Efektivitas Vaksin COVID-19 2025-26 Diperdebatkan, Studi CDC Tertahan

ABC News - Breaking News, Latest News and Videos

ABC News - Breaking News, Latest News and Videos

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Efektivitas vaksin COVID-19 kembali jadi sorotan setelah sebuah studi yang menilai vaksin COVID-19 2025-26 baru terbit, usai sempat diblokir dari laporan mingguan pemerintah federal. Studi itu memperkirakan vaksin terbaru menurunkan risiko rawat inap 55% dan kunjungan IGD/urgent care 50% pada orang dewasa sehat.

Studi ini dikerjakan peneliti CDC bersama tim dari sejumlah negara bagian, termasuk California, Texas, New York, dan Utah. Mereka menilai efektivitas vaksin COVID-19 2025-26 pada orang berusia 18 tahun ke atas tanpa gangguan imun, selama musim gugur dan musim dingin 2025.

Awalnya, riset tersebut direncanakan terbit di Morbidity and Mortality Weekly Report (MMWR) pada Maret, namun tertahan. Pada akhirnya, studi itu terbit di jurnal peer-reviewed JAMA Network Open.

Angka kunci riset ini sederhana dan kuat: risiko rawat inap akibat COVID-19 turun 55% pada penerima vaksin, dibanding yang tidak divaksin. Risiko kunjungan IGD atau layanan urgent care terkait COVID-19 juga turun 50%.

Penulis mengakui keterbatasan penting, yakni mereka tidak menghitung apakah responden pernah terinfeksi COVID-19 sebelumnya atau sudah menerima vaksin sebelumnya. Artinya, angka efektivitas itu bisa merepresentasikan “perlindungan tambahan” di atas kekebalan yang sudah ada.

Metodologi yang dipersoalkan adalah test-negative design, sebuah pendekatan observasional yang membandingkan status vaksinasi pasien bergejala yang tesnya positif dengan yang negatif. Desain ini lazim dipakai untuk mengukur efektivitas vaksin di dunia nyata, terutama ketika tidak ada satu basis data kesehatan raksasa yang seragam.

Dalam op-ed di The Washington Post, Direktur Pelaksana CDC Jay Bhattacharya menyatakan kekhawatiran pada metodologi tersebut. Namun studi yang sama tetap menggunakan desain itu saat dipublikasikan di JAMA Network Open, yang berarti telah melewati penelaahan ilmiah jurnal.

Peneliti juga mencatat kelemahan teknis yang bisa memengaruhi presisi, seperti pasien yang dirawat karena alasan lain selain COVID-19 dan catatan vaksinasi yang tidak lengkap. Angka vaksinasi dan rawat inap yang rendah juga membatasi sebagian analisis.

HHS menyatakan peninjauan metodologi adalah bagian dari “sains yang bertanggung jawab,” dan lebih baik menunda daripada berisiko salah. Pernyataan itu menegaskan CDC mengomunikasikan ketidakpastian dan keterbatasan sebelum publikasi.

Yang membuat publik gelisah bukan hanya angka efektivitas vaksin COVID-19, melainkan proses penyampaian informasinya. Ketika studi tentang vaksin tertahan di kanal resmi pemerintah, ruang kosong itu cepat diisi kecurigaan, spekulasi, dan narasi anti-sains.

Dr. Peter Hotez menilai pemblokiran itu bertentangan dengan tujuan kesehatan publik, karena bukti efektivitas justru perlu ditampilkan untuk mendorong vaksinasi. Ia menyebut keputusan tersebut membingungkan, karena hasilnya sejalan dengan temuan sebelumnya bahwa vaksin menurunkan risiko sakit berat.

Dr. Paul Offit juga menuntut kritik metodologi yang spesifik, bukan label “cacat” yang menggantung. Ia bahkan mendorong debat terbuka dengan pakar yang memahami test-negative design, agar keputusan tidak menjadi sepihak dan publik tidak kehilangan informasi penting.

Kontroversi ini tak bisa dilepaskan dari konteks politik, karena CDC berada di bawah HHS yang dipimpin Robert F. Kennedy Jr., pengkritik vaksin COVID-19. Rekam jejaknya mencakup klaim keliru seperti menyebut vaksin COVID-19 sebagai “vaksin paling mematikan,” serta pernah meminta FDA mencabut otorisasi semua vaksin COVID-19.

Di sisi lain, pejabat kesehatan menegaskan vaksin COVID-19 aman dan efektif, didukung uji klinis puluhan ribu orang dan dampak penyelamatan jutaan nyawa. Offit mengingatkan bahwa sejak 2020, vaksin terbukti paling kuat mencegah penyakit berat, rawat ICU, dan kematian, meski perlindungan terhadap gejala ringan bisa menurun seiring waktu.

Studi ini tidak menawarkan kesempurnaan, tetapi menawarkan arah: vaksin COVID-19 2025-26 tetap memberi perlindungan nyata terhadap sakit berat. Dalam krisis kesehatan, pertarungan terpenting sering kali bukan antara “pro” dan “kontra,” melainkan antara keterbukaan bukti dan kabut keputusan.

Jika metodologi memang perlu dikritik, publik berhak melihat kritik yang rinci, data pembanding, dan penjelasan yang bisa diuji. Tanpa itu, yang tumbuh bukan kehati-hatian ilmiah, melainkan ketidakpercayaan yang mahal biayanya.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah lembaga kesehatan ingin memenangi debat politik, atau memenangi kepercayaan publik dengan transparansi yang konsisten. Di situlah efektivitas vaksin bertemu efektivitas komunikasi, dan keduanya sama-sama menentukan nyawa. (Orbit dari berbagai sumber, 30 Juni 2026)