Program Literasi Keuangan Kampus: UTC Latih Duta Finansial Mahasiswa
ORBITINDONESIA.COM – Program literasi keuangan kampus kini tidak lagi sekadar poster dan tautan, karena University of Tennessee at Chattanooga (UTC) meluncurkan Financial Literacy Ambassador Program. Inisiatif ini menjadikan mahasiswa sebagai duta finansial yang mendampingi teman sebaya menghadapi realitas uang kuliah, sewa, dan belanja harian.
Di banyak kampus, literasi keuangan mahasiswa sering datang terlambat, ketika utang sudah menumpuk atau kartu kredit mulai menjerat. Artikel UTC mengakui hal yang jarang diucapkan terang-terangan: tidak ada kelas personal finance yang otomatis diberikan saat mahasiswa baru masuk.
Masalahnya bukan sekadar kurang informasi, melainkan jurang antara pengetahuan dan praktik. Brosur, laman web, dan seminar satu arah kerap gagal menyentuh kecemasan paling dasar mahasiswa: “Mulai dari mana?”
Di Amerika Serikat, tekanan biaya pendidikan tinggi membuat kemampuan mengelola uang menjadi keterampilan bertahan hidup. Federal Reserve melaporkan total utang pinjaman mahasiswa AS masih berada di kisaran lebih dari US$1,7 triliun dalam beberapa tahun terakhir, menandai skala persoalan yang membayangi transisi ke dunia kerja.
UTC merespons dengan model peer-to-peer: mahasiswa melatih mahasiswa. Program ini berada di bawah Gary W. Rollins College of Business dan menggandeng Tennessee Valley Federal Credit Union (TVFCU) sebagai pendukung.
Secara naratif, kampus ingin mengganti rasa malu membicarakan uang menjadi percakapan yang normal. Secara struktural, mereka ingin menempatkan “kebiasaan finansial” sebagai bagian dari ekosistem kesejahteraan mahasiswa, bukan urusan privat semata.
Inti program ini adalah Financial Literacy Ambassadors, mentor sebaya yang dilatih untuk memberi panduan praktis. Mereka tidak diposisikan sebagai “pakar”, melainkan teman yang pernah mengalami kebingungan yang sama dan bisa menerjemahkan konsep ke tindakan.
Dua figur yang disorot adalah Alexis Henry, mahasiswa akuntansi, dan Ian Tindle, mahasiswa ekonomi. Alexis menekankan aturan dan struktur agar uang “tidak terasa sengaja dibuat rumit”, sementara Ian mengusung pendekatan relevan tanpa jargon.
Model ini menarik karena menyasar titik lemah program literasi keuangan konvensional: rendahnya keterlibatan. Riset akademik dan laporan lembaga kebijakan kerap menunjukkan bahwa edukasi finansial paling efektif ketika kontekstual, berulang, dan disertai pendampingan, bukan sekali duduk lalu selesai.
Ambassador UTC juga tidak hanya memberi konsultasi, tetapi menggelar acara kampus. Mereka merancang workshop pinjaman mahasiswa, sesi pop-up budgeting, dan promosi sumber daya yang bisa diakses sebelum masalah membesar.
Di sini terlihat pergeseran dari “edukasi” menjadi “intervensi ringan” yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saat mahasiswa diajak membahas uang di ruang publik kampus, stigma berkurang dan peluang perubahan perilaku meningkat.
Namun ada pertanyaan penting tentang batas dan kualitas. Seberapa jauh mentor sebaya boleh memberi saran tanpa masuk wilayah konsultasi profesional, terutama soal utang, kredit, atau keputusan berisiko?
Artikel menyebut adanya pelatihan dan arahan dari Faculty Director Christi Wann. Itu sinyal bahwa program mencoba membangun pagar pengaman, meski detail standar kompetensi, protokol rujukan, dan evaluasi dampak belum dijelaskan.
Di sisi lain, keterlibatan TVFCU patut dibaca secara ganda. Dukungan lembaga keuangan bisa memperkuat sumber daya, tetapi juga menuntut transparansi agar edukasi tidak bergeser menjadi promosi produk.
Jika dikelola ketat, kemitraan semacam ini bisa menjadi win-win. Kampus mendapat pendanaan dan akses materi, sementara credit union mendapat reputasi sebagai institusi yang membantu generasi muda membangun kebiasaan sehat.
Nilai tambah lain adalah aspek karier bagi para duta. Mereka memperoleh pengalaman “advising” yang dapat diterjemahkan menjadi keunggulan kerja, terutama di bidang akuntansi, keuangan, dan layanan konsumen.
Secara desain, program ini menempatkan literasi keuangan sebagai kompetensi yang dipraktikkan, bukan dihafalkan. Itu penting karena uang bukan ujian pilihan ganda, melainkan rangkaian keputusan kecil yang berulang setiap minggu.
Program literasi keuangan kampus seperti UTC ini terasa relevan karena mengakui kenyataan: mahasiswa belajar uang lewat luka kecil sehari-hari. Ketika kampus menyediakan pendampingan sebaya, mereka sebenarnya sedang mengurangi biaya “trial and error” yang mahal.
Namun, literasi keuangan tidak boleh dipersempit menjadi sekadar disiplin individu. Banyak mahasiswa terhimpit bukan karena tidak bisa membuat anggaran, melainkan karena biaya hidup dan pendidikan yang melampaui daya jangkau.
Karena itu, program duta finansial sebaiknya dibaca sebagai alat mitigasi, bukan obat tunggal. Ia membantu mahasiswa bernapas lebih lega, tetapi tidak otomatis memperbaiki struktur biaya yang membuat napas itu sesak.
Sudut tajamnya ada pada pertanyaan tanggung jawab institusi. Jika kampus serius, mereka perlu mengukur dampak: perubahan perilaku, penurunan keterlambatan pembayaran, atau peningkatan penggunaan bantuan yang tepat.
Transparansi juga krusial agar kepercayaan tumbuh. Mahasiswa harus tahu batas peran duta, jalur rujukan ke konselor profesional, dan perlindungan privasi saat membahas masalah keuangan personal.
Meski begitu, pendekatan “real and relevant” yang diusung Ian Tindle patut diapresiasi. Di era informasi berlimpah, yang langka justru pendampingan yang sabar, sederhana, dan tidak menghakimi.
Financial Literacy Ambassador Program di UTC menunjukkan bahwa literasi keuangan mahasiswa bisa dibuat nyata lewat teman sebaya, bukan sekadar materi. Program ini mengubah uang dari topik yang memalukan menjadi percakapan yang bisa dilatih dan ditata.
Tetap ada pekerjaan rumah: standar pendampingan, evaluasi dampak, dan transparansi kemitraan harus diperkuat. Tanpa itu, program berisiko menjadi kegiatan baik yang sulit dibuktikan manfaatnya.
Pada akhirnya, pertanyaan paling jujur bagi kampus mana pun adalah sederhana. Apakah kita ingin mahasiswa hanya “bertahan” sampai wisuda, atau benar-benar tumbuh menjadi orang dewasa yang merdeka secara finansial? (Orbit dari berbagai sumber, 21 Agustus 2026)