Keterkaitan Epstein, Mossad, dan Pemerasan oleh Israel: Bagaimana Netanyahu Menekan Trump yang Terpojok

ORBITINDONESIA.COM - Ari Ben-Menashe—mantan perwira intelijen Israel yang telah lama tinggal di Montreal, Kanada—adalah sumber utama di balik narasi bahwa Jeffrey Epstein beroperasi sebagai aset Mossad.

Ben-Menashe telah menyatakan secara terbuka bahwa Epstein dan Ghislaine Maxwell bekerja untuk intelijen Israel, mengumpulkan kompromat—materi pemerasan—tentang politisi berpengaruh untuk memengaruhi kebijakan Amerika.

Ia selanjutnya mengklaim bahwa kunjungan Benjamin Netanyahu ke Washington, D.C., bertujuan untuk menekan Donald Trump, agar menolak negosiasi apa pun dengan Iran yang tidak mencakup pembatasan rudal balistik.

Menurut Ben-Menashe, Mossad memiliki materi pemerasan tambahan tentang Trump yang terkait dengan berkas Epstein, termasuk tuduhan bahwa Trump tidur dengan gadis di bawah umur.

Ini seharusnya tidak mengejutkan siapa pun. Beginilah cara Mossad beroperasi. Mereka melakukannya pada Bill Clinton, dan sekarang mereka bermaksud menggunakan berkas-berkas ini terhadap Trump—memanfaatkan aib personal untuk memaksakan kepatuhan.

Trump kini terjebak dalam dilema. Ia jelas tidak tertarik pada perang yang berkepanjangan dengan Iran. Ia lebih menyukai konflik yang cepat dan menentukan—masuk dan keluar—mirip dengan sikapnya terhadap Maduro di Venezuela.

Namun, waktunya sangat buruk. Pemilihan paruh waktu AS semakin dekat. Jika kondisi saat ini berlanjut, Partai Republik berisiko kehilangan kendali DPR kepada Partai Demokrat. Jika Partai Demokrat kembali menguasai DPR, pemakzulan Trump akan tak terhindarkan, membuat pemerintahan hampir mustahil.

Ekonomi adalah titik tekanan lain. Trump ingin menghidupkan ekonomi AS kembali. Tetapi perang dengan Iran—terutama jika Iran menutup Selat Hormuz—akan menaikkan harga minyak dan melumpuhkan agenda ekonominya.

Kemudian ada basis pendukungnya. Para pendukung Trump sudah lelah dengan perang yang tak berkesudahan. Mereka semakin vokal tentang keinginan agar Trump fokus pada masalah domestik daripada keterlibatan luar negeri.

Inilah jebakannya. Tekanan Netanyahu untuk memicu perang dengan Iran bertabrakan langsung dengan kelangsungan politik Trump. Iran telah menunjukkan kesediaan untuk bernegosiasi tentang senjata nuklir—tetapi tidak tentang rudal balistik, karena menyerahkan kemampuan rudal akan membuat Iran tidak berdaya.

Pada titik ini, kepemimpinan Israel telah mengubah arah. Senjata nuklir bukan lagi isu utama; rudal balistiklah yang menjadi isu utama. Pergeseran sikap Israel ini menegaskan apa yang telah dikatakan banyak orang selama ini: serangan rudal Iran terhadap Israel sangat menghancurkan.

Siapa pun yang mengklaim bahwa Israel berhasil "menyerap" serangan rudal Iran tanpa kerusakan serius adalah pembohong. Israel menderita kerugian yang sangat besar. Rudal Iran sangat menghancurkan, tetapi media membangun narasi palsu tentang ketahanan dan kendali di tangan Israel. Realitasnya terkubur.

Berikut adalah beberapa target militer dan strategis yang diserang Iran—target yang secara aktif disembunyikan Israel:

Target Militer dan Intelijen

- Markas Besar Kirya (Tel Aviv): Sebuah rudal balistik menghantam dan merusak area sekitar markas besar pusat IDF.

- Kamp Moshe Dayan (Tel Aviv): Sebuah gudang di Sekolah Intelijen Militer Israel hancur dan terbakar setelah terkena serangan langsung.

- Pangkalan Udara Nevatim: Rudal Iran menghantam pangkalan yang menampung jet tempur F-35 Israel. Laporan selanjutnya mengkonfirmasi setidaknya empat dampak, merusak landasan pacu dan dua hanggar pesawat.

- Pusat Komando Strategis: Rudal berpemandu dilaporkan menghantam fasilitas komando dan kendali alternatif dan pusat penelitian biologi selama gelombang serangan berturut-turut.

- Situs Radar Utara: Setidaknya satu rudal balistik diarahkan ke instalasi radar di Israel utara.

Infrastruktur Kritis dan Situs Publik

- Kilang Minyak Haifa Bazan: Pipa dan saluran transmisi mengalami kerusakan.

- Pusat Medis Soroka (Beersheba): Sebuah rudal balistik langsung menghantam rumah sakit, memaksa rumah sakit tersebut untuk sementara berhenti menerima pasien baru.

- Bandara Ben Gurion: Iran mengklaim telah menargetkan bandara internasional utama Israel dengan rudal berpemandu selama serangan Juni 2025.

- Institut Sains Weizmann (Rehovot): Beberapa laboratorium utama terkena dampak selama konflik.

Penindasan Media dan Pengendalian Kerusakan

Sensor militer Israel dan diplomasi publik menutupi sepenuhnya kerusakan selama perang 12 hari tersebut. Meskipun IDF bersikeras bahwa semua pangkalan tetap berfungsi, organisasi hak asasi manusia independen dan citra satelit kemudian mendokumentasikan setidaknya 50 dampak rudal di dalam Israel—banyak di antaranya di daerah padat penduduk seperti Tel Aviv, Haifa, dan Petah Tikva.

Kenyataannya bukanlah bahwa Israel "sukses bertahan" dari serangan Iran itu. Kenyataannya adalah bahwa kerusakan itu nyata—dan itu tersembunyi. Kenyataannya, kita masih belum mengetahui sepenuhnya sejauh mana kerusakan tersebut.

Tetapi obsesi mendadak kepemimpinan Israel terhadap rudal balistik Iran menceritakan kisahnya sendiri: kemampuan balistik Iran sekarang lebih mengkhawatirkan mereka daripada program nuklir Iran sebelumnya.

Apa yang terjadi selanjutnya bergantung pada pertemuan Netanyahu dengan Trump. Apakah Trump akan menolak tekanan Israel untuk berperang, dan lebih memilih membuka pintu negosiasi dengan Iran? Ataukah, Trump akan menyerah pada tekanan Israel dan menyeret Amerika Serikat menuju konflik lain yang tidak perlu? Kita lihat saja.

*Satrio Arismunandar, pakar SCSC (South China Sea Council). Sumber data: The Movement For Social Change-GH ***