Budaya Kerja Toksik di India: Haruskah Kita Berbicara?

ORBITINDONESIA.COM – Seorang karyawan muda di perusahaan manajemen aset terkemuka India mengungkap pengalaman kerjanya yang melelahkan di media sosial, memicu diskusi tentang budaya kerja toksik di negara tersebut.

Kisah ini dimulai dengan seorang wanita berusia 24 tahun yang bekerja hingga 14 jam sehari, termasuk akhir pekan. Meskipun jadwalnya melelahkan, ia diminta untuk merespons pesan dari atasannya pada pukul 2.45 pagi. Ketika ia tidak menjawab karena sedang tidur, ia justru harus meminta maaf.

Budaya kerja toksik ini tidak hanya terjadi di satu perusahaan. Sebuah survei oleh Asosiasi Manajemen Sumber Daya Manusia India menemukan bahwa 70% pekerja merasa tertekan karena ekspektasi kerja yang tidak realistis. Ini menunjukkan tren yang mengkhawatirkan di mana keseimbangan kerja-hidup sering kali diabaikan.

Permasalahan ini menggambarkan ketidakadilan dan tekanan yang dihadapi banyak pekerja. Sebagai masyarakat, kita harus mempertanyakan apakah produktivitas lebih penting daripada kesejahteraan mental. Apakah kita mendukung lingkungan kerja yang manusiawi atau justru sebaliknya?

Mungkin sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap pekerjaan. Kita harus menuntut kebijakan yang mendukung keseimbangan kerja-hidup dan menghargai kesehatan mental. Apakah kita siap untuk berdiri dan berbicara jika kita melihat ketidakadilan di tempat kerja?

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Januari 2026)