Mengungkap Kasus Assaf Shmuelevitz, Warga Israel yang Menyusup ke IDF dan Dituduh Jadi Mata-Mata Iran
Oleh Satrio Arismunandar
ORBITINDONESIA.COM - Setelah lebih dari dua tahun, nama seorang pria Israel yang didakwa menyamar sebagai perwira IDF (Pasukan Pertahanan Israel) pada hari-hari pertama perang, di mana ia secara ilegal memperoleh dan membagikan informasi rahasia, diizinkan untuk dipublikasikan.
Perwira yang menyamar tersebut bernama Assaf Shmuelevitz. Pengumuman ini menyusul permintaan hukum untuk merilis informasi lebih lanjut seputar kasus tersebut untuk dipublikasikan oleh situs berita Ynet.
Pengacara Shmuelevitz telah mengajukan banding ke Mahkamah Agung terhadap keputusan Pengadilan Negeri Beersheba untuk mempublikasikan namanya, yang kini telah ditolak.
Menurut dakwaan yang diajukan pada November 2023, Shmuelevitz tiba di Israel selatan pada pagi hari tanggal 7 Oktober 2023, tak lama sesudah serangan Hamas, dan bergabung dengan pasukan IDF dengan menyamar sebagai perwira cadangan dengan pangkat kapten. Padahal, ia belum dipanggil untuk tugas cadangan.
Dakwaan tersebut menyatakan bahwa Shmuelevitz memasuki ruang operasi dan mendokumentasikan percakapan rahasia di Komando Selatan, dan dalam beberapa kasus membagikan informasi rahasia tersebut kepada warga sipil dan tentara yang tidak berwenang untuk memilikinya.
Ia didakwa dengan memperoleh sesuatu secara curang dalam keadaan yang memberatkan, memberikan informasi rahasia, memiliki informasi rahasia tanpa wewenang, dan memasuki zona militer.
Keluarga Shmuelevitz menanggapi publikasi namanya, dengan mengatakan bahwa “selama lebih dari dua tahun, mereka mengubah Assaf kami dari seorang perwira Israel yang patriotik, menjunjung nilai-nilai, dan luar biasa, seperti dirinya, menjadi mata-mata dan pengkhianat.”
“Dakwaan yang diajukan terhadap Assaf tidak proporsional, tanpa ada hubungan sama sekali dengan temuan investigasi yang dilakukan oleh IDF, Shin Bet, dan polisi. Paling buruk, Assaf melakukan pelanggaran keamanan informasi, yang seharusnya ia hadapi proses disiplin dalam kerangka militer, dan ini adalah kasus klasik penegakan hukum selektif,” kata mereka.
Persidangan Shmuelevitz masih berlangsung, dan saat ini ia ditahan dalam perawatan paksa.
Analisis: Penyamaran di Tengah Kekacauan 7 Oktober 2023
Assaf Shmuelevitz digambarkan sebagai figur yang nyaris tak terbayangkan dalam imajinasi publik Israel: seorang pengacara Israel, mantan pasukan lintas udara (paratrooper), yang dituduh menyusup ke jantung komando militer Israel dengan cara menyamar sebagai perwira cadangan IDF.
Menurut laporan yang beredar, pada 7 Oktober 2023—hari serangan Hamas yang mengguncang Israel—Shmuelevitz datang ke Markas Komando Selatan IDF, wilayah yang saat itu berada dalam kondisi darurat ekstrem. Ia mengaku sebagai Kapten cadangan, meskipun sebenarnya tidak pernah dipanggil bertugas.
Kekacauan hari itu menjadi celah. Selama sekitar satu minggu, Shmuelevitz disebut berhasil mengakses fasilitas-fasilitas paling sensitif: ruang operasi bawah tanah, diskusi strategis tingkat tinggi, hingga pertemuan penilaian keamanan yang bahkan dihadiri Menteri Pertahanan Yoav Gallant—di mana ia sempat difoto.
Ia dituduh merekam percakapan rahasia, mencatat informasi strategis, dan kemudian mengirimkan data tersebut ke Iran. Jika tuduhan ini terbukti sepenuhnya, maka ini akan menjadi salah satu kegagalan kontra-intelijen paling memalukan dalam sejarah Israel modern.
