Denny JA: Mereka yang Berbeda Denganmu dalam Politik, Agama, dan Sastra, Tetap Temanmu dalam Kemanusiaan

Ilustrasi kebersamaan dalam perbedaan.

Ilustrasi kebersamaan dalam perbedaan.

Opini

MEREKA YANG BERBEDA DENGANMU DALAM POLITIK, AGAMA DAN SASTRA, TETAP TEMANMU DALAM KEMANUSIAAN

Oleh Denny JA

Di sebuah rumah sakit jauh dari tanah air, seorang penyair terbaring di ICU. Mesin membantu tubuhnya bertahan, sementara kabar tentang sakitnya menyeberangi lautan.

Orang-orang mulai mengumpulkan doa dan dana. Di antara mereka ada seseorang yang selama bertahun-tahun justru menjadi sasaran kritik keras penyair tersebut.

Saat itulah sebuah pertanyaan sederhana datang mengetuk hati: ketika seseorang sedang berjuang mempertahankan hidup, masih pentingkah kita mengingat siapa pernah menyerang siapa?

Saya merasa jawabannya tidak. Di hadapan penyakit, penderitaan, dan kematian, semua pertengkaran ideologis mendadak mengecil. Yang tersisa hanyalah seorang manusia menghadapi kerapuhannya.

Mungkin peradaban memang dimulai pada titik itu: ketika kita mampu melihat manusia di balik pendapatnya, dan menolongnya tanpa terlebih dahulu memeriksa kubu politiknya.

-000-

Banyak yang bertanya mengapa saya tergerak ikut membantu biaya pengobatan Saut Situmorang ketika ia jatuh sakit dan dirawat intensif di Guangdong, Tiongkok.

Pertanyaan itu muncul karena hubungan intelektual kami bukan hubungan yang nyaman. Saut termasuk pengkritik paling keras terhadap saya, terutama mengenai gagasan puisi esai.

Dalam ruang publik, kritiknya bukan sekadar berbeda pendapat. Ia dapat sangat tajam, personal, bahkan menggunakan bahasa yang bagi sebagian orang terasa melampaui perdebatan sastra.

Tetapi saya selalu berusaha memisahkan dua wilayah yang sebenarnya tidak harus dicampurkan: pertarungan gagasan dan penghormatan kepada manusia yang berada di balik gagasan.

Saya boleh menganggap kritik seseorang keliru. Ia pun boleh menganggap gagasan saya buruk. Kami bahkan boleh berdebat keras tentang sejarah dan masa depan sastra.

Tetapi ketika orang itu terbaring sakit, persoalannya berubah. Yang berada di hadapan kita bukan lagi seorang polemikus. Ia seorang manusia yang membutuhkan pertolongan.

Bagi saya, perbedaan sastra tidak pernah cukup besar untuk membatalkan solidaritas kemanusiaan. Tidak ada teori puisi yang lebih tinggi nilainya daripada satu kehidupan manusia.

Saya justru merasa persahabatan kemanusiaan diuji bukan ketika kita menolong orang yang menyukai kita, melainkan ketika kita mampu menolong mereka yang pernah melukai kita.

Hal serupa pernah saya rasakan mengenai Remy Sylado. Di ruang publik, Remy pernah mengkritik saya dan puisi esai dengan bahasa yang luar biasa keras.

Jejak perbedaan itu bahkan terdokumentasikan terbuka. Ia mempertanyakan kualitas intelektual dan spiritual puisi esai, dan polemik kami berkembang menjadi perdebatan publik yang tajam, berlangsung lebih dari satu bulan melalui tulisan yang saling berbalas di media dan media sosial.

Tetapi ketika Remy sakit, saya tidak melihat seorang lawan polemik. Saya melihat seorang budayawan besar Indonesia sedang memasuki salah satu masa paling rapuh hidupnya. Saya pun semampunya ikut menolongnya, mengirimkan dana.

Ketika acara mengenang kepergian Remy Sylado, saya pun diundang memberi kesaksian. Saya kirimkan videonya, yang diputar di acara itu, tentang solidaritas kemanusiaan di atas perbedaan paham budaya.

Saya belajar sesuatu dari pengalaman itu. Kita tidak perlu menghapus sejarah pertengkaran untuk melakukan kebaikan. Kita hanya perlu mengetahui kapan pertengkaran harus berhenti.

