UNM Juara CQA Investment Challenge, Strategi Long/Short Berbasis Momentum
ORBITINDONESIA.COM – UNM Anderson School of Management menjuarai CQA Investment Challenge 2025-2026, sebuah kompetisi investasi kuantitatif yang menuntut portofolio market neutral long/short 100 saham. Tim Alpha Strategies, David Dávila dan Samuel Landis, menutup enam bulan kompetisi dengan return sekitar 29,06% dan hadiah US$3.000.
Di tengah maraknya klaim “melek finansial”, industri manajemen investasi justru menilai keterampilan yang lebih sulit: disiplin proses, kontrol risiko, dan kepatuhan aturan. Chicago Quantitative Alliance (CQA) Investment Challenge dirancang untuk meniru tekanan nyata itu lewat simulasi yang memaksa peserta bertindak seperti portfolio manager.
Aturannya ketat dan teknis, mulai dari membangun portofolio long/short yang market neutral hingga menjaga portofolio tetap sesuai ketentuan selama enam bulan. Tim juga wajib memaparkan filosofi investasi melalui presentasi video, sehingga performa tidak hanya dinilai dari angka, tetapi juga dari logika.
Dávila dan Landis masuk sebagai Alpha Strategies, dengan modal pengalaman organisasi sebagai presiden dan wakil presiden Lobo Investment Club. Mereka juga membawa bekal kompetisi sejenis, sehingga tidak memulai dari nol dalam urusan ritme evaluasi dan eksekusi.
Strategi utama mereka adalah momentum, sebuah pendekatan yang sudah lama dibahas dalam riset akademik pasar modal. Dávila menjelaskan modelnya menghitung return 12 bulan terakhir dengan mengecualikan satu bulan paling baru, lalu mengurutkan saham untuk menentukan posisi.
“We went long the top 50 names and short the bottom 50,” kata Dávila. Mereka menambah filter likuiditas dan keterdagangan, seperti minimum average volume dan shortability, agar strategi tidak hanya bagus di kertas, tetapi bisa diimplementasikan.
Di level operasional, strategi kuantitatif sering kalah bukan karena rumusnya salah, melainkan karena eksekusinya longgar. Landis menggambarkan intensitas kerja itu: “We were trading almost every week,” dan ia mengaku memeriksa portofolio “300 or 400 times” selama enam bulan.
Pengawasan itu krusial karena portofolio long/short rentan terganggu aksi korporasi, merger, dan perubahan status saham untuk dipinjam (short). Mereka “constantly monitored” kejadian-kejadian tersebut, yang dalam praktik industri sering menjadi sumber kebocoran kinerja dan pelanggaran mandat.
Hasil akhirnya mencolok: return sekitar 29,06% dengan “zero compliance violations.” Angka lain yang disorot adalah CAGR 84,4% per tahun dan Sharpe ratio 2,35, yang menunjukkan kinerja relatif terhadap volatilitas dalam kerangka kompetisi.
Namun, pembacaan angka perlu hati-hati karena ini kompetisi berbasis platform simulasi, bukan dana riil dengan friksi penuh. Biaya transaksi, slippage, ketersediaan pinjaman saham, dan dampak pasar pada ukuran portofolio tertentu dapat mengubah hasil ketika strategi dibawa ke dunia nyata.
Di sisi lain, justru di sinilah nilai pendidikan kompetisi: peserta dipaksa menerjemahkan riset menjadi kode, lalu menjaga konsistensi proses. Dávila membangun kode Python untuk mengeksekusi strategi, yang menandai pergeseran penting bahwa literasi investasi kini menuntut literasi komputasi.
Mentor mereka, Profesor Subramanian Iyer dari Anderson Department of Finance and Innovation, memberi jembatan antara teori dan praktik. Dalam ekosistem kampus, peran pembimbing sering menentukan apakah kompetisi hanya menjadi lomba cepat-cepatan, atau latihan membangun metode yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kemenangan UNM di CQA Investment Challenge patut dibaca sebagai sinyal: pasar kerja keuangan makin menghargai kemampuan mengemas disiplin ilmiah menjadi keputusan portofolio yang patuh aturan. Ini bukan sekadar “anak kampus jago saham”, melainkan latihan mengelola ketidakpastian dengan prosedur.
Meski begitu, publik perlu waspada pada ilusi kepastian yang sering menempel pada kata “kuantitatif.” Momentum bisa bekerja sangat baik pada periode tertentu, tetapi juga dapat runtuh saat rezim pasar berubah, terutama ketika korelasi melonjak dan short squeeze terjadi.
Keunggulan Alpha Strategies tampaknya bukan hanya pada faktor momentum, melainkan pada kebiasaan memeriksa risiko, memantau aksi korporasi, dan menjaga kepatuhan tanpa pelanggaran. Dalam dunia investasi, ketekunan seperti ini sering lebih langka daripada ide strategi itu sendiri.
Di Indonesia, pelajaran yang relevan adalah kebutuhan memperkuat kurikulum dan komunitas yang menggabungkan matematika terapan, pemrograman, dan etika kepatuhan. Dávila yang mengambil finance dan applied mathematics, serta Landis dari computer science, menunjukkan kombinasi lintas disiplin yang semakin menjadi standar industri.
Prestasi UNM di CQA Investment Challenge menegaskan bahwa kompetisi investasi terbaik bukan yang paling heboh, melainkan yang paling mendekati realitas kerja: aturan ketat, dokumentasi proses, dan kontrol risiko. Return 29,06% dan Sharpe 2,35 menarik, tetapi “zero compliance violations” justru menjadi pesan yang lebih dewasa.
Pada akhirnya, investasi bukan lomba menebak arah harga, melainkan seni bertahan lewat metode yang konsisten saat pasar berubah-ubah. Pertanyaannya bagi kita: apakah kita sedang membangun proses, atau hanya mengejar hasil sesaat yang kebetulan sedang berpihak? (Orbit dari berbagai sumber, 15 Juni 2026)