Pola Besar: Perang Intelijen Israel–Iran
Kasus Shmuelevitz tidak berdiri sendiri. Ia ditempatkan oleh otoritas Israel sebagai bagian dari lonjakan aktivitas spionase yang diarahkan Iran sejak akhir 2024 hingga awal 2026.
Beberapa kasus lain yang disebutkan memperkuat narasi ini:
Vadim Kurriyanov, ditangkap karena diduga memotret rumah mantan PM Naftali Bennett atas instruksi Iran.
Seorang tentara Brigade Givati, dituduh menjual foto pangkalan militer dan sistem senjata kepada Iran demi uang.
Mordechai (Moti) Maman, pebisnis 73 tahun dari Ashkelon, divonis 10 tahun penjara karena dituduh terlibat rencana pembunuhan PM Benjamin Netanyahu, Menhan Gallant, dan Kepala Shin Bet Ronen Bar.
Yang paling mencolok: menurut versi Israel, rencana pembunuhan tersebut disebut sebagai aksi balasan Iran atas kematian Ismail Haniyeh di Teheran pada Juli 2024—sebuah peristiwa yang sendiri sangat kontroversial dan tidak pernah diakui secara resmi oleh Israel.
Makna Geopolitik: Israel dalam Tekanan Internal
Jika ditarik ke level geopolitik, berita ini menyampaikan beberapa pesan penting: Israel berada dalam tekanan keamanan internal yang belum pernah sedemikian terbuka.
Fakta bahwa warga Israel sendiri—termasuk mantan tentara—disebut terlibat spionase, menunjukkan retaknya kepercayaan internal di tengah perang panjang.
Perang Israel–Iran tidak lagi terbatas pada Suriah, Lebanon, atau laut, tetapi telah masuk ke ruang domestik masing-masing negara.
Narasi “Iran sebagai dalang” juga memiliki fungsi politik internal: memperkuat legitimasi kebijakan keamanan ekstrem, menjustifikasi represi dan perluasan kewenangan intelijen, serta mengalihkan perhatian dari kegagalan struktural IDF pada 7 Oktober.
Catatan Kritis:
Penting dicatat, hingga kini, informasi ini sebagian besar berasal dari aparat keamanan Israel dan media nasionalnya. Publik internasional belum memiliki akses pada bukti independen, transkrip pengadilan lengkap, atau verifikasi pihak ketiga.
Dalam konteks perang, kasus spionase sering kali juga menjadi alat perang narasi. Artinya, berita ini tidak bisa langsung ditelan sebagai kebenaran final, tetapi juga tidak bisa diabaikan sebagai fiksi.
Kasus Assaf Shmuelevitz—jika terbukti—akan menjadi simbol dari era baru konflik Israel–Iran, di mana garis antara medan tempur, intelijen, dan masyarakat sipil semakin kabur. Ia juga menunjukkan bahwa negara yang terlihat paling tertutup dan disiplin sekalipun bisa rapuh dari dalam, terutama saat krisis besar membuka celah keamanan.
Lebih luas lagi, cerita ini mencerminkan dunia yang sedang bergerak menuju perang tanpa deklarasi, tanpa garis depan yang jelas, dan tanpa kepastian siapa musuh sebenarnya.
Kemungkinan propaganda dan psy-ops dalam kasus Assaf Shmuelevitz*
Dalam setiap konflik modern, terutama konflik asimetris seperti Israel–Iran, informasi bukan sekadar laporan—ia adalah senjata. Karena itu, kasus Assaf Shmuelevitz perlu dibaca dalam dua lapisan sekaligus: (1) sebagai peristiwa keamanan yang mungkin nyata, dan (2) sebagai instrumen perang persepsi (psy-ops). Keduanya tidak saling meniadakan.
Momentum Waktu: Psy-Ops Klasik Berbasis Krisis
Kasus ini diumumkan pada Januari 2026, ketika Israel masih menghadapi: trauma nasional pasca-7 Oktober, kritik internal atas kegagalan intelijen IDF, tekanan internasional terkait Gaza, dan delegitimasi politik terhadap pemerintahan Netanyahu.
