Serangan Drone dan Rudal Rusia-Ukraina: Kyiv Kekurangan Patriot

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan drone dan rudal Rusia kembali menghantam Ukraina, menewaskan sedikitnya tujuh orang, saat Ukraina membalas dengan serangan drone jarak jauh ke wilayah Krasnodar yang menewaskan tiga orang. Eskalasi serangan rudal balistik ke Kyiv kini menyorot krisis pertahanan udara Ukraina, terutama kelangkaan pencegat Patriot.

Menurut laporan Associated Press dari Kyiv, serangan terbaru datang hanya sehari setelah serangan Rusia ke pusat perbelanjaan di Kryvyi Rih menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai sekitar 130. Kryvyi Rih adalah kampung halaman Presiden Volodymyr Zelenskyy, yang menyebut serangan itu sebagai “double-tap” yang menyasar momen evakuasi dan penyelamatan.

Di Kyiv, Zelenskyy mengatakan satu orang tewas dan satu terluka ketika rudal balistik menghantam infrastruktur perkeretaapian pada malam hari. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim targetnya adalah depo lokomotif, sementara otoritas lokal melaporkan dua korban jiwa lain akibat serangan rudal balistik di wilayah Kyiv pada Sabtu sore.

Di Zaporizhzhia, serangan drone Rusia menewaskan satu orang pada malam hari, lalu serangan siang hari menewaskan tiga orang dan melukai 15 orang. Zelenskyy juga menyebut tiga orang terluka ketika sebuah minibus diserang di ibu kota regional Zaporizhzhia.

Di sisi lain perbatasan, otoritas Rusia di Krasnodar menyatakan tiga orang, termasuk dua anak, tewas akibat serangan drone Ukraina dan dua orang dewasa terluka. Pola saling serang ini memperlihatkan perang yang makin menembus ruang sipil, baik di Ukraina maupun Rusia.

Inti perubahan taktis Rusia adalah intensifikasi serangan rudal balistik ke Kyiv yang memanfaatkan kelangkaan pencegat Patriot buatan AS. Dalam laporan AP, Patriot disebut sebagai satu-satunya senjata Ukraina yang mampu menembak jatuh rudal balistik jenis ini, sehingga kekosongan stok menjadi celah yang bisa dieksploitasi.

Serangan besar Rusia pada musim panas ini juga tampak menjadi rutinitas, bukan lagi pengecualian. AP mencatat serangan Jumat terjadi hanya 24 jam setelah Rusia “menghantam Kyiv” dengan puluhan rudal dan drone dalam serangan malam yang menewaskan 16 orang.

Data PBB menambah bobot tren itu, dengan Kyiv disebut sebagai salah satu kota paling terpukul pada Juli, setidaknya 54 warga sipil tewas dan 202 terluka. Angka-angka ini menegaskan bahwa pusat politik dan logistik Ukraina sedang didorong ke ambang kelelahan material dan psikologis.

Di Kryvyi Rih, Zelenskyy menggambarkan serangan “double-tap” sebagai upaya memaksimalkan korban saat petugas penyelamat datang. Kebakaran disebut meluas hingga 9.000 meter persegi, dan empat orang masih hilang, menguatkan gambaran bahwa target ekonomi sipil dipilih untuk efek teror dan disrupsi.

Namun Ukraina juga mengubah kalkulasi dengan memindahkan sebagian tekanan ke wilayah Rusia melalui drone jarak jauh. AP menulis serangan ke fasilitas minyak memicu kelangkaan bahan bakar di Rusia, dan serangan ke gudang Wildberries mengguncang rasa aman publik karena menyentuh ekosistem konsumsi harian.

Outlet Astra melaporkan sebuah drone Ukraina membakar kilang minyak di wilayah Samara, sementara pejabat lokal menyebut ada kerusakan di “fasilitas industri” dan pusat logistik Ozon. Zelenskyy mengatakan pasukannya menyerang kilang Novokuibyshevsk di Samara, sekitar 1.000 kilometer dari garis depan, menandai jangkauan operasi yang kian dalam.

Presiden Vladimir Putin, dalam pernyataan yang diposting di Telegram oleh reporter TV pemerintah Pavel Zarubin, mengakui serangan ke target sipil “menyebabkan kerusakan ekonomi” dan “menimbulkan kerugian.” Tetapi ia menegaskan belum ada “titik balik” dan Kyiv “tidak akan pernah memperoleh keuntungan,” sebuah pesan ketahanan politik untuk audiens domestik.

Perang ini semakin tampak sebagai pertarungan daya tahan, bukan manuver cepat merebut wilayah. Rusia menekan Kyiv dengan rudal balistik karena tahu pertahanan udara adalah sumber daya terbatas, sementara Ukraina membalas dengan menarget rantai energi dan logistik Rusia untuk menggerus stabilitas di belakang garis depan.

Di tengah saling serang, warga sipil menjadi indikator paling jujur dari arah konflik, karena korban dan luka menunjukkan siapa yang menanggung biaya paling besar. Ketika pusat perbelanjaan, minibus, dan infrastruktur sipil masuk daftar sasaran, perang bergeser dari “medan tempur” ke “ruang hidup” masyarakat.

Kelangkaan Patriot memperlihatkan ketergantungan Ukraina pada pasokan Barat, dan itu memberi Rusia insentif untuk terus menembakkan rudal mahal demi hasil strategis yang asimetris. Sebaliknya, drone Ukraina yang lebih murah bisa memaksa Rusia mengeluarkan biaya pertahanan tambahan dan menambal kerentanan di wilayah yang sebelumnya dianggap aman.

Yang paling mengkhawatirkan adalah logika pembalasan yang makin otomatis, karena setiap pukulan memicu justifikasi untuk pukulan berikutnya. Jika kedua pihak menganggap kerusakan ekonomi dan ketakutan publik sebagai alat tawar, maka “kemenangan” berisiko didefinisikan sebagai kemampuan membuat warga lawan menderita lebih lama.

Serangan drone dan rudal Rusia-Ukraina kini membentuk siklus baru: rudal balistik menekan Kyiv, dan drone jarak jauh mengganggu Rusia dari Samara hingga Krasnodar. Di atas kertas itu terlihat seperti keseimbangan, tetapi di lapangan keseimbangan itu dibayar dengan korban sipil, trauma, dan kota-kota yang hidup dalam sirene.

Pertanyaan kuncinya bukan hanya siapa yang paling kuat menyerang, melainkan siapa yang paling mampu melindungi warganya saat perang memakan ruang publik. Ketika persediaan pencegat, jarak serang drone, dan narasi “tidak ada titik balik” menjadi pusat perdebatan, kita patut bertanya: berapa lama lagi perang ini dibiarkan mengubah kehidupan sipil menjadi target yang “normal”?

(Orbit dari berbagai sumber, 24 Agustus 2026)