FORO: Ketakutan Kehabisan Uang Bikin Pensiunan Menahan Belanja

Wealth Management

Wealth Management

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – FORO (fear of running out of money) menjadi kecemasan sunyi yang membuat banyak pensiunan menahan pengeluaran. Studi di Financial Planning Review oleh David Blanchett (Prudential Financial) menunjukkan belanja pensiun yang disesuaikan inflasi justru cenderung turun seiring usia, bahkan ketika tabungan mereka sebenarnya cukup.

Selama ini, banyak model perencanaan pensiun mengasumsikan pola belanja yang datar setelah disesuaikan inflasi. Asumsinya sederhana, kebutuhan hidup dianggap stabil, lalu tinggal dihitung berapa “tarikan aman” dari portofolio.

Namun di dunia nyata, pensiunan sering membelanjakan lebih sedikit daripada yang disarankan penasihat keuangan maupun riset akademik. FORO membuat mereka memilih aman, meski “aman” itu kadang berubah menjadi penyangkalan terhadap kualitas hidup.

Blanchett menemukan pengeluaran tahunan cenderung turun perlahan dari usia 65 hingga sekitar 77 tahun. Setelah itu, grafiknya bercabang menjadi dua pola, yaitu “smirk” (terus turun) atau “smile” (naik kembali).

“Smirk” lebih sering muncul, artinya banyak orang makin hemat seiring menua. “Smile” lebih jarang, dan biasanya terkait biaya kesehatan yang meningkat pada fase akhir kehidupan.

Di titik ini, riset memberi koreksi keras terhadap keyakinan populer bahwa pensiunan pasti belanja stabil. Ia juga menantang narasi bahwa setiap orang otomatis akan “menikmati hidup” begitu berhenti bekerja.

Faktor pertama yang masuk akal adalah kebiasaan frugal yang menahun. Banyak pekerja membangun identitas sebagai “orang hemat,” lalu identitas itu sulit dilepas meski neraca mereka sudah longgar.

Faktor kedua adalah ketidaktahuan, terutama pada pensiunan tanpa penasihat. Mereka tidak punya peta berapa pengeluaran yang aman, sehingga FORO mendorong underspending yang kronis.

Faktor ketiga adalah penuaan yang mengubah selera dan stamina. Aktivitas mahal seperti perjalanan bisa kehilangan daya tarik ketika tubuh menuntut kenyamanan, bukan petualangan.

Faktor keempat adalah ketidakpastian biaya kesehatan di akhir hayat. Ini bukan sekadar ketakutan irasional, karena satu kejadian medis bisa mengubah rencana menjadi krisis.

Blanchett mengutip studi 2018 tentang biaya medis tak terduga. Pada mereka yang wafat di usia 95, median akumulasi biaya out-of-pocket riil sekitar US$50.000, tetapi di persentil ke-95 bisa sekitar US$250.000.

Angka itu menjelaskan dua hal sekaligus, yaitu kebanyakan orang tidak mengalami “bonfire” biaya kesehatan, tetapi sebagian kecil benar-benar bisa terbakar. Risiko idiosinkratik inilah yang membuat perencanaan menjadi permainan probabilitas, bukan kepastian.

Blanchett juga merujuk pandangan ekonom Andrew Biggs yang mempertanyakan apakah “krisis pensiun” benar-benar seluas yang sering diberitakan. Data historis menunjukkan banyak pensiunan ternyata tidak mengalami lonjakan biaya kesehatan yang signifikan.

Namun Blanchett tetap memberi catatan keras, terutama untuk konteks Amerika Serikat. Ia menyebut risiko kesehatan sebagai wildcard yang sulit dipetakan karena variasinya ekstrem antarindividu.

FORO sering dibaca sebagai kelemahan psikologis, padahal ia juga bisa menjadi respons rasional terhadap sistem yang tidak memberi kepastian. Ketika biaya kesehatan berpotensi melonjak, menahan belanja terasa seperti satu-satunya “asuransi” yang dimiliki.

Masalahnya, rasionalitas itu punya harga, yaitu hidup yang mengecil sebelum waktunya. Pensiunan bisa “menang” melawan risiko kehabisan uang, tetapi kalah dalam menikmati tahun-tahun sehat yang justru paling bernilai.

Di sini, paradoks pensiun muncul jelas, yaitu orang menabung agar bebas, tetapi kebebasan itu tidak dipakai. Mereka menjaga aset dengan disiplin, tetapi lupa bahwa tujuan aset adalah membeli waktu, kenyamanan, dan makna.

Model keuangan yang terlalu rapi juga ikut menyumbang ilusi. Ketika perencana memproyeksikan garis datar, mereka menutupi fakta bahwa hidup bergerak dalam fase, dan fase akhir sering membawa ketidakpastian terbesar.

Karena itu, diskusi FORO seharusnya tidak berhenti pada “berapa persen aman ditarik.” Diskusi harus bergeser ke “bagaimana menyeimbangkan ketidakpastian kesehatan dengan keberanian menikmati hidup saat masih mampu.”

Riset Blanchett memberi pesan yang tidak nyaman, yaitu banyak pensiunan menghabiskan lebih sedikit dari yang mereka bisa, lalu menua dalam kehati-hatian yang kian ketat. Grafik “smirk” mungkin terlihat aman, tetapi ia juga bisa menjadi simbol penundaan hidup.

Mungkin kita perlu mengubah pertanyaan dari “apakah uang saya cukup?” menjadi “kapan saya berani memakai uang saya untuk hidup?” Pada akhirnya, seperti pepatah Yiddish yang dikutip, manusia boleh merencanakan, tetapi hidup selalu punya cara untuk menertawakan kepastian kita. (Orbit dari berbagai sumber, 25 September 2026)