Trump, Netanyahu, dan Perang Israel-Hezbollah di Perbatasan Lebanon
ORBITINDONESIA.COM – Perang Israel-Hezbollah dan negosiasi AS-Iran kini terasa ditentukan dari jauh, bahkan sampai ke Metula, kota paling utara Israel di perbatasan Lebanon. Di kantor Wali Kota David Azoulay, potret Donald Trump dan bendera Amerika dipajang bukan sebagai puja-puji, melainkan sebagai protes ironis. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Azoulay menilai empat bulan terakhir kebijakan Israel “sepenuhnya digerakkan oleh Trump,” sementara Benjamin Netanyahu seperti tercekik dalam “pelukan beruang” politik Washington. Ia menunjuk Memorandum of Understanding (MoU) dengan Iran sebagai contoh, karena dokumen itu membuka jendela 60 hari perundingan dan menuntut gencatan senjata segera di semua front, termasuk Lebanon. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Namun di utara, warga masih melihat dan mendengar pertempuran di seberang pagar perbatasan. Putaran pertama pembicaraan damai AS-Iran di Swiss bahkan dilaporkan terganggu oleh bentrokan Israel-Hezbollah, menandakan betapa rapuhnya “gencatan” di atas kertas. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Galilee Panhandle, jari daratan strategis diapit perbatasan Lebanon dan Suriah, dulu dihuni sekitar 50.000 warga Yahudi Israel. Tiga tahun serangan roket Hezbollah mengosongkan komunitas, menutup bisnis, dan membuat jalan-jalan lengang meski tidak sepenuhnya kota-kota itu ditinggalkan. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Metula dievakuasi pada Oktober 2023 karena kekhawatiran infiltrasi lintas batas seperti serangan Hamas dari Gaza. Kini baru sekitar dua pertiga penduduk kembali, dan banyak yang ragu ada perubahan nyata yang mungkin terjadi. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Kobi Sarmili, peternak ayam 63 tahun dari Margaliot, meramalkan tidak akan ada gencatan senjata yang sungguh-sungguh, hanya jeda yang diselingi roket. Ia juga takut penarikan pasukan justru membuka “neraka hidup,” lalu menyimpulkan: “Trump yang menentukan untuk kami… dia menjalankan negara kami.” (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Di sisi lain, Miry Menashe, pemilik kedai kopi 41 tahun, mengulang garis resmi pemerintah Israel bahwa perang melawan Hezbollah “terpisah” dari perang Iran. Ia menuntut AS menekan Lebanon mengerahkan tentaranya ke Lebanon selatan, lengkap dengan pelatihan, persenjataan, dan sumber daya, bukan sekadar memaksakan gencatan senjata pada Israel. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Perubahan sikap publik Israel terhadap Trump tampak terukur dan tajam. Jika Oktober lalu dua pertiga warga percaya Trump memprioritaskan kebutuhan keamanan Israel setelah ia mengorkestrasi gencatan di Gaza dan menekan Netanyahu, kini 71% justru percaya Trump bisa meninggalkan kepentingan Israel dalam kesepakatan Iran di masa depan. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Angka itu memperlihatkan kecemasan baru: ketergantungan pada sekutu bisa berubah menjadi rasa tak berdaya ketika sekutu menuntut “harga” politik. MoU menjadi simbol dilema, karena ia menjanjikan jeda perang tetapi sekaligus mengikat ruang gerak Israel pada agenda diplomasi AS. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Tekanan itu bertemu dengan melemahnya posisi Netanyahu di dalam negeri. Likud dan koalisi paling nasionalis-religius dalam sejarah Israel dilaporkan turun dalam jajak pendapat, dan selama dua pekan Gadi Eisenkot mengungguli Netanyahu dalam survei “siapa paling layak memimpin.” (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Dari Washington, Wakil Presiden JD Vance melontarkan teguran yang tak lazim kepada politisi Israel yang mengkritik kesepakatan sementara. Ia menyatakan Trump “satu-satunya kepala negara di dunia” yang simpatik pada Israel saat ini, dan menyindir bahwa Israel seharusnya tidak menyerang “satu-satunya sekutu kuat yang tersisa.” (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Vance juga menekankan diplomasi sebagai pasangan operasi militer, dengan kalimat yang menggemakan kritik paling keras terhadap Israel: “Anda tidak bisa membunuh jalan keluar untuk menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional.” Dalam konteks perang Gaza dan reputasi internasional Israel yang merosot, pesan itu terasa seperti peringatan sekaligus ancaman terselubung. