Denny JA: Dan Datanglah Abad Serba Listrik

Ilustrasi dunia serba listrik.

Ilustrasi dunia serba listrik.

Opini

Menghadiri Konferensi Gastech di Bangkok, 14–17 September 2026 (6, habis)

DAN DATANGLAH ABAD SERBA LISTRIK

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Bayangkan sebuah kota pada masa depan dalam waktu sangat dekat. Mobil melaju tanpa bensin. Kereta bergerak tanpa diesel. Dapur tanpa api. Gedung mengatur suhu, cahaya, dan udara dengan listrik.

Pabrik semakin meninggalkan pembakaran langsung. Robot bekerja berdampingan dengan manusia. Ribuan server menjalankan kecerdasan buatan. Bahkan uang berpindah sebagai denyut digital dalam sepersekian detik.

Belum pernah sebelumnya sebuah peradaban menyerahkan begitu banyak fungsi kehidupan kepada satu bentuk energi: listrik. Kota itu seperti makhluk raksasa dengan miliaran saraf, semuanya dialiri elektron.

Lalu bayangkan listrik berhenti. Dalam sekejap, kota paling maju dapat berubah menjadi kota yang paling tak berdaya.

-000-

Hari keempat konferensi Gastech di Bangkok, saya membaca kembali beberapa paper. Temanya berbeda, tetapi seperti banyak sungai, semuanya bermuara pada samudra yang sama.

Kita memasuki apa yang disebut International Energy Agency sebagai Age of Electricity. Permintaan listrik global diperkirakan tumbuh rata-rata 3,6 persen per tahun sepanjang 2026–2030.

Menurut IEA, lima tahun mendatang akan menambah sekitar 50 persen lebih banyak permintaan listrik dibanding lima tahun sebelumnya, jauh lebih cepat daripada pertumbuhan kebutuhan energi keseluruhan.

Mengapa?

Semakin banyak kebutuhan manusia berpindah dari pembakaran langsung menuju elektron. Kendaraan menjadi elektrik. Mesin menjadi elektrik. Pendinginan meningkat. Industri semakin otomatis. Rumah semakin dipenuhi perangkat listrik.

Elektrifikasi bahkan memasuki jantung industri LNG. Di Hammerfest LNG milik Equinor di Norwegia, tiga kompresor pendingin utama digerakkan motor listrik raksasa berkapasitas sekitar 65 megawatt per unit.

Perubahan kedua datang dari dunia yang tampaknya tidak berhubungan dengan energi: kecerdasan buatan. Namun AI ternyata bukan hanya revolusi algoritma. Ia juga revolusi listrik.

Data center tampak seperti awan tanpa berat. Padahal di balik cloud berdiri chip, server, transformer, pembangkit, baterai, sistem pendingin, air, kabel, dan jaringan.

Ada ironi besar zaman ini. Semakin virtual kehidupan manusia, semakin besar tubuh fisik yang menopangnya. Kecerdasan buatan ternyata juga harus makan listrik.

Data center membutuhkan listrik tanpa henti. Sementara itu, pembangkit, jaringan transmisi, substasiun, transformer, dan berbagai perizinan sering membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun.

Karena itu, perlombaan AI perlahan juga menjadi perlombaan memperoleh elektron tepat waktu. Talenta digital saja tidak cukup jika energi yang menghidupkannya datang terlambat.

Perubahan ketiga jauh lebih manusiawi. Ketika keluarga menjadi lebih makmur, mereka membeli kenyamanan. Di Asia yang panas, salah satu simbol paling sederhana adalah pendingin udara.

Mereka tidak merasa sedang meningkatkan electricity demand. Mereka hanya ingin anak-anak tidur tanpa berkeringat. Di balik setiap megawatt, ternyata selalu tersembunyi aspirasi manusia.

-000-

Ketika semuanya semakin elektrik, makna listrik sendiri berubah. Ia berhenti menjadi sekadar komoditas yang kita bayar setiap bulan. Ia menjadi sistem saraf peradaban.

Ketika listrik padam, bukan hanya lampu yang mati. Server berhenti. Pembayaran digital terganggu. Lift terdiam. Pabrik kehilangan produksi. Rumah sakit beralih menuju generator.

