasi resmi lambat, ruang kosong itu segera diisi rumor, promosi obat yang menyesatkan, dan kepanikan yang tidak produktif.

Karena itu, tuntutan edukasi masif menjadi sama pentingnya dengan kesiapan klinis. Neng Eem menegaskan perlunya informasi akurat tentang gejala dan pencegahan agar warga “mengambil keputusan medis yang tepat.”

Namun edukasi saja tidak cukup bila akses layanan tidak merata. Bila puskesmas kekurangan tenaga atau rujukan tersendat, maka kelompok rentan seperti balita dan lansia akan selalu jadi korban pertama dari keterlambatan sistem.

Kesiapan juga harus diterjemahkan menjadi standar operasional yang terukur. Pemerintah perlu memastikan surveilans, pelaporan kasus, dan respons klinis berjalan seragam, bukan bergantung pada kapasitas daerah yang timpang.

Kenaikan kasus Influenza A menuntut respons yang tenang, cepat, dan disiplin, baik dari negara maupun warga. Pesan Neng Eem jelas, jangan menunggu rumah sakit penuh baru bergerak, karena pencegahan selalu lebih murah daripada penanganan.

Di titik ini, pertanyaan besarnya sederhana tetapi menentukan: apakah kita belajar memperkuat layanan primer dan literasi kesehatan sebelum krisis membesar. Jika jawabannya ya, maka lonjakan ini bisa menjadi momentum membangun sistem yang lebih tangguh, bukan sekadar melewati satu gelombang penyakit. (Orbit dari berbagai sumber, 27 September 2026)