If It’s Broke, Fix It: Produk yang Tidak Mengejar Pembeli
Industri fashion kerap dituding sebagai salah satu penyumbang kerusakan lingkungan terbesar, mengingat banyaknya bahan dan proses produksi yang berdampak buruk bagi alam. Namun di tengah stigma tersebut, Patagonia hadir sebagai anomali yang konsisten, sebuah merek yang memilih melawan arus dengan menempatkan etika dan tanggung jawab lingkungan sebagai fondasi bisnisnya.
Komitmen itu tercermin sejak dari hulu. Patagonia secara konsisten memilih bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan, katun organik, wol organik, serta serat daur ulang, yang diproduksi tanpa bahan kimia berbahaya dan berdampak lebih rendah terhadap ekosistem. Mereka juga berinvestasi dalam pengembangan material inovatif, termasuk serat alternatif berbasis tumbuhan, sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada bahan konvensional yang selama ini membebani lingkungan.
Namun keberlanjutan bagi Patagonia tidak berhenti pada bahan. Proses produksi pun menjadi ruang refleksi. Perusahaan ini berupaya menekan jejak karbon dengan mengadopsi energi terbarukan dan teknologi hemat energi di sepanjang rantai pasoknya. Melalui program Worn Wear, Patagonia mendorong konsumennya untuk memperbaiki, merawat, dan memperpanjang usia pakai produk, sebuah ajakan yang terasa kontras di tengah budaya beli-buang yang lazim dalam industri fashion.
Keberanian Patagonia juga tampak dalam cara mereka memaknai peran sebagai merek. Mereka tidak ragu menggunakan pengaruh dan sumber daya untuk bersuara dalam isu-isu lingkungan yang lebih luas: perlindungan lahan liar, hak-hak masyarakat adat, hingga penolakan terhadap proyek yang merusak alam. Dalam pandangan Patagonia, bisnis bukan hanya mesin produksi, melainkan bagian dari ekosistem sosial yang memiliki tanggung jawab moral.
Patagonia dikenal luas sebagai produsen pakaian dan perlengkapan luar ruangan untuk aktivitas seperti mendaki gunung, ski, selancar, dan berbagai petualangan alam lainnya. Namun, reputasinya tidak dibangun semata dari ketangguhan produk. Ia bertumbuh dari keberanian mengambil posisi: bahwa bisnis dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab ekologis, tanpa harus menegosiasikan kualitas.
Produk-produk ikonik Patagonia, seperti Down Sweater Jacket yang ringan namun hangat, Nano Puff Jacket dengan insulasi sintetis daur ulang, hingga Black Hole Duffel yang dikenal tangguh dan tahan cuaca, dirancang untuk dipakai lama, bukan hanya untuk mengikuti siklus tren.
Komitmen Patagonia terhadap krisis lingkungan terangkum jelas dalam misi yang mereka gaungkan: “We’re in business to save our home planet.” Sebuah pernyataan yang tidak berhenti sebagai jargon, melainkan diterjemahkan ke dalam tindakan nyata, termasuk melalui slogan praktis “If it’s broke, fix it!” ajakan sederhana namun radikal di tengah budaya konsumsi cepat. Bagi Patagonia, memperbaiki bukan sekadar soal pakaian, melainkan cara memperpanjang usia pakai, mengurangi limbah, dan Patagonia tidak memposisikan konsumennya sebagai target pasar semata, mereka justru mendorong orang untuk tidak membeli jika belum perlu. Sebuah sikap yang jarang ditemui dalam industri yang hidup dari repetisi konsumsi.
Di Indonesia, produk Patagonia dapat ditemukan melalui sejumlah toko perlengkapan outdoor di kota-kota besar, retailer spesialis, serta platform belanja daring. Ketersediaannya memang tidak selalu masif, seolah selaras dengan filosofi merek ini yang tak pernah mengejar pasar secara agresif. Harga yang dibanderol untuk produk Patagonia memang berada di kelas premium. Jaket outdoor mereka, misalnya, umumnya berada di kisaran dua hingga empat jutaan rupiah. Namun, banderol tersebut sepadan dengan kualitas yang ditawarkan, mengingat produk-produk Patagonia dirancang untuk ketahanan jangka panjang.
Patagonia mengingatkan bahwa di tengah krisis iklim dan budaya konsumtif yang tinggi, pilihan paling radikal justru bisa sesederhana ini: membeli dengan sadar, memakai lebih lama, dan memahami bahwa apa yang kita kenakan hari ini ikut menentukan seperti apa bumi bertahan esok hari.