Semakin berhasil elektrifikasi, semakin besar ketergantungan kepada listrik. Kemajuan membawa paradoksnya sendiri. Peradaban menjadi semakin canggih, tetapi sekaligus semakin rapuh terhadap gangguan elektron.

Karena itu, tiga kata yang berulang di Gastech memperoleh makna baru: reliable, secure, resilient. Energi masa depan tidak cukup hanya bersih. Ia harus tersedia setiap saat dibutuhkan.

Batas antara industri energi dan industri digital juga mulai menghilang. LNG, pembangkit, jaringan, data center, storage, dan cooling semakin dapat dirancang sebagai satu ekosistem terpadu.

Bayangkan gas memasuki sebuah kawasan industri. Sebagian menjadi LNG. Sebagian menghasilkan listrik. Panas yang dahulu dibuang dimanfaatkan kembali. Listrik kemudian menghidupkan data center.

Di sini lahir perubahan filosofis. Pertanyaan lama berbunyi: berapa banyak energi yang kita miliki? Pertanyaan baru: seberapa cerdas kita menggunakan setiap joule yang tersedia?

Bahkan sesuatu yang dahulu disebut limbah memperoleh kehidupan kedua. Panas buangan dapat menjadi pendinginan. Cold energy LNG dapat dimanfaatkan. Gas yang dahulu dibakar dapat digunakan kembali.

Di Oman, misalnya, Oman LNG merancang Cold Gas Recovery yang mendaur ulang gas dingin dari operasi turnaround, gas yang sebelumnya menuju flare, dan mengembalikannya lewat sistem Boil Off Gas.

Program itu diperkirakan mencegah sekitar 60 hingga 80 ton gas dingin dibakar setiap hari, dan menghemat sekitar 3.300 ton CO₂ ekuivalen per tahun, tanpa menghilangkan jalur flare sebagai pengaman.

Energi terbuang seperti uang yang tercecer di lantai pabrik. Selama ini manusia terlalu sibuk menggali bumi sehingga lupa membungkuk untuk mengambil apa yang sudah jatuh.

Mungkin dalam ekonomi energi baru, waste hanyalah nama sementara bagi sesuatu yang belum cukup cerdas kita gunakan. Kemajuan juga berarti berhenti membuang tanpa berpikir.

-000-

Namun di balik optimisme itu terdapat peringatan penting. Elektrifikasi tidak otomatis berarti dekarbonisasi. Elektron tidak membawa warna ketika memasuki motor. Kebersihannya ditentukan oleh bagaimana ia dilahirkan.

Jika listrik berasal dari pembangkit sangat kotor, emisi hanya berpindah alamat. Cerobongnya mungkin menghilang dari halaman rumah, tetapi karbonnya tetap menemukan jalan menuju langit.

Karena itu, elektrifikasi harus berjalan bersama pembersihan pembangkitan. Renewables, geothermal, hydro, nuclear, storage, gas efisien, dan CCUS dapat memainkan peranan berbeda dalam transisi ini.

Kontra-argumennya layak didengar. Tidak semua proses mudah dielektrifikasi. Grid membutuhkan waktu. Mineral kritis terbatas. Modal terbatas. Ketergantungan listrik juga melahirkan kerentanan baru.

Grid adalah jaringan jalan raya bagi listrik. Isinya antara lain kabel transmisi, gardu induk, jaringan distribusi, dan sistem pengendali yang membawa listrik dari pembangkit menuju rumah, kantor, pabrik, sampai data center.

Pembangkit boleh berlimpah, tetapi jika grid lemah, listrik itu seperti makanan yang menumpuk di gudang karena tidak ada jalan untuk mengantarkannya kepada mereka yang membutuhkan.

Gangguan jaringan, cuaca ekstrem, serangan siber, atau kegagalan sistem dapat menjalar cepat. Semakin banyak telur diletakkan dalam keranjang elektron, semakin kokoh keranjangnya harus dibuat.

Namun keberatan itu tidak membatalkan arah perubahan. Jawabannya bukan menghentikan elektrifikasi, melainkan membuatnya bertahap, beragam, semakin bersih, aman, efisien, dan jauh lebih tangguh.

