Investasi Gen Z Jangka Panjang: Mike Gitlin Tolak Trading Komoditas

ORBITINDONESIA.COM – Investasi Gen Z kembali jadi sorotan saat CEO Capital Group Mike Gitlin meminta anak muda meninggalkan trading komoditas berbasis perang dan kembali ke investasi jangka panjang. Ia menilai “hobby investing” yang mengejar sensasi dan timing pasar hanya memperbesar risiko, bukan membangun kekayaan.

Pemicunya sederhana namun tajam: seorang ayah ingin memindahkan portofolio dari emas ke minyak, tetapi anak remajanya menolak karena dianggap “profiting from war.” Survei informal di sekolah mereka bahkan menunjukkan sekitar 80% teman sebaya Gen Z memiliki keberatan moral yang sama.

Gitlin menanggapi dengan perspektif horizon waktu, bukan sekadar pilihan aset. “Baik emas maupun minyak bukan tempat mereka seharusnya memikirkan uang untuk 75 tahun ke depan,” katanya di CNBC Converge Live di Singapura.

Di saat yang sama, industri manajemen aset sedang berlomba merebut generasi yang aturan mainnya berbeda. Gen Z tidak hanya bertanya “berapa return,” tetapi juga “return dari apa, dan dengan konsekuensi apa.”

Masalahnya membesar karena krisis kepercayaan. Laporan World Economic Forum (Global Retail Investor Outlook) menyebut kepercayaan Gen Z pada institusi keuangan tradisional turun dalam dua tahun terakhir, dan hampir 20% non-investor menolak masuk pasar karena tidak percaya pada lembaga keuangan.

Di pinggirannya tumbuh “financial nihilism,” yaitu penolakan terhadap tonggak kekayaan klasik seperti rumah, pensiun, atau portofolio mapan. Ini bukan sekadar malas menabung, melainkan reaksi terhadap dunia yang terasa tidak adil dan terlalu mahal untuk “menang” dengan cara lama.

Gitlin menawarkan resep yang terdengar kuno, tetapi relevan: bangun “paper portfolio,” lakukan riset due diligence, dan fokus pada fundamental. Ia bahkan menyarankan pemanfaatan alat AI untuk membantu membaca laporan, membandingkan valuasi, dan memahami bisnis.

Intinya adalah menggeser fokus dari “menebak harga besok” menjadi “memahami nilai beberapa tahun.” Dalam bahasa Gitlin, mencoba timing pasar komoditas “super, super hard” bahkan bagi profesional, apalagi bagi anak 13 tahun.

Namun konteks saat ini membuat nasihat itu tidak mudah dijual. Konflik geopolitik membuat komoditas seperti minyak dan emas tampak sebagai simbol, bukan sekadar instrumen, sehingga keputusan investasi berubah menjadi pernyataan moral.

Di sisi lain, pasar menunjukkan daya tahan yang mengejutkan. MSCI World Index disebut telah menghapus penurunan 3,29% pascakonflik dan diperdagangkan hampir 2% di atas penutupan 2 Maret, ketika sesi pertama setelah permusuhan pecah.

Gitlin menyebut pasar “super resilient” karena investor melihat tiga sampai lima tahun ke depan, yaitu laba dan profitabilitas perusahaan. Pernyataan ini menggambarkan logika pasar modern: berita buruk bisa kalah oleh proyeksi cashflow dan ekspektasi suku bunga.

Data lain yang menarik adalah pemenang pasar tahun ini justru beberapa importir energi besar. Kospi Korea Selatan disebut naik 50% dan indeks Taiwan naik 30%, jauh melampaui kenaikan S&P 500 sekitar 3%.

Ini menantang asumsi sederhana bahwa perang dan gangguan rantai pasok otomatis menghancurkan semua aset berisiko. Investor global tampaknya membedakan antara “risiko headline” dan “risiko pendapatan,” lalu memilih bertahan pada sektor yang dinilai tetap mencetak laba.

Meski begitu, Gitlin memberi peringatan yang sangat material: durasi harga minyak yang tinggi. Jika minyak bertahan mahal terlalu lama, inflasi naik, pertumbuhan turun, dan pasar akan bereaksi lebih keras daripada sekadar fluktuasi harian.

Nasihat Gitlin kuat pada satu hal: mengembalikan investasi menjadi proses membangun kekayaan, bukan arena adrenalin. Paper portfolio dan riset fundamental adalah cara melatih disiplin, sekaligus menurunkan biaya “kesalahan pertama” yang sering membuat investor muda kapok.

Tetapi ada titik yang perlu dikritisi: konflik moral Gen Z tidak bisa diselesaikan hanya dengan menyuruh mereka membeli indeks dan melupakan komoditas. Bagi banyak anak muda, pasar bukan netral, karena uang mengalir ke industri yang mereka anggap memperpanjang masalah.

Di sinilah institusi keuangan sering gagal membaca zaman. Ketika hampir 20% non-investor menolak karena distrust, jawaban yang dibutuhkan bukan cuma edukasi, melainkan transparansi, tata kelola, dan produk yang selaras dengan nilai.

Gitlin benar bahwa komoditas sulit ditiming dan bukan fondasi rencana 75 tahun. Namun industri juga perlu mengakui bahwa “ketertarikan pada dunia” yang ia serukan mencakup isu iklim, perang, dan etika rantai pasok, bukan hanya P/E ratio.

Jika Gen Z merasa investasi adalah pilihan antara “cuan” dan “nurani,” mereka akan memilih keluar. Maka jalan tengahnya adalah membangun portofolio jangka panjang yang tetap sadar dampak, misalnya dengan mandat ESG yang ketat, engagement pemegang saham, atau filter sektor yang jelas.

Masalah berikutnya adalah bahasa. Menyebut investasi sebagai “hobby” memang mengkritik spekulasi, tetapi juga bisa terdengar meremehkan cara Gen Z belajar lewat komunitas dan platform digital.

Yang lebih tepat adalah membedakan antara “belajar” dan “berjudi.” Gen Z butuh ruang eksperimen yang aman, tetapi juga butuh peta jalan menuju kebiasaan finansial yang tahan badai.

Perdebatan emas versus minyak akhirnya bukan soal komoditas, melainkan soal arah hidup finansial. Gitlin mengajak Gen Z mengunci fokus pada saham, obligasi, dan kondisi makro, karena kekayaan jarang lahir dari reaksi sesaat.

Namun pelajaran yang lebih besar adalah ini: pasar boleh resilien, tetapi kepercayaan publik tidak otomatis pulih. Jika institusi ingin Gen Z kembali berinvestasi, mereka harus membuktikan bahwa “jangka panjang” juga berarti tanggung jawab jangka panjang.

Mungkin pertanyaan paling penting bagi investor muda bukan “aset apa yang naik,” melainkan “nilai apa yang ingin saya biayai.” Dan di tengah dunia yang panas oleh perang dan inflasi, keberanian terbesar bisa jadi bukan trading cepat, melainkan konsistensi yang etis dan sabar. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Mei 2026)