Vape dan Prediabetes: Meta-Analisis Ungkap Risiko, Bukan Aman

Prohealth.id

Prohealth.id

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Vape dan diabetes kembali diperdebatkan setelah sejumlah media menulis “vape tidak terbukti menyebabkan diabetes”. Namun meta-analisis internasional yang dijadikan rujukan justru menemukan peningkatan risiko prediabetes dan resistensi insulin pada pengguna vape eksklusif. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT) menilai publik menerima gambaran yang timpang karena pemberitaan banyak mengutip siaran pers Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI). Narasi yang mengemuka: belum ada bukti ilmiah vape menyebabkan diabetes, sehingga dianggap aman. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Rujukannya adalah meta-analisis Adebisi dkk berjudul “Association between electronic cigarette use and prediabetes, diabetes, and insulin resistance” di Internal and Emergency Medicine (Juni 2026). Meta-analisis ini menggabungkan temuan berbagai studi, sehingga seharusnya dibaca lengkap, bukan dipetik satu angka. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Di saat yang sama, BRIN memantik kontroversi melalui pernyataan bahwa indikator terkait diabetes ditemukan pada 100 persen sampel pengguna vape yang diuji. Klaim ini memicu bantahan dan pengaburan, padahal isu utamanya adalah risiko gangguan metabolik sejak fase awal. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Dalam kajian Adebisi dkk, pengguna vape eksklusif memiliki peluang sekitar 34 persen lebih tinggi mengalami prediabetes dibanding yang tidak pernah menggunakan vape. Pengguna vape eksklusif juga memiliki peluang sekitar 37 persen lebih tinggi mengalami resistensi insulin. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Prediabetes dan resistensi insulin adalah “lampu kuning” sebelum diabetes tipe 2. Kondisi ini sering tidak bergejala, tetapi menandai gangguan pengaturan gula darah yang bisa memburuk perlahan. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Meta-analisis itu juga mencatat pengguna ganda, yaitu vaping sambil tetap merokok, memiliki peluang sekitar 23 persen lebih tinggi mengalami diabetes. Temuan ini relevan di Indonesia karena praktik dual use masih jamak dan sering dinormalisasi. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Para peneliti bahkan menyarankan dokter mempertimbangkan pemantauan gula darah pada pengguna vape, terutama yang juga merokok. Rekomendasi klinis seperti ini jarang muncul jika risikonya dianggap nihil. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Komnas PT menyoroti satu angka yang kerap dipakai untuk menyimpulkan “aman”, yakni 1,04 pada pengguna vape saja untuk diabetes. Angka di atas 1 berarti ada kecenderungan risiko meningkat, hanya saja belum signifikan secara statistik sehingga kesimpulannya semestinya “belum pasti”, bukan “tidak berbahaya”. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Komnas PT juga menekankan bahwa rentang hasil perhitungan masih memungkinkan kenaikan risiko diabetes hingga 16 persen. Ini bukan detail kecil, karena publik sering mengartikan “tidak signifikan” sebagai “tidak ada risiko”. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Di luar statistik, jurnal tersebut merangkum bukti laboratorium tentang nikotin yang dapat mengganggu kerja insulin dan merusak sel beta pankreas. Sel beta pankreas adalah pabrik insulin tubuh, sehingga gangguan berulang berpotensi menumpuk menjadi masalah metabolik. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Ringkasan studi hewan dalam kajian itu juga mengaitkan paparan uap vape dengan gangguan pengolahan gula darah dan perlemakan hati. Ini memperkuat dugaan bahwa efeknya tidak berhenti di paru-paru, tetapi merembet ke sistem metabolik. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Komnas PT turut menyoroti isu independensi dan potensi konflik kepentingan dalam ekosistem riset Tobacco Harm Reduction (THR). Salah satu nama yang disebut adalah Riccardo Polosa dari University of Catania, yang dikenal aktif dalam penelitian dan advokasi THR. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Mereka juga mengingatkan tentang Global Action to End Smoking (GAES), sebelumnya Foundation for a Smoke-Free World (FSFW), yang didirikan dengan pendanaan Philip Morris International. Informasi afiliasi dan pendanaan tidak otomatis membatalkan riset, tetapi penting untuk menilai potensi bias saat hasilnya dipakai memengaruhi kebijakan. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Di titik ini, persoalannya bukan sekadar “vape menyebabkan diabetes atau tidak”. Persoalannya adalah bagaimana temuan risiko prediabetes dan resistensi insulin dipangkas dari pemberitaan, lalu diganti dengan kalimat yang terdengar menenangkan. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Kalimat “belum terbukti menyebabkan diabetes” terdengar ilmiah, tetapi bisa menjadi alat pemasaran jika dipakai tanpa konteks. Publik akhirnya mendengar satu pesan sederhana: vape aman, padahal data menunjukkan sinyal risiko metabolik yang konsisten. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Risky Kusuma Hartono dari Komnas PT menegaskan, “Secara akademis, belum terbuktinya vape menyebabkan diabetes bukan berarti vape aman.” Pesan ini penting karena jurnalisme kesehatan seharusnya menerjemahkan ketidakpastian ilmiah secara jujur, bukan mengubahnya menjadi kepastian yang menguntungkan industri. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Tulus Abadi, Sekjen Komnas PT, memperingatkan bahaya ketika riset dikutip sebagian dan disebarluaskan berulang. Ia menekankan risiko publik “digiring” untuk percaya vape tidak berisiko, lalu kebijakan ikut melunak demi kepentingan bisnis. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Kontroversi BRIN seharusnya menjadi momentum memperbaiki standar transparansi, bukan ajang saling meniadakan. Komnas PT sendiri mendukung BRIN membuka metode dan data, termasuk jumlah sampel, kelompok pembanding, dan indikator yang diperiksa, agar temuan bisa diuji publik. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Dalam konteks perlindungan kesehatan masyarakat, prinsip kehati-hatian layak dipakai saat sinyal risiko sudah muncul di prediabetes dan resistensi insulin. Apalagi nikotin dan paparan zat berbahaya lain pada vape tidak pernah dirancang untuk aman bagi organ manapun. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Komnas PT juga mendukung rencana BNN melarang rokok elektronik karena potensi penyalahgunaan untuk konsumsi narkotika melalui cairan mengandung zat terlarang. Kebijakan kesehatan publik sering kalah oleh narasi “lebih aman”, padahal spektrum risikonya melampaui satu penyakit. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Perdebatan vape dan diabetes seharusnya tidak berhenti pada satu judul clickbait yang menenangkan. Data meta-analisis menunjukkan sinyal yang perlu diwaspadai: prediabetes, resistensi insulin, dan risiko lebih tinggi pada pengguna ganda. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Media punya tanggung jawab memeriksa jurnal secara utuh, bukan menyalin siaran pers industri. Pemerintah juga perlu mengunci kebijakan pada bukti lengkap, bukan pada potongan kesimpulan yang terdengar aman. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)

Pertanyaan akhirnya sederhana dan mendesak: jika tanda awal gangguan gula darah sudah terlihat, mengapa kita menunggu diabetes datang untuk bertindak. Mungkin yang paling berbahaya dari vape bukan hanya uapnya, tetapi ilusi aman yang dibangun dari kutipan setengah riset. (Orbit dari berbagai sumber, 22 Oktober 2026)