Pembaruan USMCA: Perang Tarif Trump Ancam Perdagangan Amerika Utara
ORBITINDONESIA.COM – Pembaruan USMCA kembali dibuka, tetapi stabilitas perdagangan Amerika Utara justru makin jauh dari kepastian.
Setelah kebijakan tarif Donald Trump yang berubah-ubah, bisnis di AS, Kanada, dan Meksiko menghadapi risiko aturan baru yang bisa mengguncang harga mobil, rantai pasok, hingga barang konsumsi harian.
Setiap hari, AS memperdagangkan barang dan jasa senilai sekitar 5 miliar dolar AS dengan Kanada dan Meksiko.
Totalnya mencapai 1,9 triliun dolar AS per tahun, dan dua negara tetangga itu kini menjadi dua mitra dagang terbesar AS, melampaui China.
Taruhannya tinggi ketika aturan dagang tiga negara ini diutak-atik, karena dampaknya langsung menyentuh pabrik, pelabuhan, toko, dan dompet warga.
Perjanjian dagang regional itu bernama USMCA, singkatan dari U.S.-Mexico-Canada Agreement.
Perjanjian ini menggantikan NAFTA pada 2020, setelah Trump menegosiasikannya dan mengklaim telah “memperbaiki” kerugian lama.
Namun, proses peninjauan enam tahunan USMCA dimulai lagi pada Rabu, dan diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan atau lebih.
Ketentuan “tinjau dan perbarui tiap enam tahun” adalah fitur baru yang tidak ada pada NAFTA.
Batas waktu tinjauan itu jatuh pada Rabu tersebut, tetapi AS menyatakan belum siap memperpanjang perjanjian apa adanya sampai 2042.
Perjanjian tetap berlaku sambil negosiasi berjalan, dan tiga negara punya waktu hingga 2036 untuk mencapai kesepakatan.
Jika gagal, USMCA kedaluwarsa, dan ketidakpastian akan menjadi biaya ekonomi yang paling mahal.
Di sisi lain, setiap negara bisa keluar dari USMCA dengan pemberitahuan enam bulan.
Ancaman itu bukan teori, karena Trump pada Juni berkata ia “tidak berniat memperbarui” dan mengklaim AS “tidak membutuhkan apa pun yang mereka miliki.”
Di balik bahasa diplomatik, inti pertarungan ada pada manufaktur, terutama otomotif.
AS mendorong aturan baru yang berpotensi memaksa Kanada dan Meksiko menyerahkan sebagian produksi mobil ke pabrik-pabrik di AS.
USMCA saat ini mensyaratkan 75% komponen otomotif berasal dari Amerika Utara agar bebas bea masuk.
Angka itu naik dari 62,5% pada era NAFTA, dan sudah membuat produsen menata ulang rantai pasok selama bertahun-tahun.
Washington ingin menaikkan ambang 75% itu lebih tinggi lagi.
Menurut Patrick Childress, mantan negosiator dagang AS, pabrikan telah “menyetel halus” rantai pasok untuk mencapai 75%, sehingga standar baru butuh waktu dan biaya.
Yang paling eksplosif adalah ide baru: 50% mobil harus dibuat di AS.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengonfirmasi dorongan itu pada awal Juni, dan Meksiko menyebutnya melanggar semangat integrasi regional.
Oscar Ocampo dari Mexican Institute for Competitiveness menilai ini “garis merah” bagi Meksiko dan Kanada.
Ia menekankan kebijakan itu bertentangan dengan “semangat dan bunyi” integrasi kawasan yang menjadi fondasi USMCA.
Marcos Carias dari Coface memperkirakan hanya 1 dari 5 mobil Meksiko dan Kanada yang masuk AS saat ini akan memenuhi standar 50% tersebut.
Artinya, mayoritas model akan terkena biaya tambahan atau dipaksa merombak sumber komponen.
Carias menyebut model yang berisiko antara lain Ford Maverick, Chevrolet Equinox, dan beberapa sedan Nissan yang dibuat di Meksiko.
Perhitungan kasarnya menunjukkan harga bisa naik 5% hingga 7% pada model yang paling terdampak.
Kenaikan itu datang saat harga mobil baru di AS sudah mendekati rata-rata 50.000 dolar AS.
Di tengah keluhan biaya hidup yang tinggi, tarif dan aturan asal barang bisa menjadi pemicu kemarahan konsumen berikutnya.
AS juga ingin menutup “pintu belakang” bagi barang China yang masuk lewat kawasan.
Tujuannya terdengar masuk akal, tetapi instrumen kebijakannya bisa menghukum produsen kecil yang tidak punya fleksibilitas rantai pasok.
Masalah lain muncul dari dinamika politik, terutama posisi Kanada yang belum sepenuhnya diajak bicara.
AS dan Meksiko sudah menggelar pembicaraan, sementara Kanada disebut masih “di pinggir lapangan.”
Childress memperingatkan bahaya skenario “take it or leave it” untuk Ottawa.
AS dan Meksiko bisa sepakat dulu, lalu datang ke Kanada dengan paket jadi yang sulit ditolak.
Carney menanggapi dengan kalimat singkat namun tajam: “Saya tidak mencari pena saya.”
Ia juga menekankan mustahil AS punya perjanjian baru tanpa persetujuan Kongres, sehingga ruang manuver Trump tidak sepenuhnya bebas.