Dalam doktrin psy-ops, krisis adalah peluang emas untuk membentuk ulang narasi. Dengan memunculkan cerita “infiltrasi Iran dari dalam”, perhatian publik diarahkan menjauh dari: kegagalan struktural IDF, kebocoran sistem komando, dan kesalahan kepemimpinan sipil-militer. Narasi bergeser dari “kami gagal” menjadi “kami diserang dari dalam oleh musuh canggih”.
Profil Shmuelevitz sangat ideal untuk operasi persepsi: warga Israel, mantan paratrooper (elit), pengacara (terdidik), menyamar sebagai perwira cadangan, menyusup hingga ruang bawah tanah, difoto bersama Menteri Pertahanan.
Secara psy-ops, ini menciptakan pesan kuat: “Tidak ada yang aman. Bahkan yang terlihat paling patriotik pun bisa jadi musuh.” Pesan ini efektif untuk membenarkan perluasan pengawasan internal, menekan perbedaan pendapat, dan meningkatkan kepatuhan publik pada negara keamanan.
Iran sebagai “Musuh Tunggal” yang Serbaguna
Dalam hampir semua kasus spionase yang diumumkan, Iran selalu muncul sebagai dalang. Secara geopolitik, ini berfungsi ganda:
Eksternal: memperkuat argumen Israel di hadapan AS dan Eropa bahwa Iran adalah ancaman eksistensial, sehingga dukungan militer dan diplomatik harus terus mengalir.
Internal: menciptakan rasa kepungan (siege mentality)—masyarakat diyakinkan bahwa negara dalam bahaya permanen.
Dalam psy-ops, musuh yang konsisten dan absolut lebih efektif daripada musuh yang ambigu.
Ciri penting propaganda keamanan adalah: informasi satu arah, minim bukti terbuka, proses hukum tertutup, dan dominasi sumber tunggal (aparat keamanan).
Hingga kini: tidak ada rekaman yang dirilis, tidak ada bukti komunikasi dengan Iran yang dipublikasikan, tidak ada verifikasi independen internasional. Dalam konteks perang, ini bukan anomali, tetapi justru pola klasik psy-ops negara.
Efek Psikologis yang Diinginkan
Jika ini memang mengandung unsur psy-ops, maka tujuan utamanya bukan sekadar hukum, melainkan efek psikologis kolektif: Masyarakat jadi takut, waspada, patuh. Tentara jadi disiplin, tertutup, tidak membocorkan informasi. Oposisi jadi berhati-hati, tidak terlalu kritis.
Sementara musuh eksternal dibuat ragu—apakah operasi mereka benar-benar terdeteksi? Bahkan jika sebagian tuduhan dilebih-lebihkan, efeknya tetap bekerja.
Risiko Balik (Blowback)
Namun psy-ops selalu mengandung risiko: Jika kelak tuduhan runtuh atau dilemahkan di pengadilan, jika muncul bukti manipulasi, dan jika publik menyadari narasi digunakan untuk menutup kegagalan, maka yang runtuh bukan hanya kasus ini, tetapi kepercayaan terhadap institusi keamanan itu sendiri.
Israel pernah mengalami ini pasca Perang Yom Kippur 1973. Sejarah menunjukkan: psy-ops yang terlalu agresif bisa berbalik menjadi delegitimasi.
Membaca dengan Dua Mata
Kasus Shmuelevitz mungkin nyata, tetapi juga sangat mungkin dibingkai secara strategis.
Dalam geopolitik modern: fakta dan propaganda sering berjalan beriringan, kebenaran jarang disampaikan tanpa tujuan, dan keamanan nasional kerap dijadikan dalih untuk mengelola persepsi publik.
Sikap paling rasional bukan percaya mentah-mentah, juga bukan menolak total, melainkan membaca dengan dua mata: satu mata pada fakta yang mungkin ada, satu mata lagi pada kepentingan politik yang sedang bermain. ***
*Satrio Arismunandar, alumnus S2 Pengkajian Ketahanan Nasional UI dan S3 Filsafat FIB UI, Pemimpin Redaksi OrbitIndonesia.com dan Majalah Pertahanan/Geopolitik ARMORY REBORN, dan Ketua Dewan Pakar SCSC (South China Sea Council). #