Ada saatnya manusia harus lebih besar daripada egonya sendiri. Ada saatnya tangan yang pernah menunjuk kesalahan orang lain berubah menjadi tangan yang membantu.

Saya pun tidak luput dari keliru dan ego masa lalu. Menolong bukan tanda merasa lebih benar, melainkan pengingat bahwa di hadapan kerapuhan hidup, kita semua sama-sama manusia yang sedang belajar.

Saya tidak menganggap tindakan semacam itu luar biasa. Justru saya berharap suatu hari ia menjadi sesuatu yang biasa dalam kebudayaan Indonesia.

Bayangkan Indonesia ketika lawan politik saling menjaga saat sakit, pemeluk agama berbeda saling melindungi, dan para penulis tetap bersahabat setelah polemik paling keras.

Itulah masyarakat dewasa. Perbedaan tidak dimusnahkan, kritik tidak dilarang, keyakinan tidak diseragamkan. Tetapi semuanya diletakkan di bawah satu payung bernama kemanusiaan.

-000-

Lebih dari seribu tahun lalu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib meninggalkan salah satu rumusan moral paling indah mengenai bagaimana kekuasaan memperlakukan manusia.

Pesan itu terdapat dalam suratnya kepada Malik al-Ashtar, yang diangkat memimpin Mesir. Saat itu Mesir sebuah masyarakat majemuk dengan kepentingan politik, agama, dan sosial berbeda-beda.

Ali mengingatkan bahwa rakyat terdiri dari dua golongan besar: mereka yang merupakan saudaramu dalam agama, dan mereka yang setara denganmu dalam penciptaan.

Kalimat itu revolusioner karena martabat manusia tidak diletakkan setelah kesamaan iman. Bahkan ketika iman berbeda, masih ada persaudaraan lebih elementer: sama-sama manusia.

Konteksnya bahkan bukan percakapan sentimental antarpribadi. Itu nasihat mengenai pemerintahan, kekuasaan, keadilan, belas kasih, kesalahan manusia, dan kewajiban seorang pemimpin.

Pesannya jelas. Kekuasaan tidak boleh menjadikan perbedaan identitas sebagai alasan mengurangi belas kasih. Pemerintah tidak hanya melayani mereka yang seiman dengan penguasanya.

Prinsip tersebut dapat diperluas ke kehidupan modern. Orang yang berbeda partai bukan musuh eksistensial. Orang berbeda agama bukan manusia dengan martabat lebih rendah.

Demikian pula orang yang berbeda mazhab sastra bukan lawan yang harus dimusnahkan. Gagasan boleh bertarung sekeras mungkin, tetapi manusia tidak perlu saling membenci.

Mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi, "Siapa temanmu?" Pertanyaan yang lebih dewasa adalah, "Dapatkah engkau tetap menjadi teman kemanusiaan bagi orang yang berbeda denganmu?"

-000-

Tiga hal mengapa teman dalam kemanusiaan harus diletakkan lebih tinggi dari pertengkaran politik, perbedaan agama, dan perselisihan sastra.

Pertama, karena identitas hanyalah sebagian dari manusia. Kita sering melakukan kesalahan intelektual ketika mereduksi seseorang menjadi satu label yang kebetulan sedang menonjol.

Ia disebut liberal, konservatif, Muslim, Kristen, kiri, kanan, pemerintah, oposisi, penyair lama, penyair baru, pendukung puisi esai, atau penentangnya.

Padahal manusia selalu lebih luas daripada labelnya. Ia mempunyai keluarga, ketakutan, kenangan masa kecil, kegembiraan, kehilangan, penyakit, harapan, dan akhirnya kematian.

Ketika manusia direduksi menjadi identitas kelompok, empati mengecil. Kita berhenti melihat wajah dan mulai melihat kategori. Dari sinilah dehumanisasi perlahan bermula.

Peradaban yang matang mengajarkan kemampuan sebaliknya: mengkritik identitas atau gagasan seseorang tanpa menghapus kompleksitas manusia yang hidup di balik identitas tersebut.

Kedua, karena demokrasi hanya bertahan jika lawan tetap dipandang sah. Demokrasi bukan sistem untuk menghilangkan perbedaan, melainkan mengelola perbedaan tanpa saling menghancurkan.

