In Memoriam Guruh Soekarnoputra - Seniman Agung dengan Cinta Nasionalisme
Oleh Rokhmin Dahuri, Kader PDIP/Guru Besar Emiritus IPB University/Menteri Kelautan dan Perikanan RI (2001-2004)
ORBITINDONESIA.COM - Hari ini, Sabtu pagi, 26 September 2026, pukul 04.16 WIB, Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra bin Soekarno menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, pada usia 73 tahun.
Kabar duka ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Dr. Hasto Kristiyanto, yang menyampaikan bahwa keluarga besar partai sungguh kehilangan sosok yang selama ini dikenal sebagai seniman besar, sosok Marhaenis, dan pejuang partai.
Kepergiannya menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga besar Bung Karno dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, tetapi juga bagi seluruh dunia seni dan budaya Indonesia.
Darah Seni dan Darah Perjuangan
Guruh lahir di Istana Merdeka, Jakarta, pada 13 Januari 1953, sebagai anak bungsu dari pasangan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dan Ibu Fatmawati. Ia adalah adik kandung dari Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia. Guruh selama puluhan tahun mendampingi Ibu Megawati baik sebagai adik maupun sebagai kader setia PDI Perjuangan.
Namun berbeda dari jalur politik murni, Guruh memilih menempuh jalan yang khas: menjadi jembatan antara nasionalisme ajaran ayahnya dan ekspresi seni yang mengalir deras dalam dirinya.
Bakat seninya sudah tampak sejak kecil — bahkan sebelum usia sekolah. Guruh telah mempelajari berbagai tarian tradisional Nusantara, dan kemudian tampil di TVRI bersama kelompok musik bentukannya sendiri semasa bersekolah di Sekolah Rakyat Perguruan Cikini.
Pendidikan formalnya melintasi benua: setelah menamatkan sekolah lanjutan di Perguruan Cikini, ia sempat menempuh tiga tahun pendidikan Arkeologi di Universiteit van Amsterdam, Belanda, sebelum kembali ke Tanah Air dan mendalami Ilmu Administrasi Negara. Namun pilihan hidupnya jelas: seni dan bangsa adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.
Seniman yang Mengangkat Nusantara
Sepanjang kariernya, Guruh dikenal luas sebagai musisi, koreografer, dan seniman yang banyak mengangkat unsur budaya Nusantara ke dalam karya-karyanya. Ia memadukan musik modern dengan kekayaan tradisi — gamelan berpadu dengan orkestra, tari klasik bertemu koreografi kontemporer, lirik-lirik yang menyuarakan cinta tanah air dengan estetika yang jauh dari propaganda kaku.
Guruh membuktikan bahwa nasionalisme bisa ditulis dalam nada, dilangkahkan dalam gerak tari, dan dirasakan lewat keindahan, bukan sekadar diucapkan lewat pidato. Di antara warisan abadi yang ditinggalkannya adalah lagu-lagu yang telah menjadi bagian dari memori kolektif bangsa. Lagu berjudul Galih dan Ratna, Gita Cinta, Anak Jalanan, hingga Renjana -- adalah deretan karya yang menjadi bagian dari daftar lagu populer ciptaannya.
Selain lagu-lagu tersebut, Guruh juga dikenal sebagai penggagas pertunjukan-pertunjukan kolosal yang menggabungkan tari, musik, dan narasi sejarah bangsa dalam skala besar. Gagasan dan karyanya memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki khazanah seni yang layak berdiri sejajar di panggung internasional.
Kelompok-kelompok kesenian yang ia dirikan dan bina menjadi ruang pembelajaran generasi muda untuk mencintai budaya sendiri, sekaligus menjadi medium diplomasi budaya yang memperkenalkan wajah Indonesia ke mata dunia.
Karya-karya Guruh tidak pernah lepas dari semangat yang ia warisi dari sang ayah, Bung Karno. Baginya kebudayaan adalah akar jati diri bangsa, dan seni adalah salah satu jalan paling murni untuk menanamkan rasa cinta tanah air kepada generasi penerus. Jika Bung Karno menanamkan nasionalisme lewat pidato-pidato yang membakar semangat rakyat, Guruh menanamkannya lewat notasi, lirik, dan gerak —dengan cara yang lembut dan menyentuh jiwa.
Pendamping Setia Sang Kakak
Selain dikenal sebagai seniman, Guruh juga dikenal sebagai kader PDI Perjuangan yang setia mendampingi perjalanan politik kakaknya, Megawati Soekarnoputri, sejak partai itu berdiri hingga Megawati menjabat sebagai Presiden ke-5 Republik Indonesia.
