Habib Husein Ja’far Al‑Hadar: Mengajak “Log In” ke Jalan Toleransi di Tengah Ramadan
"Toleransi bukan hanya kata-kata, tapi cara kita mendengarkan dan memahami."
Kalimat itulah yang kerap muncul dari Habib Husein Ja’far Al‑Hadar, pendakwah dan kreator konten yang berhasil menjembatani perbedaan melalui dialog hangat dan cerdas. Ramadan menjadi momen yang tepat untuk melihat bagaimana pesan-pesannya menyentuh hati generasi muda, tanpa kehilangan substansi spiritual yang mendalam.
Salah satu medium paling populer adalah podcast “Log In”, sebuah ruang bincang interaktif yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk artis seperti Onadio Leonardo (Onad) dan Boris Bokir. Di sinilah perbedaan agama dan perspektif diperlakukan bukan sebagai jarak, tetapi sebagai kesempatan untuk membangun pemahaman dan harmoni.
Yang membedakan “Log In” dari banyak program lain adalah kualitas percakapan. Di bawah bimbingan Habib Husein, dialog mengalir secara alami, penuh empati, dan tetap menyampaikan pesan spiritual yang mendalam. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Islam rahmatan lil‑‘alamin, Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam yang bisa diwujudkan melalui komunikasi yang menghormati perbedaan.
Dampak dari pendekatan ini terasa nyata. Banyak generasi muda melaporkan bahwa mereka merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam menjalani praktik keagamaan mereka, sambil tetap membuka diri pada perbedaan di sekitarnya. Pesan Habib Husein menekankan bahwa spiritualitas tidak hanya soal ritual pribadi, tetapi juga soal bagaimana kita bersikap adil, toleran, dan manusiawi dalam interaksi sosial.
Di bulan Ramadan, ketika umat Islam berpuasa dan merenungkan diri, sosok seperti Habib Husein memberikan contoh konkret: menahan lapar dan dahaga bukan cukup, tetapi juga menahan prasangka, membangun empati, dan menyuburkan perdamaian. Ia mengingatkan bahwa dakwah yang efektif bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi tentang siapa yang mampu mendengar, memahami, dan mengajak dengan tulus.
Habib Husein Ja’far Al‑Hadar menjadi jembatan antara generasi, antara keyakinan yang berbeda, dan antara teori toleransi dengan praktik nyata sehari-hari. Di era digital, ketika semua orang bisa bersuara tanpa didengar, kebijaksanaannya mengajarkan bahwa kemampuan membuka ruang dialog yang hangat dan inspiratif adalah bentuk dakwah yang paling berharga.
Melalui “Log In”, ia mengajak kita “Log In” bukan ke perangkat, tetapi ke relasi antarmanusia, mempraktikkan nilai-nilai yang menjadikan Ramadan tidak hanya sebagai ritual, tetapi sebagai momentum untuk memahami, menghargai, dan menyebarkan kebaikan.
Habib Husein Ja’far Al‑Hadar mengajarkan satu hal yang sederhana namun kuat: toleransi dan empati lahir dari cara kita mendengar dan memahami. Setiap percakapan dan setiap pesan yang ia sebarkan menjadi teladan nyata bahwa kebaikan tidak harus besar, tapi konsisten dan tulus.
Di bulan Ramadan, sosoknya mengingatkan kita bahwa spiritualitas bukan sekadar ritual, tapi juga kemampuan untuk menyebarkan kedamaian, membangun harmoni, dan menghargai perbedaan. Belajar dari Habib Husein berarti belajar menjadikan setiap interaksi, sekecil apa pun, sebagai langkah menuju dunia yang lebih manusiawi.