Transformasi Self-Care Jadi KPI: Manfaat atau Beban Baru?

ORBITINDONESIA.COM – Self-care kini bernilai $1.5 triliun, menjadi indikator kinerja utama di perusahaan besar.

Self-care, yang dahulu identik dengan kegiatan relaksasi sederhana, kini berubah wajah menjadi tolok ukur produktivitas di tempat kerja. Dengan nilai industri yang mencengangkan, perusahaan berlomba-lomba mengadopsi teknologi untuk memantau kesehatan mental karyawan. Namun, meski investasi terus meningkat, tantangan seperti burnout justru kian merajalela.

Perusahaan menggunakan teknologi canggih untuk mengukur berbagai aspek kesehatan karyawan, mulai dari tingkat partisipasi kegiatan hingga data biometrik. Namun, pendekatan ini seringkali mengabaikan masalah mendasar seperti beban kerja berlebih dan lingkungan kerja yang toksik. Transformasi ini menambah tekanan baru bagi karyawan, menggeser tanggung jawab kesehatan sepenuhnya kepada individu dan mengaburkan peran organisasi dalam menjaga kesejahteraan mental.

Ironisnya, self-care yang seharusnya membawa ketenangan justru menambah beban. Menjadikan wellness sebagai KPI bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, ini mendorong kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Di sisi lain, hal ini menciptakan tekanan baru yang bisa berakibat sebaliknya. Pertanyaan pentingnya: apakah pendekatan ini benar-benar efektif atau hanya sekadar tren?

Mungkin solusi terbaik terletak di luar angka dan algoritma, dalam momen pemulihan yang alami dan tidak terukur. Pertimbangan seperti ini perlu menjadi refleksi bagi perusahaan dalam merancang kebijakan kesejahteraan karyawan. Apakah kita siap mengubah cara pandang kita terhadap self-care dan mengembalikannya ke esensi awalnya?