Denny JA: Mendengar Pidato Prabowo dan Macron di Jamuan Makan Malam
Catatan dari Paris, 28 Mei 2026 (1)
MENDENGAR PIDATO PRABOWO DAN MACRON DI JAMUAN MAKAN MALAM
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Matahari sudah tenggelam di balik Pegunungan Alpen ketika para pemimpin dunia berkumpul di Davos, Januari 2026.
Di luar gedung, salju turun perlahan seperti lembaran putih yang menutupi jejak-jejak lama sejarah. Namun di dalam ruangan, yang membeku bukan udara. Yang membeku adalah keyakinan bahwa tata dunia lama masih akan bertahan.
Malam itu, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyampaikan pidato yang segera menggema ke seluruh dunia. Ia berkata bahwa dunia tidak sedang mengalami perubahan biasa.
Dunia sedang mengalami keretakan besar. Sistem yang selama puluhan tahun menopang perdagangan, keamanan, dan diplomasi internasional mulai retak di banyak sisi.
Lalu ia mengucapkan satu kalimat yang menjadi kutipan global:
“If we’re not at the table, we’re on the menu.”
Jika kita, negara di luar Amerika Serikat dan Cina, tidak duduk di meja kerjasama, kita akan menjadi santapan di atas meja itu.
Kalimat itu terasa seperti lonceng peringatan bagi negara-negara menengah.
Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, negara yang berdiri sendiri akan mudah ditekan. Negara yang tidak membangun aliansi akan kehilangan ruang menentukan nasibnya sendiri.
Saya pulang dari Davos saat itu membawa satu pertanyaan: Jika tata dunia lama sedang retak, dengan siapa Indonesia harus berjalan untuk menghadapi dunia baru yang sedang lahir?
Empat bulan kemudian, malam itu, di Paris, saya merasa menemukan sebagian jawabannya.
-000-
Malam 28 Mei 2026, saya berada di antara rombongan Presiden Prabowo Subianto dalam jamuan makan malam kenegaraan di Istana Élysée.
Bangunan itu bukan sekadar istana. Ia adalah jantung Republik Prancis.
Dibangun pada awal abad ke-18, Élysée telah menyaksikan naik turunnya kekaisaran, revolusi, perang dunia, dan lahirnya Eropa modern.
Dari ruangan-ruangan inilah banyak keputusan yang memengaruhi arah sejarah dunia pernah dibuat. Namun malam itu perhatian saya tidak hanya tertuju pada para pemimpin yang hadir.
Di salah satu sudut ruangan berdiri Orkestra Garda Republik Prancis, unit militer elite yang bertugas menjaga Presiden Prancis. Mereka datang dengan seragam militer, tetapi yang mereka bawa bukan senapan. Mereka membawa biola, klarinet, dan cello.
Musik Mozart mengalun lembut.
Lalu karya Debussy yang terinspirasi gamelan Jawa memenuhi ruangan. Ketika lagu Bengawan Solo dimainkan, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Di jantung Paris, di pusat kekuasaan Republik Prancis, sebuah lagu dari tepian Sungai Bengawan mengalun dengan khidmat.
Seolah sejarah sedang berbisik bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun oleh kontrak, senjata, atau perdagangan.
Kadang ia dibangun oleh sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih kuat: rasa hormat terhadap jiwa satu sama lain.
Dan di tengah alunan musik itulah saya mendengar dua pidato yang menurut saya akan dikenang jauh melampaui malam itu sendiri. Mereka bukan sekadar pidato tentang Indonesia dan Prancis. Mereka adalah pidato tentang dunia yang sedang mencari bentuk barunya.
-000-
Lama saya merenungkan baik pidato Presiden Perancis Macron dan Presiden Indonesia Prabowo. Saya menemukan enam gagasan penting yang mereka bicarakan.
PERTAMA: PENTINGNYA JALAN KETIGA, MENOLAK MENJADI SATELIT KEKUATAN BESAR
Ketika Presiden Prancis, Emmanuel Jean-Michel Frédéric Macron, berbicara mengenai pentingnya negara-negara yang mampu menjaga kemandirian strategisnya, dan ketika Presiden Prabowo Subianto berbicara tentang perlunya keseimbangan dunia, saya merasa sedang mendengar gema sejarah yang sangat tua.
Dunia pernah mengalami masa ketika hanya ada dua pilihan. Pada era Perang Dingin, banyak negara dipaksa memilih Washington atau Moskow. Memilih satu berarti memusuhi yang lain.