Di tingkat pelaku usaha, ketidakpastian tarif sudah terasa seperti pajak acak.
Shawn Miller dari PKGD Group, pengimpor tequila dan mezcal dari produsen keluarga di Meksiko, berkata ia hanya menginginkan “konsistensi.”
PKGD tumbuh pesat, dengan penjualan naik 62% tahun ini setelah melonjak 100% pada 2025 dan 300% pada 2024.
Namun tahun lalu kacau, karena Trump mengenakan tarif impor 25% pada barang Meksiko dan Kanada pada Februari.
Sebulan kemudian, produk yang memenuhi preferensi USMCA dikecualikan, tetapi kerusakan sudah terjadi di lapangan.
Tiga truk minuman agave PKGD sempat terkena tarif 25% saat melintasi perbatasan.
Biayanya 105.000 dolar AS, dan Miller menyebutnya “satu hari yang sial.”
Ia menegaskan mereka bukan korporasi raksasa dengan tim hukum dan pelobi.
Di sisi lain, Kerry Mellin, desainer kostum Hollywood yang membuat alat bantu pegangan silikon untuk penyandang disabilitas, juga terjepit oleh aturan asal barang.
Ia menilai penjualan EazyHold di Kanada tersendat karena bahan silikon dari Asia membuat produknya tidak cukup “konten Amerika Utara” untuk bebas bea.
Mellin menduga produknya sebenarnya bisa memenuhi standar, tetapi aturan terlalu kompleks dan tidak bisa diprediksi tanpa pengacara dagang.
Ia justru meminta pelonggaran aturan asal barang untuk membantu usaha kecil yang tidak mampu membeli bahan baku Amerika Utara yang lebih mahal.
“Saya paham mengapa aturan itu ada,” katanya, untuk mencegah barang China “diputar” lewat Meksiko.
Namun ia berharap kebijakan bisa membedakan antara praktik penghindaran bea dan usaha keluarga kecil yang membuat alat bantu makan bagi orang yang sulit memegang garpu.
Pembaruan USMCA menunjukkan paradoks perdagangan modern: integrasi kawasan dipuji saat menekan inflasi, tetapi dicurigai saat politik membutuhkan kambing hitam.
Trump menggunakan tarif sebagai tuas tekanan, tetapi biaya akhirnya sering berpindah ke konsumen dan pelaku usaha kecil yang paling rapuh.
Dorongan “lebih banyak dibuat di AS” terdengar patriotik, tetapi berisiko menjadi proteksionisme terselubung.
Jika ambang 50% produksi AS dipaksakan, yang terjadi bukan sekadar relokasi pabrik, melainkan rekayasa ulang rantai pasok yang mahal dan lambat.
Dalam ekonomi terintegrasi, memindahkan satu mata rantai berarti menggeser puluhan pemasok, kontrak logistik, dan standar kualitas.
Hasilnya bisa berupa kenaikan harga, penundaan produksi, dan ketidakpastian investasi di seluruh kawasan.
AS memang punya alasan strategis untuk membatasi penetrasi barang China.
Namun, kebijakan yang terlalu kaku bisa salah sasaran dan memukul inovasi usaha kecil, seperti yang dialami Mellin.
Ketika aturan terlalu rumit, hanya perusahaan besar yang mampu “membeli kepatuhan” lewat konsultan dan pengacara.
Di titik itu, perjanjian dagang yang seharusnya membuka pasar justru berubah menjadi labirin administratif.
Kanada juga menghadapi dilema geopolitik yang tidak nyaman.
Jika Ottawa dibiarkan di pinggir, integrasi tiga pihak berubah menjadi negosiasi dua pihak, dan itu menggerus kepercayaan regional.
Jika Trump benar-benar menekan tombol keluar, enam bulan bisa cukup untuk mengguncang nilai tukar, rencana produksi, dan keputusan perekrutan.
Stabilitas yang dicari bisnis bukanlah “tanpa perubahan,” melainkan perubahan yang bisa diprediksi.
Tanpa itu, USMCA akan menjadi perjanjian yang hidup di atas kertas, tetapi rapuh di perbatasan.
USMCA lahir untuk menggantikan luka NAFTA, tetapi kini diuji oleh politik tarif yang gemar menciptakan ketegangan baru.
Perdagangan 1,9 triliun dolar AS per tahun tidak bisa diperlakukan seperti alat tawar jangka pendek tanpa menimbulkan biaya sosial.
Tiga negara masih punya waktu hingga 2036 untuk menyelesaikan perbedaan, dan Meksiko optimistis proses bisa selesai “dalam waktu yang wajar.”
Namun pasar tidak menunggu, karena investasi dan rantai pasok selalu alergi terhadap ketidakpastian.
Pertanyaan besarnya bukan hanya apakah USMCA diperbarui.
Pertanyaan yang lebih menentukan adalah apakah pembaruan itu akan memperkuat integrasi yang adil, atau sekadar memindahkan beban ke konsumen dan usaha kecil.
Jika perdagangan adalah jembatan, maka aturan yang berubah-ubah adalah retaknya.
Dan ketika jembatan retak, yang pertama jatuh bukan slogan politik, melainkan kepercayaan yang dibangun puluhan tahun. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Juli 2026)