Saya justru memperoleh satu kesadaran dari berbagai diskusi di Bangkok. Ketika molekul digantikan elektron, risiko tidak menghilang begitu saja. Risiko hanya berganti bahasa dan alamat.

Maka Abad Serba Listrik tidak membutuhkan pembangkit semata. Ia membutuhkan grid, storage, redundancy, cyber security, engineering, regulasi, dan manusia yang mampu melihat semuanya sebagai satu sistem.

Storage adalah tempat menyimpan listrik untuk digunakan kemudian, terutama baterai skala besar.

Matahari menghasilkan banyak energi pada siang hari, misalnya, tetapi kebutuhan listrik tetap tinggi ketika malam datang.

Storage menyimpan kelebihan siang untuk membantu memenuhi kebutuhan malam. Ia seperti tabungan energi.

Redundancy adalah sistem cadangan. Jika satu jalur listrik, pembangkit, gardu, atau perangkat mengalami gangguan, ada jalur atau fasilitas lain yang dapat mengambil alih.

Pesawat memiliki sistem cadangan karena kegagalan satu komponen tidak boleh menjatuhkan seluruh pesawat. Sistem listrik modern membutuhkan prinsip serupa.

-000-

Apa artinya bagi Indonesia? Pertumbuhan konsumsi listrik jangan dilihat sebagai beban semata. Ia juga dapat menjadi denyut industrialisasi, digitalisasi, urbanisasi, dan meningkatnya kesejahteraan.

Namun, transisi ini menuntut keberanian finansial. Indonesia harus menyelesaikan dilema kelebihan kapasitas fosil, menata ulang struktur subsidi energi, serta menurunkan biaya pembangkitan agar listrik bersih tetap terjangkau bagi masyarakat.

Indonesia mempunyai kombinasi istimewa: pasar besar, gas, geothermal, hydro, solar, mineral kritis, industri berkembang, serta ekonomi digital yang akan semakin lapar terhadap listrik.

Tetapi kekayaan sumber daya tidak otomatis menjadi keunggulan. Elektron dari pembangkit kehilangan nilai ekonominya jika jaringan tidak mampu mengantarkannya ketika dan di mana ia dibutuhkan.

Di sinilah pekerjaan raksasa Indonesia: grid. Kita dapat memiliki matahari, gas, geothermal, baterai, dan data center, tetapi seluruh revolusi tetap dapat tersandung kabel yang lemah.

Maka, reformasi regulasi, skema pembiayaan transformatif, serta insentif investasi swasta menjadi kunci mutlak guna memodernisasi jaringan listrik nasional secara adil, efisien, dan berkelanjutan.

Kabel memang tidak semegah kilang. Transformer tidak sepopuler AI. Gardu jarang menjadi berita utama. Tetapi justru infrastruktur sunyi inilah yang akan menopang seluruh ekonomi baru.

Indonesia menghadapi persoalan tambahan karena merupakan negara kepulauan. Kita memerlukan modernisasi jaringan, storage, demand response, interkoneksi ekonomis, dan sistem lokal tangguh sesuai karakter wilayah.

Geothermal dan hydro menjadi kartu strategis. Ketika solar dan wind semakin besar, sumber rendah karbon yang relatif stabil memperoleh nilai yang melampaui harga setiap kilowatt-hour.

Gas juga dapat menjadi jembatan bagi fleksibilitas dan firm power. Tetapi masa depannya menuntut efisiensi tinggi, methane leakage rendah, pengurangan flaring, dan carbon intensity yang transparan.

Pelajaran lain dari Gastech terasa sangat relevan. Jangan lagi membangun aset sebagai pulau. Pembangkit, LNG, industri, data center, storage, dan jaringan harus dipikirkan bersama sejak awal.

Yang dimaksud “membangun aset sebagai pulau” bukan pulau secara geografis. Itu metafora untuk membangun satu proyek secara sendiri-sendiri, tanpa sejak awal memikirkan hubungannya dengan proyek dan infrastruktur lain.

Indonesia juga jangan puas menjadi konsumen elektrifikasi. Kita memiliki nikel, tembaga, dan mineral strategis. Tetapi menggali isi bumi hanyalah anak tangga pertama penciptaan nilai.

