Literasi Keuangan Pasangan dan Peran CFO di Rumah

Future Nexus

Future Nexus

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan pasangan sering terasa rapi di kantor, tetapi berantakan di rumah. Riset Mercury “The New Economics of Modern Love” pada 1.400 orang dewasa AS menunjukkan 57% pasangan merasa percaya diri soal uang, namun kepemimpinan finansial masih timpang gender.

(Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Di ruang rapat, banyak eksekutif fasih membaca KPI, anggaran, dan target pendapatan. Di meja makan, bahasa yang muncul justru “coba-coba,” “ribut kartu kredit,” atau “biar pasangan yang urus.”

Kontras ini bukan sekadar soal kemampuan berhitung. Lindsey Stanberry, pendiri The Purse, menyebutnya masalah kepemimpinan: menjadi “dual CFO” yang sama percaya dirinya di karier dan di rumah.

(Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Survei Mercury memperlihatkan rasa percaya diri tidak selalu sejalan dengan kompetensi. Lebih banyak pria merasa percaya diri, orang berpenghasilan lebih tinggi lebih yakin, dan pasangan menikah lebih percaya diri dibanding yang belum menikah.

Namun ada angka yang mengganggu: hampir separuh responden mengaku belajar mengelola uang lewat trial and error. Ini mengisyaratkan literasi keuangan pasangan masih bertumpu pada “biaya kesalahan,” bukan pembelajaran terstruktur.

Kesenjangan kepemimpinan terlihat jelas saat pria mengidentifikasi diri sebagai pemimpin finansial hampir dua kali lipat dari perempuan, 38% berbanding 21%. Meski begitu, sekitar 80% pasangan mengatakan pembagian urusan uang terasa adil.

Rasa “adil” ini patut dibaca hati-hati. Keadilan bisa berarti pembagian tugas berjalan, tetapi pengakuan atas otoritas dan keputusan strategis belum setara.

Stanberry memotret pola rumah tangga yang klasik: perempuan sering menjadi “penjaga kata sandi” dan pembayar tagihan. Pria lebih sering memosisikan diri sebagai pengambil keputusan jangka panjang, seperti arah investasi atau struktur akun.

Ini membelah pekerjaan finansial menjadi dua kelas: operasional versus strategis. Eksekusi harian terlihat melelahkan tetapi “tidak bergengsi,” sementara visi jangka panjang diberi label kepemimpinan.

Polanya paralel di dunia korporasi. Stanberry mengingatkan bahwa perempuan hanya sekitar 19% dari peran C-suite di industri jasa keuangan, dan di Fortune 500 hanya sekitar 8–10% CEO serta 17–18% CFO.

Artinya, bahkan ketika perempuan hadir di puncak, mereka sering ditempatkan pada fungsi yang dianggap “lunak” dibanding peran yang dekat dengan data, investasi, dan kontrol finansial. Di rumah, kerja finansial perempuan juga besar, tetapi sering tidak dibaca sebagai “memimpin uang.”

Di sisi literasi, informasi sebenarnya melimpah: sekolah, influencer, hingga AI. Tetapi indeks P-Fin TIAA Institute menunjukkan orang dewasa AS hanya menjawab benar 49% pertanyaan literasi keuangan, dan angka itu stagnan sejak 2017.

Masalahnya bukan kekurangan konten, melainkan jalur pembelajaran yang relevan dan tepat waktu. Stanberry menekankan literasi keuangan seharusnya berbasis tujuan hidup, bukan sekadar kefasihan spreadsheet.

Celakanya, pasar aplikasi finansial justru tumbuh cepat di tengah stagnasi literasi. Nilai pasar global perangkat lunak keuangan personal diperkirakan US$1,35 miliar pada 2025 dan diproyeksikan hampir dua kali lipat dalam satu dekade.

Contohnya, Monarch Money menggalang US$75 juta pada valuasi US$850 juta di 2025, dan memosisikan diri sebagai “operating system” keuangan personal. Tandem, aplikasi transparansi uang untuk pasangan tanpa akun gabungan, diakuisisi Reseda Group pada 2025, sementara Honeydue menawarkan pelacakan pengeluaran bersama gratis.

Mercury sendiri meluncurkan Mercury Personal untuk akun bersama dengan akses fleksibel. Tetapi Stanberry memberi peringatan: produk tidak boleh menghapus friksi yang sehat, karena friksi itulah yang memaksa pasangan tetap berdialog.

(Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Riset ini terasa optimistis sekaligus menyimpan alarm. Jika 80% merasa “adil” saat perempuan jauh lebih jarang diakui sebagai pemimpin finansial, maka standar keadilan kita mungkin terlalu rendah.

Kita sering menganggap urusan uang sebagai soal siapa yang “paling paham investasi.” Padahal, membangun sistem pembayaran, mengingat jatuh tempo, menegosiasikan prioritas belanja, dan menjaga arus kas rumah tangga adalah kerja CFO yang nyata.

Label “pemimpin” kerap melekat pada yang membuat keputusan besar sesekali, bukan pada yang mencegah kebocoran setiap hari. Akibatnya, perempuan menjalankan fungsi pengendalian, tetapi tidak memperoleh kapital sosial berupa pengakuan kepemimpinan.

Di titik ini, fintech bisa membantu transparansi, tetapi juga berisiko menjadi tempat bersembunyi dari percakapan yang tidak nyaman. Aplikasi dapat merapikan angka, tetapi tidak bisa menggantikan kesepakatan nilai dan tujuan hidup yang menjadi inti literasi keuangan pasangan.

Yang paling penting, “dual CFO” bukan identitas elitis untuk eksekutif. Itu adalah cara berpikir bahwa kepercayaan diri di kantor seharusnya menular ke rumah, dan kebiasaan disiplin di rumah seharusnya menguatkan posisi di kantor.

(Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)

Riset Mercury dan suara Stanberry menyorot satu paradoks: banyak pasangan merasa baik-baik saja, tetapi masih belajar lewat kesalahan yang mahal. Kepercayaan diri tanpa kerangka belajar bisa membuat ketimpangan terlihat wajar, bahkan terasa “adil.”

Barangkali pertanyaan yang perlu diajukan bukan “siapa yang pegang uang,” melainkan “siapa yang diakui memimpin keputusan uang.” Jika kepemimpinan finansial di rumah dibagi setara dan dibicarakan terbuka, mungkin kita tidak hanya lebih kaya angka, tetapi juga lebih matang sebagai pasangan.

(Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)