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Kontrasnya, dari dalam kabinet Israel sendiri muncul retorika pembalasan ekstrem. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menulis, “Untuk setiap air mata ibu Israel, seribu ibu Lebanon harus menangis. Seluruh Lebanon harus terbakar!” (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Di lapangan, Kiryat Shmona kembali menjadi barometer ketahanan utara, seperti pada 1970–1980-an saat kota itu diserang kelompok militan Palestina dari wilayah Lebanon. Ancaman kemudian berubah menjadi konflik panjang dengan Hezbollah, dan kini warga menilai situasinya lebih buruk dari perang-perang sebelumnya. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Eliav Raichbach, pemilik bengkel mobil, bertahan meski garasinya terkena roket langsung pada Oktober 2024. Ia memperkirakan 40% bisnis di Kiryat Shmona belum buka kembali, dan separuh warga yang mengungsi sejak awal perang belum pulang. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Data jajak pendapat menunjukkan pukulan kebijakan pemerintah justru menghantam basis inti pemilih Likud. Ini perubahan besar bagi Kiryat Shmona, benteng Likud yang meraih hampir 50% suara pada pemilu terakhir, serta sebagian Metula yang mendukung koalisi berkuasa. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Di utara Israel, “gencatan senjata” bukanlah kata, melainkan pengalaman sehari-hari yang bisa diuji dengan telinga dan mata. Ketika warga masih mendengar dentuman dari seberang perbatasan, mereka membaca MoU bukan sebagai solusi, tetapi sebagai jeda yang bisa menipu. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Dalam situasi seperti ini, Trump tampil sebagai paradoks: sekutu yang dianggap menyelamatkan sandera, namun juga pemimpin asing yang seolah mengendalikan keputusan nasional Israel. Potret Trump di kantor wali kota menjadi simbol psikologis bahwa ketergantungan strategis bisa berubah menjadi rasa dipaksa. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Netanyahu berada di titik rapuh karena tekanan datang dari dua arah sekaligus. Washington menuntut disiplin diplomasi, sementara sebagian tokoh dalam koalisinya mendorong eskalasi, dan warga perbatasan hanya ingin kepastian pulang tanpa roket. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Retorika seperti Ben-Gvir mungkin memuaskan emosi sebagian publik yang terluka, tetapi ia mempersempit ruang diplomasi dan memperburuk isolasi internasional. Jika Vance benar bahwa simpati global pada Israel menipis, maka bahasa “Lebanon harus terbakar” justru mempercepat hilangnya simpati itu. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Yang paling mengganggu adalah jurang antara strategi elite dan realitas kota-kota kecil. Metula dan Kiryat Shmona tidak menilai perang lewat konferensi pers, melainkan lewat toko yang tutup, tetangga yang belum kembali, dan anak-anak yang tumbuh dengan suara sirene. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Ketika basis Likud sendiri mulai bergeser, itu menandakan krisis bukan hanya militer, tetapi juga kontrak politik. Jika “keamanan” adalah janji utama Netanyahu, maka utara yang sepi dan ekonomi lokal yang lumpuh menjadi dakwaan paling keras. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Raichbach, mantan pendukung Netanyahu, menyimpulkan dengan dingin: “Tidak ada orang yang tak tergantikan, bahkan Bibi ada penggantinya.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ia memuat pesan bahwa perang berkepanjangan dapat mengubah loyalitas paling ideologis sekalipun. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)
Pertanyaan yang tersisa bukan hanya apakah MoU akan menghentikan roket, tetapi siapa yang benar-benar memegang kemudi keputusan Israel. Jika warga perbatasan merasa negara mereka “dijalankan” dari Washington, maka krisis berikutnya bisa bukan sekadar di garis depan, melainkan di dalam kepercayaan publik sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 26 Juni 2026)