Tinta Tato PhotoTat: Tato Bisa Hilang dengan Cahaya

Live Science

Live Science

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Tinta tato baru bernama PhotoTat menjanjikan tato yang bisa “dinyalakan” dan “dimatikan” dengan cahaya, sehingga gambar di kulit dapat berubah atau tampak lenyap tanpa laser penghapus tato. Para peneliti melaporkan pigmen ini dapat aktif hanya dalam 2–3 detik memakai LED UV 365 nm, lalu memudar dalam hitungan detik saat terkena sinar matahari terang.

Selama ini, tato identik dengan permanen, sementara penghapusannya mahal, menyakitkan, dan tidak selalu bersih. Di sisi lain, kebutuhan untuk menyembunyikan tato masih nyata, dari tuntutan kerja, norma sosial, hingga tekanan keluarga.

Di ranah medis, tato penanda untuk radioterapi atau pembedahan sering membantu akurasi, tetapi meninggalkan jejak psikologis setelah terapi selesai. Di titik inilah gagasan “tato yang bisa dihapus sementara” menjadi lebih dari sekadar tren estetika.

PhotoTat bekerja seperti sakelar cahaya karena memakai zat pewarna fotochromic, senyawa peka cahaya yang berubah warna ketika terkena panjang gelombang tertentu. Pewarna ini dikemas dalam nanopartikel polymethyl methacrylate (PMMA), plastik medis mirip kaca yang juga digunakan pada implan dan dermal filler.

Menurut Carson Bruns, profesor madya teknik biomedis University of Colorado Boulder dan salah satu penulis studi, LED UV 365 nm dapat mengaktifkan pigmen dalam 2–3 detik. Dalam pencahayaan indoor normal, warna dapat bertahan dari hitungan jam hingga hari, tetapi “terhapus” dalam hitungan detik ketika kulit terkena matahari luar ruang yang terang.

Keunikannya, pigmen tetap berada di kulit, tetapi penampakan tato berubah-ubah sesuai paparan cahaya. Tim Bruns melaporkan tiga kanal warna utama—biru, magenta, dan kuning—tetap bisa “disakelarkan” di kulit selama sekitar 1,4 sampai 2,2 tahun, sebagaimana tertulis dalam studi di jurnal Matter & Light yang terbit 9 Oktober.

Sistem tiga warna ini memungkinkan bagian tato yang berbeda aktif oleh panjang gelombang berbeda, sehingga desain bisa dikustomisasi saat itu juga. Contoh yang disebutkan, bagian magenta dapat dinyalakan dengan cahaya hijau, sementara pigmen kuning aktif oleh cahaya biru, membuka kemungkinan kombinasi dari “ceri ungu” hingga “sekumpulan hati kuning.”

Bruns juga menguji setiap iterasi tinta pada kulitnya sendiri, dengan pola seperti sisik yang berfungsi sebagai “wadah eksperimen.” Ia menyebut efeknya seperti “trik putri duyung ajaib,” karena sebagian sisik seolah muncul dari ketiadaan atau berubah warna saat diaktifkan.

Teknologi ini dapat digabung dengan tinta tato konvensional, misalnya desain hitam permanen yang menyimpan elemen PhotoTat tersembunyi. Secara komersial, baru tinta ungu yang dipasarkan setelah melewati serangkaian uji medis pihak ketiga, namun harganya masih tinggi, sekitar 100 dolar AS untuk botol kecil.

Keyword “tinta tato yang bisa hilang” terdengar seperti janji kebebasan, tetapi juga membuka bab baru tentang kontrol atas tubuh di ruang publik. Jika tato dapat dimatikan “untuk satu momen” demi atasan, keluarga, atau norma, maka teknologi ini bukan hanya memberi pilihan, melainkan juga bisa memperkuat tekanan agar identitas tertentu disembunyikan.

Di sisi lain, nilai sosial PhotoTat paling meyakinkan justru pada fungsi medis, bukan gaya hidup. Tato penanda radioterapi yang dapat dibuat tak terlihat setelah terapi dapat mengurangi beban psikologis, karena tubuh tidak harus menyimpan “stempel pengalaman” seumur hidup.

Namun ada pertanyaan kritis yang perlu dijawab sebelum tren ini meluas, yakni keamanan jangka panjang, standar regulasi, dan kesenjangan akses. Ketika satu botol kecil dihargai 100 dolar AS, inovasi mudah berubah menjadi simbol kelas, di mana “tato fleksibel” hanya dinikmati kelompok tertentu.

Aspek lain yang patut dicermati adalah klaim durabilitas 1,4–2,2 tahun yang terdengar impresif, tetapi tetap terbatas. Konsumen perlu memahami bahwa ini bukan penghapus permanen, melainkan sistem tampilan yang bisa dimodulasi, sementara pigmen tetap tertanam di kulit.

PhotoTat memperlihatkan bagaimana sains mengubah sesuatu yang dulu final menjadi bisa dinegosiasikan, bahkan pada level kulit. Ia menawarkan jalan tengah antara ekspresi diri dan kebutuhan situasional untuk menyembunyikan tato, sekaligus membuka manfaat medis yang konkret.

Tetapi pertanyaan akhirnya bukan hanya “bisakah tato dimatikan,” melainkan “siapa yang akan meminta kita mematikannya, dan mengapa.” Jika teknologi ini benar-benar menjadi arus utama, masyarakat perlu memastikan kebebasan memilih tetap milik pemilik tubuh, bukan milik norma yang menekan. (Orbit dari berbagai sumber, 12 Oktober 2026)