Cerpen Cermin Petuah
Penulis : Ahsan Su
Setelah naik tahta, Raja Eldam bergegas masuk kamar untuk menemui cermin ajaibnya. Cermin itu adalah pemberian seorang kakek pengemis yang pernah dia tolong waktu kecil dahulu. Cermin ajaib itu bernama Cermin Petuah.
Dulunya, Raja Eldam hanya seorang anak petani miskin. Mengenai kehidupannya yang serba sengsara, Eldam kecil sering mengeluh kepada Cermin Petuah itu.
Cermin Petuah selalu memberi nasihat yang bijak kepada Eldam. Hal ajaib yang mampu dilakukan oleh Cermin Petuah adalah meramal masa depan Eldam. Menurutnya, anak petani itu suatu saat akan menjadi seorang raja besar. Benar saja, ramalan itu ternyata terbukti.
"Cermin Petuah, lihatlah! Aku benar-benar terlihat sangat gagah, bukan?" Dengan tersenyum sombong, Raja Eldam berputar-putar untuk memamerkan mahkota emas dan jubah kebesarannya.
"Engkau telah berubah total, Eldam." Cermin Petuah menggelengkan kepala. Setiap bercengkrama dengan Eldam, Cermin Petuah selalu memunculkan wajah dari tuannya itu.
"Enak saja kamu memanggil namaku begitu saja! Panggil aku dengan sebutan Ba-gin-da Ra-ja." Raja Eldam memberikan penekanan pada kata-katanya dengan nada sinis.
"Baiklah. Selamat atas terlantiknya engkau menjadi seorang penguasa di negeri ini, Baginda Raja." Cermin Petuah menyindir.
Raja Eldam terkekeh. Dia tidak menyangka memiliki kekuasaan yang sangat besar, sekarang.
Dulunya, ketika melamar menjadi seorang prajurit, Eldam muda malah ditempatkan sebagai pemelihara serigala-serigala liar. Serigala-serigala itu dijadikan pasukan garda terdepan untuk menyerang pertahanan musuh. Berkat didikan seorang pelatih yang andal, Eldam akhirnya mampu menjinakkan dan melatih keluarga dari anjing-anjing liar itu. Bahkan, akhirnya dia direkrut menjadi seorang prajurit pilihan pula.
Lama-kelamaan, karena prestasinya yang cemerlang, Eldam akhirnya dilantik menjadi panglima perang. Setelah memiliki kekuatan yang sangat besar, dia mengkudeta sang Raja, dan menggantikan kedudukannya, sekarang.
Waktu menjadi panglima perang, Eldam memimpin pasukan dengan cara yang bengis dan menjadi penjilat ulung. Hal itu membuat Cermin Petuah enggan menasihatinya lagi.
Meskipun hubungan keduanya kurang harmonis, Eldam masih menyempatkan bertemu dengan Cermin Petuah untuk memamerkan prestasinya yang gemilang itu.
"Sekarang aku ingin memberikan sebuah pertanyaan. Apakah kekuasaanku ini bisa abadi, Sahabatku?" tanya Raja Eldam.
"Yang kutahu, hidupmu akan hancur, Baginda Raja," jawab Cermin Petuah dengan nada sinis.
"Apa? Bisakah engkau mengubah takdirku itu?" Raja Eldam menatap lekat-lekat Cermin Petuah.
"Itu suratan yang kutahu," jawab Cermin Petuah datar.
"Kalau begitu, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Aku sudah muak dengan jawabanmu." Raja Eldam bergegas memukul Cermin Petuah dengan kekuatan penuh.
Namun anehnya, Cermin Petuah tidak retak sedikit pun. Tubuh Raja Eldam malah terperosok di dalam Cermin Petuah itu. Setelah terempas keluar, tubuh Raja Eldam penuh dengan luka menganga dan tewas secara mengerikan.