Trump-Erdoğan dan NATO Ankara: Arah Baru Kerja Sama Pertahanan

Fox News

Fox News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Trump dan Erdoğan menjadi keyword utama jelang NATO Ankara, setelah Donald Trump terang-terangan berkata ia datang ke KTT NATO di Turki “karena Erdoğan”. Pernyataan 24 Juni itu menandai pergeseran besar relasi AS-Turki, meski sengketa S-400 Rusia dan isu Hamas masih membayangi. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Terjemahan akurat artikel sumber: Presiden Donald Trump mengatakan ia menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, untuk satu alasan: Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan. “Saya pergi karena Erdoğan,” kata Trump kepada wartawan pada 24 Juni, menyebut pemimpin Turki itu “seorang teman” dan “pemimpin yang dihormati,” sambil memberi sinyal kerja sama pertahanan Washington-Ankara bisa menguat. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

KTT dimulai Selasa di Ankara, dan komentar itu menegaskan perubahan mencolok hubungan AS-Turki. Beberapa tahun lalu, setelah Turki menerima sistem pertahanan udara S-400 Rusia pada 2019, Washington mengeluarkan Turki dari program jet tempur F-35 dan pada tahun berikutnya menjatuhkan sanksi kepada badan pengadaan pertahanan Turki. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Hari ini, meski banyak sengketa belum selesai, Turki makin sulit disisihkan saat NATO menghadapi Rusia, ketidakstabilan Timur Tengah, dan Laut Hitam yang kian diperebutkan. Mantan Duta Besar AS untuk Turki James Jeffrey menyebut Turki “krusial” bagi pemerintahan Trump, dan Gedung Putih menyatakan Trump akan bertemu bilateral dengan Erdoğan di KTT NATO. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Jeffrey menyebut kedekatan Trump-Erdoğan nyata, tetapi bukan sekadar chemistry personal. Ia menggambarkan keduanya sama-sama menyukai figur “tough guy” yang tegas, namun ia menekankan alasan strategis: Turki “esensial” untuk menjaga perimeter AS di sekitar Eurasia karena kekuatan militer, posisi geografis, dan kemauan memproyeksikan kekuatan. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Can Kasapoğlu dari Hudson Institute menilai NATO kembali ke pakem Perang Dingin, yakni pertahanan kolektif. Dalam situasi itu, kemampuan hard power menjadi mata uang utama, dan negara yang membawa kapasitas militer besar akan mendapat “perlakuan VIP”. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

NATO menyepakati target belanja pertahanan 5% PDB untuk seluruh sekutu pada 2025, setelah bertahun-tahun Trump mengkritik sekutu Eropa karena belanja lemah. Kombinasi serangan retorik Trump terhadap NATO dan perang Rusia-Ukraina mengubah kalkulasi, sehingga pragmatisme mengalahkan rasa jengkel lama terhadap Ankara. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Turki memiliki militer terbesar kedua di NATO setelah Amerika Serikat. Turki menguasai Selat Bosporus dan Dardanella, berbatasan dengan Suriah, Irak, dan Iran, serta membangun salah satu industri pertahanan terbesar di NATO. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Rich Outzen dari Atlantic Council menegaskan “tidak ada keamanan nyata bagi NATO tanpa integrasi penuh Turki.” Ketika Rusia menekan Laut Hitam dan Timur Tengah bergejolak, pintu gerbang geografis Turki berubah menjadi kartu truf yang sulit digantikan oleh sekutu lain. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Jeffrey menyebut Turki “esensial” agar Ukraina tetap bertahan, dengan merujuk pada Konvensi Montreux 1936 yang ditegakkan Ankara sehingga kapal perang Rusia tambahan tidak mudah masuk Laut Hitam. Ia juga menyinggung dukungan awal drone Bayraktar untuk Kyiv dan peran Turki sebagai perantara Ukraina-Rusia. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

“Anda tidak bisa membendung Rusia di Laut Hitam tanpa Turki,” kata Jeffrey. Kalimat itu menjelaskan mengapa NATO Ankara bukan sekadar seremoni, melainkan panggung tawar-menawar tentang akses, selat, dan logistik perang modern. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Runtuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah juga mempersempit jarak strategis AS dan Turki setelah bertahun-tahun berselisih soal Suriah. Jeffrey menilai Turki memainkan peran sentral mendukung oposisi yang akhirnya menjatuhkan Assad, dan itu memukul kepentingan Iran serta Rusia. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

