Literasi Keuangan Remaja dan Utang Kartu Kredit: Solusi dari Sekolah
ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan remaja kembali disorot ketika utang kartu kredit Amerika menembus lebih dari US$1 triliun. Di Phoenix, sebuah SMA mencoba memutus rantai itu lewat praktik bank sungguhan di sekolah, dari tabungan hingga kredit.
Angka utang yang membengkak bukan sekadar statistik, melainkan cermin keputusan finansial yang rapuh. InvestigateTV mencatat hampir 30% orang yang menukar mobil bekas membawa “negative equity”, artinya nilai utang lebih besar dari nilai mobil.
Di saat yang sama, kemampuan dasar mengelola uang masih rendah. World Economic Forum menempatkan literasi finansial orang dewasa AS di kisaran 50%, sehingga banyak orang kesulitan memahami pinjaman, tabungan, dan risiko.
Di celah itulah sekolah seharusnya hadir lebih awal. Namun di banyak tempat, pendidikan finansial masih berupa teori, bukan kebiasaan yang dilatih dalam situasi nyata.
Metro Tech High School di Phoenix memilih jalur yang tidak lazim: membuka cabang Copper State Credit Union di dalam sekolah. Enam siswa menjadi intern, melayani pembukaan rekening dan konsultasi sederhana untuk kebutuhan teman sebaya.
Eva Falcon, siswa senior, menggambarkan bagaimana teman-temannya datang dengan masalah yang sangat konkret, seperti menabung untuk gaun prom. “Mereka datang ke kami, kami berikan opsi finansial, dan kami bisa buka akun,” katanya.
Model ini menggeser literasi keuangan dari hafalan menjadi pengalaman. Saat remaja berlatih menabung dan memahami produk perbankan, mereka juga belajar bahasa risiko yang biasanya baru dipahami setelah terlanjur terjebak utang.
Brittany Nuno, intern lain, menyebut uang sebagai topik yang “tough”, tetapi menjadi lebih mudah karena kombinasi kelas dan magang. Pernyataan ini penting karena banyak kurikulum gagal menembus rasa takut dan malu saat membahas uang.
Dari sisi lembaga keuangan, Christina Lamar menegaskan mereka “melakukan perbankan nyata” dan menekankan fondasi sejak dini. Ia bahkan mengklaim sebagian siswa sudah membeli mobil “secara bertanggung jawab” karena merasa nyaman dengan prosesnya.
Di kelas, guru Jeff Howard menekankan tiga pelajaran kunci: dana darurat, tujuan jangka panjang, dan disiplin menghindari utang. “Credit is a huge problem,” katanya, menggarisbawahi bahwa kredit bukan sekadar alat, tetapi jebakan jika dipakai tanpa pemahaman.
Jika ditarik ke tren nasional, pendekatan ini menjawab dua penyakit sekaligus: konsumsi berbasis cicilan dan keputusan pembelian aset yang merugikan. Negative equity pada mobil adalah contoh bagaimana orang mengejar kendaraan, tetapi kehilangan nilai sebelum utangnya turun.
Namun, program seperti ini juga menuntut kehati-hatian agar tidak berubah menjadi promosi produk terselubung. Pendidikan finansial yang sehat harus menempatkan kepentingan siswa di atas target bisnis, dengan transparansi biaya, risiko, dan pilihan alternatif.
Di titik terbaiknya, sekolah menjadi laboratorium keputusan finansial yang aman. Remaja boleh salah menghitung, bertanya, dan mengulang, tanpa bunga mencekik atau skor kredit yang hancur.
Literasi keuangan sering diperlakukan sebagai “soft skill”, padahal dampaknya setara dengan kesehatan publik. Ketika utang kartu kredit menumpuk dan orang terjebak negative equity, yang runtuh bukan hanya dompet, tetapi juga masa depan keluarga.
Program bank di sekolah menunjukkan satu hal yang kerap dilupakan: perilaku finansial dibentuk oleh lingkungan, bukan sekadar nasihat. Remaja yang terbiasa melihat saldo, menabung, dan memahami bunga akan lebih kebal terhadap ilusi “bayar nanti”.
Meski begitu, solusi tidak boleh berhenti pada individu. Sistem kredit yang agresif, iklan konsumsi, dan akses pinjaman yang mudah tetap perlu diawasi, agar pendidikan tidak menjadi tameng untuk membenarkan praktik yang merugikan.
Falcon menertawakan mimpi “punya yacht”, lalu menyebut yang lebih penting adalah membangun dasar. Kalimat itu terasa sederhana, tetapi justru itulah inti literasi keuangan: menunda glamor demi stabilitas.
Ketika sekolah berani mengajarkan uang lewat praktik, mereka sedang mengajari murid membaca masa depan. Bukan masa depan yang mewah, melainkan masa depan yang tidak panik saat “rainy day” datang.
Pertanyaannya, mengapa model seperti ini masih menjadi pengecualian, bukan standar. Jika utang kartu kredit dan negative equity terus naik, mungkin yang paling mahal bukan bunga, melainkan keterlambatan kita mengajarkan dasar-dasarnya.
(Orbit dari berbagai sumber, 13 Juni 2026)