DECEMBER 9, 2022
Puisi

Yang Tercecer di Era Kemerdekaan (5): Luka Itu Dia Bawa Sampai Mati

image
(OrbitIndonesia/kiriman)

Oleh Denny JA

ORBITINDONESIA.COM - Di era kependudukan Jepang, 1942-1945, ribuan perempuan muda Indonesia dipaksa menjadi penghibur tentara Jepang. Sebagian korban membawa luka itu sampai ajalnya.

-000-

“Terlalu banyak drama yang menyentuh.
Terlalu dalam  luka yang dirahasiakan.”

Itulah sebabnya.
Shinta akhirnya mengubah tulisannya.
Bukan sebuah buku riset ilmiah yang dilahirkan. 
Tapi sebuah novel,
novel sejarah. Historical Fiction.

Selesai sudah novel itu.
Di sela-sela kertas,
Shinta seolah melihat,
air mata mengalir dari cerita novel itu.
Juga suara longlong yang sangat pilu, dari seekor rusa yang luka.

Awalnya, Shinta membaca berita di tahun 2007, 
dari handphonenya.
“Sakinah, gadis yang dipaksa
menghibur tentara Jepang, meninggal di usia 76 tahun.”

Shinta mendatangi rumah itu,
mewawancarai kenalan dekat, meneliti berbagai dokumen dan berita.

Di usia 13 tahun, di tahun 1943, Sakinah ditipu.
Ia dibujuk kerja di pabrik tentara Jepang.
Ternyata ia ditempatkan di rumah bordil, jauh di Kalimantan.

Ia dipukul, ditampar, diinjak.
Agar bersedia melayani.
Dalam sehari 10-15 tentara Jepang masuk ke kamarnya.
Dua penjaga selama 24 jam,
mengawasi rumah bordil itu.
Beberapa kali Sakinah ingin kabur.
Tapi ia tertangkap dan kembali disiksa.

Sakinah dibebaskan ketika Jepang kalah perang.
Ia pun pergi ke Bali, 
dengan identitas baru.
Punya teman baru.
Punya suami.

Suami Sakinah meninggal terlebih dahulu, sepuluh tahun sebelumnya.
Itu yang membuat Sakinah sangat sedih.

Suami sangat mencintainya.
Tapi suami tak tahu,
siapa Sakinah sebenarnya.
Suaminya tak tahu,
bahwa ratusan tentara Jepang pernah memperkosanya.
Sakinah merasa sangat bersalah.

Sejak suaminya wafat,
Sakinah berubah.
Ia membaca berita.
Gadis penghibur tentara Jepang asal Korea bicara di PBB.
Mereka menuntut pemerintah Jepang meminta maaf.

Sejak saat itu, Sakinah menjadi aktivis.
Ia menemui banyak perempuan Indonesia yang masih hidup, yang juga dipaksa menjadi gadis penghibur tentara Jepang.
Mereka juga menuntut pemerintah Jepang minta maaf,
dan ganti rugi.

Sakinah sudah sering ke luar negeri, menjadi pembicara, atau saksi.

Terbuka matanya.
Ternyata banyak sekali.
Sekitar 200 ribu perempuan, dipaksa menjadi gadis penghibur tentara Jepang di perang dunia kedua.
Mereka asal Cina, Korea, Taiwan, Filipina, juga Indonesia.

Shinta membaca dokumen itu.
Politisi Jepang Mayor Osaka, Toru Hashimoto membela diri.
“Daripada tentara Jepang memperkosa penduduk,
lebih baik disediakan rumah bordil.
Itu bagian disiplin tentara Jepang.”

Shinta juga membaca permintaan maaf dari pemerintah Jepang lewat Menteri Yohei Kono.

Jepang memberi ganti rugi 300 juta rupiah masing-masing kepada 280 gadis penghibur di Filipina, Taiwan, Korea Selatan.

Juga ganti rugi miliar rupiah untuk gadis penghibur asal Indonesia. 
Tapi bantuan itu oleh pemerintah Indonesia digunakan untuk pembangunan rumah jompo. 

Sakinah tak pernah mendapat langsung ganti rugi itu. 

Di masa tua,
Sakinah sering mengigau.
Ia acap menyebut nama suaminya.

“Wayan, Wayan, maafkan aku.”

Di hari terakhir,
kepada yang berkunjung, 
Sakinah hanya bercerita soal suaminya saja.

Luka batin Sakinah karena dipaksa menjadi gadis penghibur tetap menganga.

Namun ternyata, ada luka yang lebih perih.
Hingga suaminya wafat,
Sakinah tak kunjung berani memberi tahu,
bahwa dirinya dulu pernah dipaksa menjadi gadis penghibur tentara Jepang.
Bahwa ratusan tentara Jepang pernah memperkosanya, selama tiga tahun.

Shinta menuliskan dengan pena, di halaman pertama novel itu.
“Untuk Sakinah.”
Dari ujung huruf Sakinah, 
mengalir air mata.

7 Mei 2024

Note:

1. Fiksi ini diinspirasi oleh kisah hidup Mardiyem, gadis penghibur asal Indonesia, dan gerakan menuntut Jepang meminta maaf di Korea Selatan.

https://laist.com/news/kpcc-archive/japans-sex-slave-legacy-remains-open-wound

 

Berita Terkait