Karen Mulder: Ketika Seorang Supermodel Datang Terlalu Awal dengan Kebenaran

ORBITINDONESIA.COM - Pada 1990-an, Karen Mulder adalah salah satu perempuan paling dikenal di dunia mode. Wajahnya menghiasi panggung-panggung Versace, Dior, Chanel, dan ia tercatat sebagai Victoria’s Secret Angel generasi awal—posisi yang hanya diberikan kepada segelintir model papan atas dunia. Ia berada di pusat industri fesyen global, bukan di pinggirannya.

Namun pada Oktober 2001, karier gemilang itu berhenti secara mendadak.

Dalam sebuah wawancara televisi di Prancis, Karen Mulder berbicara terbuka tentang pelecehan dan eksploitasi seksual di industri mode. Ia tidak berbicara secara umum atau samar. Ia menyebut adanya figur-figur senior dan jaringan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh. Pernyataan itu berpotensi mengguncang fondasi industri yang selama puluhan tahun dibungkus glamor.

Wawancara itu tak pernah ditayangkan. Laporan menyebutkan rekamannya dihancurkan. Publik tidak pernah mendengar langsung kesaksiannya.

Beberapa jam setelah rekaman tersebut, Karen Mulder menghilang dari ruang publik. Ia kemudian dirawat di rumah sakit. Narasi media berubah arah—bukan lagi soal apa yang ia ungkap, melainkan kondisi kesehatan mentalnya. Kredibilitasnya runtuh, kariernya hancur, dan namanya perlahan lenyap dari industri yang pernah memujanya.

Sementara itu, para lelaki yang ia tuduh tetap melanjutkan karier mereka. Tidak ada penyelidikan terbuka. Tidak ada perlindungan bagi Karen Mulder sebagai pelapor. Yang ada justru kesunyian panjang.

Baru bertahun-tahun kemudian, konteks mulai berubah. Salah satu figur yang kemudian terseret adalah Jean-Luc Brunel, tokoh besar dunia modelling yang belakangan terungkap sebagai rekan dekat Jeffrey Epstein. Brunel ditangkap pada 2020 dan meninggal dalam tahanan pada 2022. Figur lain, Gérald Marie, kemudian menghadapi tuduhan pelecehan dari setidaknya 15 perempuan.

Nama-nama itu muncul jauh setelah Karen Mulder disingkirkan dari panggung publik. Apa yang ia sampaikan pada 2001 ternyata bukan halusinasi, melainkan gambaran awal dari sistem eksploitasi yang baru terbongkar dua dekade kemudian.

Kisah Karen Mulder memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja ketika dihadapkan pada ancaman. Bukan dengan membantah kesaksian secara terbuka, melainkan dengan meragukan kewarasan si penyampai pesan. Ia tidak dikalahkan dengan fakta, tetapi dengan stigma.

Pada 2001, dunia belum mengenal #MeToo. Industri hiburan dan mode masih menutup rapat ruang kritik. Korban yang berbicara dianggap masalah, bukan sistem yang memungkinkan kekerasan itu terjadi.

Karen Mulder tidak dilindungi. Ia dibungkam. Dan ia membayar harga yang sangat mahal karena berbicara terlalu cepat, terlalu jujur, dan terlalu sendirian.

Hari ini, dunia mulai memahami apa yang dulu ia coba sampaikan. Sayangnya, pemahaman itu datang ketika hidup dan kariernya sudah runtuh.

Karen Mulder bukan perempuan “tidak waras”. Ia hanya datang terlalu awal dengan kebenaran—di dunia yang belum siap mendengarnya.***