Kasus Dokter IMS-BHU Suntik Insulin: Toxicity dan Jam Kerja Panjang

Medical Dialogues

Medical Dialogues

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Kasus dokter muda IMS-BHU yang diduga menyuntik diri lebih dari 100 suntikan insulin memaksa publik menatap ulang isu toxicity dan jam kerja panjang residen. Tim pencari fakta APWA-AISA turun ke Institute of Medical Sciences (IMS), Banaras Hindu University (BHU), untuk memeriksa apa yang terjadi di balik pintu ruang jaga dan ruang operasi.

Insiden ini dilaporkan terjadi pada 13 Maret, ketika seorang mahasiswa pascasarjana bedah berusia 25 tahun diduga mencoba bunuh diri dengan insulin. Laporan menyebut tindakan itu membuatnya koma dan hingga kini dirawat di ICU dengan dukungan ventilator.

Di media sosial, narasi yang menguat adalah “toxicity di departemen” sebagai pemicu. Namun di luar dugaan awal, kasus ini segera melebar menjadi pertanyaan tentang budaya kerja pendidikan kedokteran yang sering menormalisasi kelelahan ekstrem.

APWA dan AISA membentuk tim pencari fakta, lalu menemui Direktur IMS-BHU Dr S.N. Sankhwar dan dokter yang menangani pasien. Tim juga berbicara dengan orang tua korban serta sejumlah mahasiswa yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Kesaksian mahasiswa yang anonim mengarah pada satu pola: jam jaga panjang bagi dokter junior. Bahkan sejumlah pasien menyebut kelelahan dokter muda berpengaruh pada kualitas layanan, sebuah sinyal yang semestinya memicu audit keselamatan pasien.

Direktur IMS-BHU mengakui mahasiswa kedokteran bekerja dalam jam panjang. Tetapi ia tidak memberikan data jam kerja korban sejak mulai bertugas hingga hari kejadian, dan menyatakan laporan panitia internal berada pada kewenangan Dekan.

Ketiadaan angka membuat publik hanya memegang potongan cerita, bukan peta masalah. Dalam liputan kasus keselamatan kerja, data jam kerja, beban pasien, dan pola supervisi adalah “bukti keras” yang menentukan apakah ini insiden individual atau kegagalan sistemik.

Secara klinis, insulin adalah obat yang dapat berakibat fatal bila disalahgunakan karena menyebabkan hipoglikemia berat. Jika benar jumlah suntikan mencapai “lebih dari 100”, maka pertanyaan berikutnya adalah akses, pengawasan obat, dan prosedur keamanan di lingkungan pelatihan.

Tim APWA-AISA juga mencatat belum ada perbaikan berarti pada kondisi kesehatan korban. Mereka menyarankan opsi rujukan ke institusi medis dengan level lebih tinggi dipertimbangkan, karena waktu dan kualitas perawatan kritis sering menentukan luaran.

Sejumlah mahasiswa meminta perkara ini ditangani polisi karena menyangkut dugaan percobaan bunuh diri. Dorongan itu menunjukkan ketidakpercayaan bahwa mekanisme internal kampus cukup independen untuk menelisik relasi kuasa, perundungan, atau pembiaran.

Kasus IMS-BHU ini terasa seperti potret klasik “sistem yang lelah” lalu menyalahkan individu yang tumbang. Ketika jam kerja panjang dianggap rite of passage, batas antara disiplin dan kekerasan psikologis menjadi kabur.

“Toxicity” bukan sekadar kata populer, melainkan istilah yang menandai lingkungan kerja yang memelihara takut, hinaan, dan hukuman informal. Jika benar itu terjadi, maka akar masalahnya bukan pada satu orang, melainkan pada tata kelola pelatihan yang miskin akuntabilitas.

Transparansi menjadi ujian pertama: berapa jam jaga, bagaimana pembagian tugas, siapa supervisor, dan bagaimana kanal pengaduan bekerja tanpa balas dendam. Tanpa itu, investigasi mudah berubah menjadi formalitas yang menutup rapat luka, bukan menyembuhkannya.

Fakta bahwa pasien ikut merasakan dampaknya memperluas isu dari “kesejahteraan residen” menjadi “keselamatan publik”. Kelelahan klinisi adalah faktor risiko, dan sistem yang membiarkannya berarti menempatkan dua pihak dalam bahaya sekaligus.

Karena itu, keterlibatan pihak eksternal dapat relevan untuk memastikan pemeriksaan tidak berhenti pada simpati. Namun pemeriksaan eksternal pun harus berorientasi perbaikan, bukan sekadar mencari kambing hitam.

Tim APWA-AISA masih melanjutkan pengumpulan informasi dan meminta warga Varanasi memberi keterangan dengan jaminan kerahasiaan identitas. Di saat yang sama, kondisi korban yang belum membaik menuntut keputusan klinis cepat, termasuk opsi rujukan jika diperlukan.

Kasus dokter IMS-BHU suntik insulin adalah alarm tentang budaya kerja yang mungkin terlalu lama ditoleransi. Pertanyaannya kini sederhana tetapi tajam: berapa banyak “nyaris tragedi” yang harus terjadi sebelum jam kerja manusiawi dan lingkungan belajar yang aman menjadi standar, bukan pengecualian.

(Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)