Kepulauan Memilih: Mengapa Indonesia Tidak Bisa Menjauh dari Teheran

Peti jenazah Ayatullah Ali Khamenei digotong di kota suci Qom, Iran.

Peti jenazah Ayatullah Ali Khamenei digotong di kota suci Qom, Iran.

Opini

Permainan Besar: Geopolitik untuk Massa

ORBITINDONESIA.COM - Ketika Menteri Luar Negeri negara Muslim terbesar di dunia menaiki pesawat menuju Iran, itu bukanlah sekadar pemakaman yang dihadirinya. Itu adalah pernyataan keselarasan, yang dibaca dengan cermat di Washington, Riyadh, Beijing — dan yang terpenting, di Teheran.

Pada 9 Juli, Menteri Luar Negeri Sugiono dan Ahmad Muzani, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), akan tiba di Iran untuk upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei — pemakaman di Mashhad yang menutup tujuh hari upacara yang berlangsung di Iran dan Irak.

Ini bukanlah delegasi yang awalnya direncanakan Jakarta. Indonesia bermaksud untuk diwakili oleh duta besarnya di Teheran saja, dengan alasan jadwal diplomatik yang padat.

Kemudian datang pesan dari Teheran, yang disampaikan hanya satu hari sebelum upacara dimulai: hanya pejabat di atas pangkat duta besar yang akan diterima.

Pertimbangkan apa yang terjadi selanjutnya. Indonesia tidak menolak. Indonesia tidak mengirimkan ucapan belasungkawa yang sopan. Mereka justru meningkatkan status — secara dramatis — dengan mengirimkan Menteri Luar Negeri dan salah satu tokoh paling senior di parlemennya.

Negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, pemimpin de facto ASEAN, ekonomi G20 dengan 280 juta penduduk, memutuskan bahwa ketidakhadiran di pemakaman Khamenei adalah harga yang tidak mampu mereka bayar.

Protokol Adalah Pesannya

Persyaratan peringkat yang ditetapkan Iran bukanlah sikap birokratis yang berlebihan. Itu adalah taktik kenegaraan yang paling kuno.

Dengan menetapkan standar senioritas minimum, Teheran memaksa setiap ibu kota di dunia Muslim untuk membuat pilihan publik: menunjukkan rasa hormat setingkat menteri kepada Pemimpin Tertinggi yang gugur, atau secara mencolok absen dari upacara Islam terpenting dekade ini.

Tidak ada jalan tengah — tidak ada kehadiran duta besar untuk menyelamatkan muka, tidak ada tindakan setengah-setengah yang tenang.

Inilah yang saya sebut Prinsip Legitimasi dalam tindakan. Iran, setelah menerima serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertingginya dan anggota keluarganya — termasuk seorang cucu perempuan berusia empat belas bulan — mengubah kemartiran menjadi modal diplomatik.

Lebih dari seratus negara mengirimkan perwakilan. Pakistan mengirimkan Perdana Menterinya. Rusia mengirimkan Medvedev. China, India, Turki, Arab Saudi — semuanya hadir. Pemakaman tersebut telah menjadi sensus tatanan pasca-Barat, dan tidak ada negara Muslim yang serius yang mampu untuk tidak hadir.

Keseimbangan Mustahil Jakarta

Keputusan Indonesia semakin mencolok mengingat arah diplomasi pertahanannya baru-baru ini. Pada bulan April, Jakarta menandatangani Kemitraan Kerja Sama Pertahanan Utama dengan Washington di Pentagon, dan kedua pihak terus menegosiasikan Surat Pernyataan Niat yang akan memberikan akses penerbangan penuh kepada pesawat militer Amerika melalui wilayah udara Indonesia — sebuah proposal yang sangat sensitif sehingga Kementerian Luar Negeri Indonesia sendiri dilaporkan menyuarakan kekhawatiran tentang apa yang akan dilakukannya terhadap doktrin non-blok yang dijunjung tinggi oleh republik tersebut.

Kita tidak perlu melihat dokumen diplomatik untuk memahami bahwa Washington lebih memilih kursi Indonesia yang kosong di Teheran.

Amerika Serikat dan Israel membunuh orang yang sedang dimakamkan. Setiap delegasi senior yang melewati peti mati merupakan teguran tersirat atas tindakan tersebut — dan pemerintah Iran telah membingkai kehadiran asing tersebut sebagai solidaritas melawan apa yang disebutnya agresi AS-Zionis.

Sulit dipercaya bahwa tidak ada tekanan yang diberikan kepada ibu kota seperti Jakarta untuk tetap di rumah.

Namun Indonesia tetap hadir — sama seperti Arab Saudi, meskipun memiliki keterikatan yang rumit dengan Washington. Inilah pola yang saya identifikasi dalam "Diplomasi Pemakaman Riyadh": mitra Amerika di dunia Muslim tidak lagi bersedia membiarkan Washington mendikte batasan diplomasi keagamaan dan regional mereka.

Mereka akan menandatangani kemitraan pertahanan dengan Pentagon pada hari Senin dan berduka di Teheran pada hari Jumat, karena mereka memahami apa yang tampaknya tidak dapat dipahami Washington — bahwa di Timur Tengah yang baru, kedudukan Iran sebagai kekuatan regional adalah fakta yang harus dikelola, bukan bid'ah yang harus dihindari.

Apa Artinya

Bagi Presiden Prabowo, politik domestik tidak memberikan banyak pilihan. Opini publik Indonesia bergejolak akibat serangan terhadap Iran; tekanan meningkat pada pemerintahannya karena dianggap terlalu dekat dengan Washington. Melewatkan pemakaman Pemimpin Tertinggi yang gugur—sementara bernegosiasi tentang akses Amerika ke wilayah udara Indonesia—akan menjadi isu politik yang sangat sensitif di dalam negeri dan merusak reputasi di seluruh dunia Muslim.

Namun, makna yang lebih dalam terletak di luar Jakarta.

Ketika pemimpin ASEAN dan negara Muslim terbesar di dunia mengirimkan Menteri Luar Negeri dan Ketua MPR ke Mashhad, hal itu menegaskan sesuatu yang masih ditolak oleh Barat: era di mana Washington dapat mengisolasi Iran secara diplomatik telah berakhir.

Legitimasi tidak lagi diberikan di ibu kota Barat. Legitimasi diperoleh—dan diratapi—di tempat lain.

Permainan Besar terus berlanjut.

(Sumber: Anonim/medsos) ***