Kasus HIV/AIDS Palu Naik, Skrining Menguat Tapi Risiko Membesar
ORBITINDONESIA.COM – Kasus HIV/AIDS Palu kembali naik, dari 2022 menjadi 2024 kasus hanya dalam dua minggu, dan angka itu disebut Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhidin sebagai sinyal yang tidak boleh dianggap biasa. Di hadapan mahasiswa Universitas Tadulako, ia mengakui skrining membaik, tetapi beban sosial dan kesehatan publik ikut membesar.
Kenaikan dua kasus dalam dua minggu tampak kecil di permukaan, tetapi ia menegaskan ada dinamika penularan yang masih berlangsung di Kota Palu. Palu juga disebut menempati posisi pertama di Sulawesi Tengah dalam jumlah kasus HIV/AIDS, sehingga tekanan pada layanan kesehatan dan edukasi menjadi berlapis.
Simposium Edukasi HIV/AIDS di Universitas Tadulako menghadirkan Imelda dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu dr. Rochmat Jasin sebagai narasumber. Forum kampus itu memperlihatkan bahwa isu HIV/AIDS Palu tidak bisa lagi diposisikan sebagai urusan klinik semata, melainkan urusan perilaku, pengetahuan, dan kebijakan.
Imelda memotret Palu sebagai ibu kota provinsi dan pusat aktivitas, tempat perantau dan mahasiswa bertemu dalam ritme kota yang cepat. Dalam logika epidemiologi, mobilitas tinggi sering memperlebar jejaring kontak, dan itu menuntut respons yang lebih presisi daripada sekadar imbauan umum.
Ia juga menyebut temuan yang mengguncang, yakni adanya penderita yang terpapar sejak usia sekolah dasar. Kalimat itu mengubah fokus dari stigma ke pertanyaan yang lebih keras, yaitu bagaimana perlindungan anak, literasi keluarga, dan deteksi dini bekerja di lapangan.
Pernyataan Imelda bahwa ia “senang” karena skrining berjalan, tetapi “sedih” karena angkanya besar, menyiratkan paradoks yang sering muncul dalam data kesehatan publik. Ketika tes makin luas, angka terdeteksi naik, namun itu juga berarti ada reservoir kasus yang selama ini tersembunyi.
Dalam kerangka program HIV modern, peningkatan temuan kasus seharusnya diikuti percepatan “test and treat”, yaitu segera masuk terapi antiretroviral agar viral load turun dan risiko penularan menurun. Prinsip global yang sering dirujuk adalah “Undetectable = Untransmittable (U=U)”, yang menegaskan terapi efektif dapat mencegah penularan seksual ketika viral load tidak terdeteksi.
Namun, data kasus yang naik tanpa narasi tentang cakupan terapi, retensi pengobatan, dan putus obat akan menyisakan lubang besar dalam kebijakan. Publik butuh jawaban tentang berapa banyak yang sudah terhubung ke layanan, berapa yang rutin minum obat, dan berapa yang hilang dari pemantauan.
Kota dengan arus mahasiswa dan pekerja pendatang memerlukan strategi berbasis lokasi dan komunitas, bukan hanya kampanye massal. Intervensi yang lazim di banyak daerah adalah layanan tes cepat yang mudah diakses, konseling rahasia, serta rujukan terapi yang tidak berbelit.
Imelda menyebut pelibatan duta dan relawan yang turun ke masyarakat untuk sosialisasi bahaya dan pencegahan HIV/AIDS. Tantangannya adalah memastikan pesan yang dibawa tidak berhenti pada “takut HIV”, melainkan naik kelas menjadi literasi risiko, penggunaan kondom, pencegahan penularan dari ibu ke anak, dan penolakan stigma.
Stigma adalah variabel yang sering tak terlihat, tetapi sangat menentukan angka kasus yang “tampak”. Ketika orang takut dihakimi, mereka menunda tes, menyembunyikan status, dan datang terlambat, sehingga penularan diam-diam bisa berlanjut.
Klaim Palu sebagai peringkat pertama di Sulawesi Tengah juga perlu dibaca hati-hati. Peringkat bisa berarti penularan lebih tinggi, tetapi bisa juga berarti deteksi lebih aktif, sementara daerah lain masih underreporting.
Karena itu, indikator pembanding yang lebih adil adalah laju kasus per 100.000 penduduk, tren tahunan, dan proporsi kasus baru. Tanpa itu, diskusi mudah terjebak pada sensasi angka absolut, bukan pemahaman risiko yang sebenarnya.
Di sisi lain, temuan paparan sejak usia SD memunculkan dugaan jalur penularan yang berbeda dari stereotip umum. Ia bisa terkait penularan dari ibu ke anak, kekerasan seksual, atau faktor medis, dan setiap jalur menuntut respons yang berbeda.
Jika penularan ibu ke anak masih terjadi, maka layanan ANC, tes HIV pada ibu hamil, dan terapi pencegahan harus diperkuat. Jika ada unsur kekerasan, maka sistem perlindungan anak dan penegakan hukum harus masuk sebagai bagian dari respons HIV/AIDS Palu.
Pidato di kampus adalah sinyal bahwa pemerintah ingin menggeser isu HIV/AIDS Palu ke ruang publik yang lebih rasional. Namun, ajakan kolaborasi akan terdengar normatif bila tidak disertai peta masalah yang transparan dan target yang dapat diukur.
Mahasiswa diminta menjadi agen edukasi, tetapi mahasiswa juga kelompok yang rentan terhadap misinformasi, tekanan sosial, dan perilaku berisiko. Karena itu, kampus perlu menyediakan layanan konseling kesehatan reproduksi yang aman, non-menghakimi, dan mudah diakses.
Pemerintah daerah juga perlu berani mengubah bahasa kampanye dari moralistik menjadi ilmiah dan empatik. HIV bukan hukuman sosial, melainkan masalah kesehatan yang bisa dikendalikan dengan tes, terapi, dan pencegahan yang konsisten.
Di titik ini, “dua kasus” bukan sekadar dua nama dalam laporan. Ia adalah pengingat bahwa setiap keterlambatan tes, setiap putus obat, dan setiap stigma yang dibiarkan, bisa melahirkan rantai penularan baru yang tidak terlihat.
Jika Palu benar menjadi pusat aktivitas, maka Palu juga harus menjadi pusat inovasi respons HIV. Kota ini bisa memimpin dengan layanan yang ramah, data yang terbuka, dan program yang mengukur dampak, bukan hanya jumlah kegiatan.
Kenaikan kasus HIV/AIDS Palu dari 2022 ke 2024 dalam dua minggu mengandung dua pesan sekaligus, yaitu skrining bergerak dan risiko belum padam. Tugas berikutnya adalah memastikan setiap kasus baru tidak berhenti pada angka, tetapi segera masuk layanan, terlindungi dari stigma, dan tidak menularkan lagi.
Kolaborasi yang diminta Imelda akan bermakna jika kampus, komunitas, dan pemerintah menyepakati satu hal, yakni kebenaran ilmiah harus lebih keras daripada bisik-bisik penghakiman. Jika kita bisa membuat orang berani tes, patuh terapi, dan saling melindungi, apakah Palu siap mengubah “peringkat pertama” menjadi “contoh terbaik” dalam penanggulangan HIV/AIDS?
(Orbit dari berbagai sumber, 11 Juni 2026)