Krisis UWV dan WIA: Dokter Asuransi Tertekan, Budaya Tak Aman

ORBITINDONESIA.COM – Krisis UWV dalam memproses WIA kini punya wajah lain, yakni dokter asuransi yang sedang pendidikan justru dipaksa mengejar produksi. Di tengah antrean WIA yang mengular, laporan EenVandaag dan AD menggambarkan beban kerja berlebihan dan budaya kerja yang disebut mirip “rezim”.

UWV, lembaga tunjangan Belanda, sedang kewalahan oleh daftar tunggu besar untuk penilaian WIA atau tunjangan disabilitas kerja. Kekurangan kapasitas dokter asuransi membuat penilaian berjalan lambat, dan puluhan ribu pemohon dibiarkan dalam ketidakpastian.

Di saat yang sama, dokter muda yang sedang menjalani spesialisasi dokter asuransi menjadi tulang punggung operasional. Mereka berlatih di NSPOH Utrecht atau SGBO Radboudumc Nijmegen, dengan pola empat hari praktik di lokasi UWV dan satu hari pelajaran.

Namun pola ideal itu bergeser ketika target produksi mendominasi. Seorang peserta pendidikan mengatakan, jika mereka memakai waktu untuk belajar, maka jam itu harus “dibayar” dengan produksi tambahan.

Investigasi EenVandaag dan AD menyebut dokter dalam pelatihan kini hampir setengah dari total dokter UWV. Lebih dari itu, mereka juga disebut mengerjakan sekitar setengah beban kerja penilaian, meski statusnya masih peserta pendidikan.

Konsekuensinya bukan hanya kelelahan, melainkan kualitas pembelajaran yang tergerus. Ketika pendidikan menjadi selingan, risiko keputusan penilaian WIA yang kurang matang ikut meningkat, dan itu menyentuh hak hidup pemohon.

Laporan itu juga menyorot budaya kerja yang dinilai tidak aman. Ada kesaksian tentang “kolega menangis di lantai kerja” dan “dokter pembimbing berteriak”, yang menunjukkan kegagalan manajemen stres dan kepemimpinan.

Masalah diperparah oleh skema kontrak yang membuat keluar hampir mustahil. Dokumen yang dilihat media menyebut denda hingga €70.000 bila peserta tidak menyelesaikan pendidikan, sehingga banyak yang bertahan sampai dua tahun setelah lulus ketika kontrak berakhir.

Di titik ini, backlog WIA dan krisis budaya kerja saling mengunci. UWV membutuhkan tenaga untuk mengejar antrean, tetapi cara mengejar antrean justru menggerus tenaga dan memperbesar kemungkinan attrition jangka panjang.

Perhimpunan profesi NOVAG sudah berkali-kali mengirim surat ke UWV dan RGS, regulator yang memberi sertifikasi lokasi pendidikan. NOVAG meminta investigasi melalui kantor integritas UWV terkait intimidasi dan penyalahgunaan kuasa, tetapi hingga laporan itu terbit investigasi disebut belum dilakukan.

RGS mengakui ada pengawasan intensif selama setahun dan sebagian perbaikan terjadi. Namun iklim pendidikan masih bermasalah, dan RGS akan melakukan penyelidikan baru setelah laporan “budaya takut” mencuat.

Di sisi lain, peserta pendidikan justru khawatir jika RGS mencabut akreditasi UWV. Jika itu terjadi, mereka tidak dapat lagi melakukan penilaian WIA di UWV, dan antrean yang sudah panjang bisa meledak menjadi krisis layanan publik.

Kasus UWV memperlihatkan paradoks klasik birokrasi layanan sosial: mengejar angka untuk menyelamatkan sistem, tetapi mengorbankan manusia yang menjalankan sistem. Ketika “produksi” mengalahkan pendidikan, organisasi sedang memakan masa depannya sendiri.

Denda €70.000 terasa seperti pagar listrik yang menahan dokter muda tetap di jalur, bukan mekanisme pembinaan. Dalam iklim ketakutan, kepatuhan memang bisa dibeli, tetapi kepercayaan dan profesionalisme tidak bisa dipaksa.

UWV menyatakan “lingkungan kerja aman sangat penting” dan akan membahasnya dengan pekerja, NOVAG, dewan pekerja, dan manajemen. Namun pernyataan normatif tidak otomatis memulihkan rasa aman, apalagi jika target backlog tetap dipasang tanpa penyesuaian kapasitas.

Menteri Sosial dan Ketenagakerjaan Hans Vijlbrief menyebut sinyal ini “sangat serius” dan meminta perbaikan budaya organisasi. Tetapi mandat budaya tanpa perubahan struktur kerja sering berakhir sebagai poster di dinding, bukan perlindungan di lapangan.

Publik perlu melihat isu ini bukan sebagai drama internal, melainkan sebagai risiko tata kelola WIA. Jika dokter yang menilai kelayakan tunjangan bekerja dalam tekanan dan intimidasi, maka yang dipertaruhkan adalah keadilan keputusan bagi warga yang sakit dan rentan.

UWV berada di persimpangan antara backlog WIA dan krisis tenaga dokter asuransi, dan keduanya tak bisa diselesaikan dengan slogan “bekerja lebih keras”. Sistem membutuhkan ruang belajar yang nyata, supervisi yang sehat, dan target yang selaras dengan kapasitas.

Jika akreditasi pelatihan dicabut, antrean bisa makin parah, tetapi jika budaya takut dibiarkan, kualitas keputusan dan keberlanjutan profesi juga runtuh perlahan. Pertanyaannya, apakah UWV dan negara berani mengakui bahwa keselamatan psikologis bukan bonus, melainkan prasyarat layanan publik yang adil?

(Orbit dari berbagai sumber, 3 Juni 2026)