“Salah satu kerugian besar Iran dalam tiga tahun terakhir adalah Suriah — dan itu semua Erdoğan,” kata Jeffrey. Jika klaim ini tepat, maka Ankara bukan lagi sekutu “merepotkan,” tetapi sekutu “penentu,” meski dengan biaya politik yang mahal. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Namun kritik tetap keras karena kebijakan luar negeri Turki di bawah Erdoğan dianggap makin menyimpang dari banyak sekutu NATO. Para pengkritik menunjuk dukungan vokal Turki kepada Hamas setelah serangan 7 Oktober 2023 terhadap Israel, kepemilikan S-400, dan upaya mendekat ke BRICS serta Shanghai Cooperation Organization. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Sinan Ciddi dari Foundation for Defense of Democracies menekankan Turki unik karena melamar ke SCO dan BRICS, dua blok yang dipimpin China dan Rusia. Ia juga menyebut Turki unik di dalam NATO karena mendukung Hamas secara terbuka sambil meminta akses lebih luas ke teknologi pertahanan canggih AS. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Erdoğan berulang kali membela Hamas dan menolak mengklasifikasikannya sebagai organisasi teroris, sehingga berseberangan dengan Washington dan banyak sekutu NATO. Posisi itu memperumit pendalaman kerja sama pertahanan AS-Turki, meski Trump menunjukkan afeksi personal kepada Erdoğan. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Ciddi menyimpulkan penghalang utama bagi keinginan Erdoğan adalah Kongres AS. Tarik-menarik ini terlihat saat pemerintahan Trump menghadapi penolakan, terutama dari Demokrat, terkait keputusan melanjutkan penjualan senjata senilai 700 juta dolar AS kepada Turki. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Anggota DPR Gregory Meeks, Demokrat teratas di Komite Luar Negeri DPR, menuduh Departemen Luar Negeri gagal membenarkan keputusan itu dan tidak cukup menjawab kekhawatiran soal S-400. Kedutaan Turki tidak segera memberi komentar, sehingga ruang spekulasi politik di Washington tetap terbuka. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Jeffrey menilai penjualan mesin jet tempur F110 lebih “terkelola” dibanding mengembalikan Turki ke program F-35. Ia menegaskan F-35 tetap terhambat S-400 karena mengoperasikan sistem Rusia bersama jet siluman paling canggih AS berisiko membocorkan teknologi sensitif. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

“F-35 adalah isu berbeda,” kata Jeffrey, dan ia menyebut masalahnya teknis, bukan semata politik. Artinya, sekalipun Trump ingin “deal besar,” batasnya bukan hanya lobi, tetapi arsitektur keamanan teknologi yang sulit ditawar. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Kedekatan Trump-Erdoğan terlihat seperti diplomasi personal, tetapi sebenarnya itu diplomasi kebutuhan. NATO Ankara memperlihatkan bahwa dalam krisis besar, aliansi sering memilih mitra yang efektif di medan strategis, walau tidak sepenuhnya sejalan secara nilai dan arah politik. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Turki memegang tombol penting: selat, industri pertahanan, dan kemampuan militer, serta pengaruh di Suriah dan Laut Hitam. Namun tombol itu juga disertai risiko, karena S-400 dan manuver Ankara ke BRICS atau SCO bisa menjadi “celah” yang menggerus kohesi NATO dari dalam. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Di sisi lain, Kongres AS berfungsi sebagai rem institusional atas impuls Gedung Putih, terutama soal transfer teknologi. Ketika Trump memuji Erdoğan sebagai “pemimpin yang dihormati,” Kongres mengingatkan bahwa penghormatan personal tidak otomatis menghapus konflik kepentingan dan ancaman kontraintelijen. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

NATO Ankara menempatkan Trump dan Erdoğan dalam satu panggung: antara pragmatisme keamanan dan pertaruhan nilai. Turki kini terlalu penting untuk dipinggirkan, tetapi terlalu kontroversial untuk dipeluk tanpa syarat. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)

Pertanyaan akhirnya sederhana namun tajam: apakah aliansi akan menguat karena menerima realitas geopolitik, atau justru rapuh karena menormalisasi ketidakselarasan strategis di dalamnya. Jawabannya akan terlihat dari satu indikator: apakah kerja sama pertahanan AS-Turki berkembang tanpa membuat NATO kehilangan kompasnya sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 13 Juli 2026)