Tangga berikutnya lebih menentukan. Mineral menjadi material. Material menjadi baterai. Baterai menjadi sistem. Sistem menjadi teknologi. Teknologi kemudian berubah menjadi pengetahuan dan inovasi baru.

Di sanalah industrialisasi memperoleh kedalaman sejarahnya: Indonesia bergerak dari bangsa yang terutama mengekspor isi bumi menjadi bangsa yang semakin mampu mengekspor isi kepala.

-000-

Dua buku membantu memahami perubahan ini. Pertama, How the World Really Works, karya Vaclav Smil, diterbitkan Viking pada 2022, mengingatkan kita kepada fondasi material peradaban.

Smil menunjukkan dunia digital tetap mempunyai tubuh fisik. Energi, baja, semen, pupuk, mesin, mineral, transportasi, dan infrastruktur tetap membatasi sekaligus memungkinkan ambisi manusia.

Pelajarannya jelas. Elektrifikasi bukan sekadar mengumumkan EV (Electric Vehicle), atau data center. Kita membutuhkan pembangkit, kabel, transformer, storage, manufaktur, modal, mineral, serta pekerja terampil dalam jumlah besar.

Masa depan boleh semakin digital. Tetapi hukum termodinamika tidak pernah pindah ke cloud. Di balik setiap mimpi elektronik, tetap berdiri mesin, pabrik, tambang, dan manusia.

Buku kedua, Electrify: An Optimist’s Playbook for Our Clean Energy Future, karya Saul Griffith, diterbitkan The MIT Press pada 2021, menawarkan perspektif yang lebih optimistis.

Intinya sederhana: electrify everything. Pindahkan sebanyak mungkin penggunaan energi menuju listrik, kemudian bersihkan sumber pembangkitan listrik itu secara sistematis, luas, dan semakin cepat.

Kekuatan gagasan Griffith terletak pada kesederhanaannya. Daripada membakar bahan bakar pada jutaan titik, semakin banyak aktivitas dipusatkan pada listrik yang sumbernya terus dapat dibersihkan.

Tetapi zaman menambahkan catatan penting kepada optimisme itu: electrify everything hanya mungkin jika kita sanggup menyediakan electricity for everything, secara andal, terjangkau, dan bersih.

-000-

Malam terakhir di Bangkok, saya memandang gedung-gedung menyala seperti gugusan bintang buatan. Di balik setiap jendela, sungai elektron mengalir tanpa suara, menghidupkan sebuah peradaban.

Abad ke-20 dibentuk oleh perebutan molekul energi. Abad ke-21 semakin ditentukan kemampuan mengubah molekul menjadi elektron, lalu mengatur elektron itu dengan jauh lebih cerdas.

Tantangan Indonesia bukan memilih kemajuan atau kelestarian. Tantangannya membuat jutaan keluarga naik kelas, industri berkembang, AI tumbuh, tanpa meminta langit membayar seluruh tagihannya.

Kemajuan bukan meminta keluarga sederhana mematikan AC yang baru mampu mereka beli. Kemajuan adalah membuat kesejukan itu hadir tanpa mewariskan bumi yang semakin demam.

Dan datanglah Abad Serba Listrik, ketika kemajuan bangsa semakin ditentukan bukan oleh energi yang tersimpan di bawah tanah, tetapi oleh kecerdasannya menyalakan masa depan.

(Di Icon Siam, Bangkok, 18 September 2026)

REFERENSI

International Energy Agency, Electricity 2026: Executive Summary, IEA, Paris, 2026.

International Energy Agency, Electricity 2026: Demand, IEA, Paris, 2026.

Oman LNG, Transforming Flaring into Opportunity: Energy Efficiency and Sustainability at OLNG, Gastech 2026 Poster Session, Bangkok, 2026.

Gas Processing & LNG, All-electric LNG maximizes process control in the Arctic, tentang Hammerfest LNG Equinor, 2020.

Vaclav Smil, How the World Really Works: The Science Behind How We Got Here and Where We're Going, Viking, 2022.

Saul Griffith, Electrify: An Optimist's Playbook for Our Clean Energy Future, The MIT Press, 2021.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA's World.

https://www.facebook.com/share/19DzVjSkuo/?mibextid=wwXIfr