Hari ini kelompok kita menang. Besok mungkin kalah. Jika setiap kekalahan dianggap kehancuran eksistensial, politik berubah dari kompetisi gagasan menjadi perang identitas permanen.

Demokrasi memerlukan sesuatu yang lebih dalam daripada pemilu. Ia memerlukan budaya menerima bahwa orang baik dapat mempunyai pilihan politik yang sangat berbeda.

Kita boleh mengalahkan argumentasi lawan, memenangkan pemilu, atau mengkritik kebijakannya. Tetapi kita tidak perlu mencabut haknya untuk tetap dihormati sebagai manusia.

Ketika lawan politik sakit, mengalami bencana, atau menghadapi kematian, penderitaannya tidak berubah menjadi kurang nyata hanya karena pilihan politiknya berbeda.

Ketiga, karena kemanusiaan adalah rumah terakhir ketika semua identitas runtuh. Agama, bangsa, partai, kelas, dan kelompok penting, tetapi semuanya mempunyai batas.

Di ruang ICU, tidak ada tubuh konservatif atau liberal. Darah tidak mengenal partai. Paru-paru tidak mempunyai ideologi. Rasa sakit tidak menanyakan agama seseorang.

Kematian mempunyai cara brutal sekaligus jujur untuk mengingatkan kita bahwa manusia sebenarnya jauh lebih serupa daripada yang dibayangkan ketika sedang bertengkar.

Karena itu solidaritas kemanusiaan bukan kelemahan ideologis. Justru ia tanda kematangan: kemampuan mempertahankan keyakinan tanpa kehilangan kapasitas mencintai mereka yang berbeda.

-000-

Jonathan Sacks dalam Not in God's Name: Confronting Religious Violence menunjukkan bahaya ketika agama berubah menjadi identitas kelompok yang membelah dunia secara mutlak.

Sacks menyebut mekanisme berbahaya ketika kebaikan kepada kelompok sendiri justru melahirkan kebencian terhadap kelompok lain. Kesetiaan kemudian berubah menjadi pembenaran permusuhan.

Agama, menurut Sacks, seharusnya menjadi bagian dari penyembuhan. Jalan keluarnya bukan menghapus keyakinan, melainkan belajar melihat dunia melalui mata pihak lain.

Gagasan ini relevan jauh melampaui konflik agama. Politik dan sastra juga dapat berubah menjadi identitas kesukuan ketika perbedaan gagasan diperlakukan sebagai ancaman eksistensial.

Kedewasaan justru muncul ketika keyakinan tetap kuat, sementara kebencian ditolak. Kita dapat berkata, "Saya berbeda denganmu," tanpa berkata, "Karena itu engkau musuhku."

Kwame Anthony Appiah menawarkan fondasi filosofis serupa dalam Cosmopolitanism: Ethics in a World of Strangers, sebuah pembelaan terhadap kewajiban moral melampaui batas kelompok.

Appiah tidak meminta manusia meninggalkan identitas lokal. Kita boleh mencintai bangsa, agama, tradisi, keluarga, bahkan komunitas kecil tempat kehidupan memperoleh warna dan makna.

Tetapi identitas tersebut tidak menghapus kenyataan bahwa manusia lain, termasuk orang asing, mempunyai kehidupan yang bernilai dan karenanya menghadirkan tuntutan moral kepada kita.

Kosmopolitanisme Appiah juga bukan relativisme. Kita tetap boleh mengkritik nilai orang lain. Percakapan lintas perbedaan justru diperlukan karena ketidaksetujuan merupakan bagian kehidupan manusia.

Yang ditolak adalah tembok moral yang mengatakan penderitaan kelompok sendiri penting, sedangkan penderitaan manusia di luar kelompok kita dapat diabaikan begitu saja.

Dua buku ini bertemu pada satu titik: perbedaan tidak perlu dihapus agar solidaritas tumbuh. Kita hanya perlu menolak menjadikan perbedaan sebagai izin membenci.

-000-

Tentu ada kontra argumen. Bukankah kemurahan hati kepada pengkritik keras dapat ditafsirkan sebagai kelemahan, pencitraan, atau usaha membeli rekonsiliasi dengan bantuan material?

Bukankah masyarakat juga membutuhkan batas? Bukankah sebagian gagasan memang berbahaya, sebagian tindakan tidak bermoral, dan sebagian orang bahkan menggunakan toleransi untuk menghancurkan toleransi?

