Budaya Kerja dan Say-Do Gap: Studi Ungkap Krisis Kepemimpinan

Carroll County Mirror-Democrat

Carroll County Mirror-Democrat

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Budaya kerja dan say-do gap kembali jadi sorotan setelah Culture at Work Study dari bink menyebut 91% pemimpin kultur, komunikasi, dan HR melihat jurang antara pesan dan perilaku pimpinan sebagai racun budaya organisasi. Temuan ini menegaskan culture perusahaan bukan dibentuk oleh slogan nilai, melainkan oleh apa yang pemimpin hadiahkan, biarkan, dan ulangi setiap hari.

Di banyak organisasi, poster nilai perusahaan terpampang rapi, tetapi keputusan harian sering berbicara sebaliknya. Karyawan membaca budaya kerja dari rapat, promosi, dan toleransi terhadap pelanggaran, bukan dari pidato tahunan.

Studi nasional ini disusun bink bersama Audience Audit dengan 300 responden lintas industri yang menangani internal communications, HR, employee experience, hingga strategi organisasi. Format anonim dipilih agar jawaban lebih jujur, terutama saat menilai perilaku senior leaders.

Ann Melinger, CEO bink, menyebut kesepakatan tentang “budaya yang baik” sebenarnya tinggi, tetapi runtuh ketika perilaku pimpinan tidak selaras dengan pesan. Ia menekankan karyawan belajar nilai sejati organisasi dari apa yang pemimpin “reward, tolerate, and reinforce” setiap hari.

Masalahnya, banyak perusahaan masih memperlakukan krisis budaya sebagai problem komunikasi. Padahal, studi ini menempatkannya sebagai persoalan bisnis yang memukul kinerja dan retensi.

Data studi menunjukkan 87% responden mengatakan budaya kerja memengaruhi business performance, dan 84% menyebutnya berdampak pada employee retention. Angka ini memperkuat argumen bahwa budaya bukan “soft issue”, melainkan mesin atau rem bagi eksekusi strategi.

Temuan paling tajam muncul pada say-do gap: 91% menilai ketidaksinkronan pesan dan perilaku pimpinan adalah salah satu kekuatan paling merusak di dalam organisasi. Ketika pemimpin mengampanyekan kolaborasi tetapi memberi insentif pada kompetisi internal, budaya yang lahir adalah saling sikut.

Studi juga menemukan 54% responden menilai pihak yang bertanggung jawab memperbaiki kultur tidak punya otoritas mengubah sistem yang membentuknya. Ini menggambarkan paradoks akuntabilitas: diminta memperbaiki, tetapi tidak diberi kunci ruang mesin.

Lebih jauh, 68% setuju sistem struktural lebih menentukan budaya daripada messaging. Ini berarti kampanye internal, town hall, dan newsletter tidak akan cukup jika KPI, promosi, dan mekanisme evaluasi tetap memberi hadiah pada perilaku yang salah.

Angka 78% menyatakan karyawan belajar budaya nyata dari apa yang ditoleransi senior leaders. Dalam praktiknya, satu pelanggaran yang dibiarkan bisa menghapus seribu kalimat nilai perusahaan.

Di sini terlihat budaya kerja beroperasi seperti pasar: ia mengikuti insentif, bukan niat. Ketika organisasi mengabaikan desain sistem, mereka sedang membiarkan budaya dibentuk oleh kebetulan dan politik kantor.

Melinger menyimpulkan hambatan besar budaya kuat adalah “delegated responsibility without delegating authority.” Pernyataan itu menohok karena banyak perusahaan menugaskan HR atau tim culture sebagai pemadam kebakaran, padahal sumber api ada di keputusan eksekutif.

Studi bink mengingatkan kita bahwa budaya kerja bukan sekadar “suasana”, melainkan arsitektur kekuasaan di kantor. Jika pemimpin ingin budaya berubah, maka yang harus digeser pertama adalah apa yang dihargai, siapa yang dipromosikan, dan pelanggaran apa yang ditindak.

Say-do gap sering lahir bukan dari niat buruk, tetapi dari kompromi yang dianggap “realistis.” Namun bagi karyawan, kompromi itu terbaca sebagai standar ganda, dan standar ganda adalah awal sinisme.

Perusahaan kerap memilih jalan cepat: mempercantik narasi, mengganti tagline, atau meluncurkan program engagement. Langkah itu bisa membantu, tetapi hanya kosmetik jika sistem bonus, target, dan beban kerja tetap memaksa orang melanggar nilai yang sama-sama diucapkan.

Yang paling berbahaya adalah ketika budaya didefinisikan sebagai urusan departemen tertentu. Budaya sejatinya adalah produk sampingan dari keputusan puncak, sehingga tanggung jawab utamanya tidak bisa dipindahkan ke bawah.

Karena itu, ukuran keberhasilan budaya tidak cukup berupa survei kepuasan atau eNPS saja. Ukuran paling jujur adalah pola keputusan: siapa yang “selamat” setelah melanggar nilai, dan siapa yang “dihukum” ketika memegang nilai.

Culture at Work Study menegaskan budaya kerja dibentuk oleh tindakan, bukan pernyataan. Ketika 91% pemangku fungsi budaya melihat say-do gap sebagai racun, pesan yang muncul sederhana: kepemimpinan harus berhenti hanya “berkata” dan mulai “mendesain sistem.”

Pertanyaannya kini bukan apakah perusahaan punya nilai, melainkan apakah nilai itu punya konsekuensi nyata. Jika tidak ada konsekuensi, yang tersisa hanyalah dekorasi moral di dinding kantor.

Pada akhirnya, budaya yang sehat lahir saat otoritas dan akuntabilitas berjalan bersama, dari level paling atas. Dan mungkin refleksi terpenting bagi setiap pemimpin adalah ini: perilaku apa yang Anda toleransi hari ini, yang akan menjadi budaya organisasi Anda besok? (Orbit dari berbagai sumber, 28 September 2026)