Direktur Keuangan Ottumwa Mundur, Soroti Budaya Kerja Buruk

KYOU-TV

KYOU-TV

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Direktur Keuangan Ottumwa, Cole O’Donnell, mengundurkan diri dan menyebut budaya kerja buruk sebagai pemicu utama. Ia menegaskan lingkungan kerja di Balai Kota menjadi “tidak sehat” karena perilaku sebagian anggota Dewan Kota yang dinilainya merusak kepercayaan staf.

Pengunduran diri itu dijadwalkan efektif 19 Juni, dan disampaikan melalui surat yang bernada tegas. O’Donnell menulis bahwa “satu-satunya alasan” ia mencari pekerjaan lain adalah lingkungan kerja yang tidak sehat yang “dipupuk” oleh Dewan Kota saat ini.

Ia menggambarkan pola yang berulang, mulai dari komentar langsung kepada pegawai hingga pernyataan di rapat, media sosial, dan ke publik. Menurutnya, ada anggota dewan yang “secara aktif bekerja untuk melemahkan staf,” sehingga relasi kerja yang seharusnya kolaboratif berubah menjadi arena saling curiga.

O’Donnell juga menyebut dua pegawai kota lain baru-baru ini keluar dengan alasan serupa. Ia sendiri baru bergabung dengan pemerintah kota sejak 2024, sehingga kepergiannya terasa seperti alarm dini, bukan sekadar kisah karier yang usai.

Dalam birokrasi publik, stabilitas personel keuangan adalah fondasi tata kelola, karena mereka mengelola anggaran, kepatuhan, dan akuntabilitas. Saat pejabat kunci mundur sambil menuding budaya kerja buruk, sinyal yang muncul bukan hanya konflik internal, tetapi risiko pada kualitas pengambilan keputusan fiskal.

Surat O’Donnell menekankan kegagalan membangun “rapport dan mutual trust” antara dewan dan staf. Ini penting, karena tanpa kepercayaan, rapat anggaran mudah berubah menjadi panggung saling menyalahkan, bukan forum menguji data dan prioritas belanja.

Ia juga mengantisipasi serangan balik, dengan menulis bahwa komentarnya mungkin disebut “sour grapes” atau “burning bridges.” Namun ia menutup kalimat itu dengan klaim moral yang kuat, bahwa rekan setimnya setidaknya akan menyebutnya “jujur,” dan kejujuran semacam ini biasanya lahir dari akumulasi frustrasi.

Secara praktis, efek domino dari iklim kerja yang buruk sering muncul dalam bentuk biaya rekrutmen, hilangnya pengetahuan institusional, dan keterlambatan proyek administrasi. Ketika dua pegawai lain ikut pergi, organisasi menghadapi risiko “brain drain” yang tidak selalu tampak di laporan keuangan, tetapi terasa di layanan publik.

Fakta lain yang memperjelas arah cerita adalah langkah O’Donnell yang segera bergabung dengan City of Marshalltown sebagai Finance Director, sebagaimana ia tulis di LinkedIn. Ini memperkuat kesan bahwa ia tidak sekadar keluar tanpa tujuan, melainkan memilih lingkungan yang ia anggap lebih sehat dan profesional.

Kata kunci dalam kasus ini adalah “budaya kerja,” karena ia sering dipakai sebagai istilah kabur untuk menutupi persoalan yang lebih konkret. Namun O’Donnell justru merinci kanal-kanal tekanan, yakni komentar di rapat, media sosial, dan ruang publik, yang jika benar terjadi, dapat menciptakan rasa tidak aman psikologis bagi staf.

Dewan kota memang memiliki mandat mengawasi, mengkritik, dan mengoreksi kebijakan eksekutif. Tetapi pengawasan yang berubah menjadi delegitimasi personal, terlebih lewat media sosial, berpotensi menggerus profesionalisme dan memindahkan konflik dari ruang kebijakan ke ruang reputasi.

Di titik ini, pertanyaannya bukan siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling menjaga institusi. Jika pejabat keuangan memilih pergi karena merasa terus “diundermine,” maka publik patut bertanya apakah energi dewan diarahkan untuk memperbaiki sistem, atau sekadar memenangkan pertarungan narasi.

Pengunduran diri Direktur Keuangan Ottumwa menjadi cermin bahwa tata kelola tidak hanya soal angka, tetapi juga soal cara manusia bekerja bersama. Ketika kepercayaan runtuh, anggaran terbaik pun bisa kehilangan daya guna karena eksekusinya tersendat.

Kisah ini juga menegaskan satu hal yang sering dilupakan, bahwa budaya kerja buruk adalah “biaya tersembunyi” yang akhirnya dibayar warga lewat layanan yang melambat. Pertanyaannya kini sederhana, apakah Dewan Kota Ottumwa akan menata ulang cara berkomunikasi dan membangun kepercayaan, atau menunggu lebih banyak orang pergi terlebih dahulu.

(Orbit dari berbagai sumber, 12 Agustus 2026)