Ia hadir bukan sebagai figur politik yang haus kekuasaan, melainkan sebagai penjaga nilai — representasi hidup dari trah Soekarno yang senantiasa mengingatkan bangsa akan pentingnya menjaga marwah kebangsaan, persatuan, dan kedaulatan budaya.
Dalam banyak kesempatan, kehadirannya di sisi Megawati menjadi simbol keberlanjutan cita-cita keluarga Soekarno: bahwa perjuangan tidak berhenti pada satu generasi, dan bahwa cinta pada Indonesia harus terus diwariskan dalam berbagai bentuk, termasuk lewat karya seni.
Nasionalisme yang Diwariskan Sang Proklamator
Tak dapat dimungkiri, jiwa Guruh adalah jiwa yang tumbuh di bawah bayang-bayang besar sang ayah, Bung Karno—sang Proklamator, penyambung lidah rakyat, yang menanamkan semangat kebangsaan pada setiap anaknya. Namun Guruh tidak sekadar mewarisi nama besar itu. Ia menerjemahkannya ke dalam bahasa yang sepenuhnya miliknya sendiri.
Jika Bung Karno berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya dan tidak melupakan sejarahnya, maka Guruh menghidupkan pesan itu lewat panggung, lewat lagu, lewat tarian yang mengangkat kisah-kisah leluhur Nusantara agar tidak lekang oleh zaman.
Guruh kerap menegaskan, bahwa seni bukan sekadar hiburan, melainkan cermin jati diri sebuah bangsa. Ia percaya bahwa kebudayaan Nusantara yang begitu kaya—dari Sabang sampai Merauke —adalah kekuatan yang harus dijaga, dirawat, dan dibanggakan; bukan sekadar diarsipkan dalam museum.
Filosofi ini yang membuat karya-karyanya selalu memiliki jiwa: bukan seni untuk seni semata, melainkan seni yang mengabdi pada tanah air, seni yang menjadi nafas nasionalisme itu sendiri.
Dalam pandangan Guruh, cinta pada Indonesia tidak harus diteriakkan dengan keras; cinta itu bisa dibisikkan lewat melodi, dipentaskan lewat gerak tubuh penari, dan diwariskan lewat setiap generasi yang menyaksikan panggungnya, lalu jatuh cinta pada budaya sendiri.
Guruh dalah bukti hidup bahwa nasionalisme dan estetika bukan dua kutub yang berlawanan, melainkan dua sisi mata uang yang sama. Dengan paradigma itulah lahir karya-karyanya yang dikagumi baik di dalam negeri maupun mancanegara
Sakit yang Panjang, Kepergian yang Tenang
Sehari sebelum kepergiannya, Jumat 25 September 2026, sejumlah kerabat dan pihak keluarga telah menyampaikan bahwa kondisi Guruh kritis dan ia tengah menjalani perawatan intensif di RS Siloam Semanggi.
Sebelumnya, ia bahkan telah menjalani perawatan selama kurang lebih empat pekan di RS Medistra, Jakarta, dengan kondisi yang sempat membaik namun kemudian kembali menurun. Pihak keluarga memilih untuk tidak mengungkapkan secara rinci penyakit yang dideritanya kepada publik, menjaga privasi hingga akhir hayat sang maestro.
Ketika kabar duka akhirnya disampaikan, keluarga besar Soekarno menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas nama Almarhum, seraya memohon doa agar Guruh diterima di sisi-Nya dengan husnul khotimah.
Jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Jakarta Selatan, tempat para pelayat—dari kalangan seniman, politisi, hingga masyarakat umum—datang memberikan penghormatan terakhir kepada seorang tokoh yang telah mendedikasikan hidupnya untuk seni dan bangsa.
Warisan yang Tak Akan Pudar
Kepergian Guruh Soekarnoputra bukan sekadar kehilangan seorang seniman, melainkan kehilangan penjaga salah satu warisan terpenting bangsa: keyakinan bahwa kebudayaan adalah fondasi identitas nasional.
Ia mewariskan lebih dari sekadar lagu dan tarian; ia mewariskan cara pandang bahwa cinta tanah air bisa diekspresikan lewat karya yang indah, yang menyentuh, dan yang mempersatukan.
Selamat jalan Mas Guruh. Karya-karyamu akan terus dinyanyikan, tarianmu akan terus dihidupkan, dan semangat nasionalismemu akan terus dibangkutkan. Bangsa ini berutang padamu atas caramu mengajarkan bahwa mencintai Indonesia bisa dilakukan dengan penuh keindahan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. ***