Keberatan itu valid. Humanisme tidak berarti relativisme moral. Memaafkan seseorang tidak berarti membenarkan gagasannya, sebagaimana menolong orang sakit tidak berarti menyetujui pandangan politiknya.

Kita harus tetap melawan kebohongan, diskriminasi, kekerasan, korupsi, fanatisme, dan ketidakadilan. Bahkan cinta kepada manusia terkadang mengharuskan kita menentang tindakannya dengan tegas.

Namun terdapat garis moral penting: kita menolak kesalahannya tanpa menikmati penderitaannya. Kita melawan tindakannya tanpa berharap ia kehilangan martabatnya sebagai manusia.

Di sinilah perbedaan antara peradaban dan kebencian. Peradaban membatasi tindakan manusia ketika diperlukan, tetapi tidak pernah kehilangan kesadaran bahwa pelakunya tetap manusia.

Bahkan bantuan kepada seseorang yang pernah menyerang kita tidak perlu menghapus perbedaan. Sesudah ia sembuh, perdebatan dapat dilanjutkan dengan argumen yang sama kerasnya.

Justru itulah bentuk kebebasan yang paling indah. Hari ini saya membantumu hidup. Besok kita boleh kembali berdebat mengenai dunia yang sama-sama ingin kita perbaiki.

-000-

Semakin lama hidup, saya semakin merasa kemenangan terbesar bukanlah ketika lawan akhirnya mengakui bahwa kita benar. Kemenangan terbesar terjadi di dalam diri sendiri.

Ia terjadi ketika kita memiliki cukup keyakinan untuk berbeda, tetapi sekaligus cukup luas hati untuk tidak membutuhkan kebencian sebagai bahan bakar keyakinan tersebut.

Politik akan terus membelah pilihan. Agama akan terus menawarkan jalan iman berbeda. Sastra akan terus melahirkan mazhab, pemberontakan estetika, kritik, bahkan pertengkaran.

Semua itu tidak harus ditakuti. Dunia tanpa perbedaan mungkin damai, tetapi juga mati. Kreativitas, demokrasi, ilmu pengetahuan, bahkan spiritualitas berkembang melalui perjumpaan perbedaan.

Yang harus kita takutkan adalah ketika perbedaan pendapat berubah menjadi perbedaan derajat kemanusiaan, seolah orang yang tidak bersama kita menjadi kurang layak dicintai.

Saya ingin mewariskan satu keyakinan sederhana. Jangan ukur kebesaran seseorang hanya dari cara ia memperlakukan sahabat yang memuji dan berdiri di sisinya.

Ukurlah juga bagaimana ia memperlakukan pengkritiknya ketika pengkritik itu sedang lemah, bagaimana ia memperlakukan lawannya ketika sebenarnya ia mempunyai kesempatan membalas.

Nama partai akan berganti, teori sastra akan berubah, dan perdebatan yang hari ini terasa sangat penting kelak tinggal catatan kaki. Tetapi satu tindakan kemanusiaan dapat hidup jauh lebih lama daripada kemenangan argumentasi, karena ia menyentuh sesuatu yang lebih tua daripada politik: hati manusia.

Kita tidak harus mempunyai agama yang sama untuk saling mendoakan, tidak harus memilih partai yang sama untuk saling menolong ketika kehidupan sedang runtuh, dan tidak harus menyukai karya satu sama lain untuk memahami bahwa di balik setiap perdebatan terdapat manusia yang sama-sama ingin hidup dan dicintai.

Sebab pada akhirnya, setelah semua bendera, keyakinan, dan kemenangan argumentasi selesai, kita akan menemukan kebenaran terakhir: yang berbeda dengan kita tetaplah keluarga besar kita dalam kemanusiaan.*

Jakarta, 12 Agustus 2026

REFERENSI

Jonathan Sacks. Not in God's Name: Confronting Religious Violence. John Murray Press, 2015.

Kwame Anthony Appiah. Cosmopolitanism: Ethics in a World of Strangers. W. W. Norton & Company, 2006.

-000-

Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA’s World.

https://www.facebook.com/100044483107470/posts/pfbid0gz299c6nrTQfk572QWbBS8XmzkDYV8mJiJDZbSVWmkZ6hD23XN1G76U8RkwdTxUal/?mibextid=wwXIfr