Brendan Sorsby dan Kecanduan Judi Atlet Kampus NCAA

NBC Sports

NBC Sports

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Brendan Sorsby, quarterback Texas Tech, mengumumkan ia telah menuntaskan perawatan rawat inap untuk kecanduan judi. Ia berharap bisa kembali bermain sepak bola kampus pada 2026, meski aturan NCAA berpotensi menghalanginya.

Sorsby menulis di Instagram bahwa Jumat lalu ia menyelesaikan program perawatan residensial untuk kecanduan judi yang terdiagnosis, serta gangguan kecemasan. Ia mengakui tanggung jawab atas perilakunya dan mengatakan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun ia merasa lebih bebas dari cengkeraman adiksi.

Ia berterima kasih kepada keluarga, teman, para ahli, staf Algamus Recovery Services, dan komunitas Texas Tech. Ia juga menyebut ingin kembali ke kampus di Lubbock dan berharap mendapat dukungan berkelanjutan, termasuk melalui Center for Students in Addiction Recovery milik kampus.

Kisah Sorsby menjadi contoh paling menonjol tentang atlet perguruan tinggi yang tumbuh di era judi legal yang kian meluas. Di era ini, iklan taruhan hadir di mana-mana dan membujuk publik dengan ilusi bahwa menang adalah sesuatu yang realistis.

Secara matematis, sebagian besar pemain tidak bisa menang dalam jangka panjang karena sportsbook mengambil margin keuntungan yang terstruktur. Jika pemain bisa menang konsisten, industri tidak akan mencetak laba besar dan tidak akan menggelontorkan dana promosi untuk menarik lebih banyak orang masuk ke arus kekalahan.

Di Amerika Serikat, ekspansi taruhan olahraga legal setelah putusan Mahkamah Agung 2018 memicu ledakan pasar dan pemasaran agresif. Berbagai laporan kesehatan masyarakat dan riset akademik belakangan juga menyoroti korelasi antara paparan iklan, kemudahan akses aplikasi, dan meningkatnya risiko perilaku judi bermasalah pada usia muda.

Dalam konteks atlet kampus, risikonya berlapis karena mereka hidup di lingkungan kompetitif, penuh tekanan performa, dan dekat dengan budaya statistik serta prediksi. Ketika taruhan menjadi “normal” di ruang sosial, batas antara hiburan dan kebiasaan kompulsif cepat mengabur.

Pernyataan Sorsby menekankan dua hal penting: pemulihan adalah proses panjang, dan stigma membuat banyak orang terlambat mencari bantuan. Ia bahkan ingin menjadi sumber dukungan bagi mahasiswa-atlet lain yang bergulat dengan kecanduan judi dan isu kesehatan mental.

Jika NCAA ingin serius melindungi integritas pertandingan, fokusnya tidak boleh berhenti pada hukuman, skorsing, atau larangan bermain. Pertanyaan yang lebih tajam adalah mengapa ekosistem kampus dan olahraga modern membiarkan iklan dan promosi taruhan menempel begitu dekat pada audiens muda yang rentan.

Di satu sisi, atlet diminta menjadi teladan dan mematuhi aturan ketat soal perjudian. Di sisi lain, industri taruhan diberi panggung besar lewat siaran, sponsor, dan narasi “taruhan pintar” yang seolah setara dengan pengetahuan olahraga.

Kasus ini memperlihatkan paradoks: publik mengecam individu ketika jatuh, tetapi jarang mengaudit mesin yang mendorong perilaku itu. Ketika pemasaran mengubah taruhan menjadi kebiasaan harian, maka “pilihan pribadi” tidak lagi berdiri sendiri tanpa pengaruh struktural.

Jalan keluar yang lebih manusiawi adalah kombinasi aturan tegas dan kebijakan kesehatan publik. Kampus perlu memperluas skrining dini, konseling, dan literasi risiko, sementara regulator harus meninjau batas iklan, bonus, dan desain aplikasi yang memicu perilaku adiktif.

Sorsby mengatakan ia menyesal telah mengecewakan banyak orang dan siap menjalani kerja keras pemulihan. Ia juga berharap pengalamannya bisa mengurangi stigma agar lebih banyak orang berani bicara dan mencari pertolongan.

Namun kisah ini seharusnya tidak berhenti sebagai drama individu, melainkan cermin bagi budaya olahraga yang menormalisasi taruhan sebagai hiburan tanpa konsekuensi. Jika kemenangan jangka panjang memang hampir mustahil bagi mayoritas pemain, mengapa kita terus menjual mimpi itu kepada generasi paling muda?

(Orbit dari berbagai sumber, 3 Juni 2026)