Namun Indonesia, melalui Sukarno dan Mohammad Hatta, mencoba menawarkan jalan berbeda. Dunia mengenalnya sebagai Gerakan Non-Blok.
Hari ini sejarah seperti berulang dengan wajah yang baru. Kutubnya bukan lagi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kutubnya adalah Amerika Serikat dan Tiongkok.
Teknologinya berbeda. Ekonominya berbeda. Tetapi logika kekuasaannya tetap sama. Setiap negara didorong untuk menentukan kubunya.
Dalam konteks itulah pidato Macron dan Prabowo menjadi penting. Keduanya menolak gagasan bahwa masa depan dunia harus ditentukan oleh dua ibu kota besar.
Prancis memiliki tradisi kemandirian sejak Charles de Gaulle menolak tunduk sepenuhnya kepada NATO.
Indonesia memiliki tradisi bebas aktif yang diwariskan para pendiri bangsa.
Yang diperjuangkan bukan netralitas pasif. Yang diperjuangkan adalah kebebasan berpikir. Kebebasan menentukan kepentingan nasional.
Kebebasan berkata “ya” ketika menguntungkan bangsa dan berkata “tidak” ketika bertentangan dengan masa depan rakyat.
Di abad ke-21, kemerdekaan sebuah bangsa tidak lagi hanya ditentukan oleh batas wilayahnya. Kemerdekaan ditentukan oleh kemampuan mengambil keputusan sendiri.
Dan mungkin itulah definisi baru kemerdekaan yang sedang diperjuangkan Indonesia dan Prancis bersama.
-000-
KEDUA: DUNIA MEMBUTUHKAN KESEIMBANGAN BARU YANG LEBIH MULTIPOLAR
Selama berabad-abad, perdamaian dunia selalu dibayangkan sebagai hasil kemenangan pihak yang paling kuat.
Kekaisaran Romawi pernah percaya demikian. Kerajaan Inggris pernah percaya demikian.
Bahkan setelah Perang Dunia Kedua, banyak orang percaya stabilitas dunia akan lahir jika ada satu negara yang cukup kuat untuk mengatur semuanya.
Namun sejarah berulang kali memperlihatkan kelemahan gagasan itu. Kekuatan yang terlalu besar sering berubah menjadi dominasi.
Dominasi sering berubah menjadi pemaksaan. Dan pemaksaan sering melahirkan perlawanan.
Di sinilah saya melihat inti terdalam dari pidato Macron dan Prabowo.
Keduanya tidak sedang menawarkan dunia yang dipimpin oleh Indonesia atau Prancis. Mereka menawarkan dunia yang lebih seimbang.
Dunia multipolar. Dunia di mana banyak pusat kekuatan hidup berdampingan. Dunia di mana India, Indonesia, Brasil, Prancis, Jepang, Uni Eropa, negara-negara Afrika, dan berbagai kekuatan menengah lainnya memiliki suara yang lebih besar.
Dalam dunia seperti itu, diplomasi menjadi lebih penting daripada ancaman. Kerja sama menjadi lebih penting daripada tekanan.
Dialog menjadi lebih penting daripada ultimatum. Konsep ini mungkin terdengar idealistis.
Namun sejarah menunjukkan bahwa keseimbangan sering lebih stabil daripada dominasi.
Karena ketika tidak ada satu kekuatan yang terlalu besar, semua pihak dipaksa untuk mendengar satu sama lain.
Dan mungkin, masa depan perdamaian dunia tidak terletak pada siapa yang paling kuat. Melainkan pada siapa yang paling mampu menjaga keseimbangan.
-000-
KETIGA: KEDAULATAN ADALAH NILAI TERTINGGI ABAD KE-21
Ada satu kata yang berulang kali muncul dalam berbagai percakapan strategis yang saya ikuti beberapa tahun terakhir.
Kata itu adalah: kedaulatan. Dahulu banyak orang mengira globalisasi akan membuat batas-batas negara semakin tidak penting.
Modal bergerak bebas. Barang bergerak bebas. Data bergerak bebas. Dunia terasa semakin menyatu.
Namun pandemi COVID-19 mengubah cara kita melihat dunia. Perang Ukraina mempercepat perubahan itu. Krisis energi menegaskannya.
Dan revolusi kecerdasan buatan memperlihatkan betapa berbahayanya ketergantungan teknologi. Tiba-tiba semua negara mulai bertanya:
Apakah kita mampu memberi makan rakyat sendiri? Apakah kita mampu menghasilkan energi sendiri?
Apakah kita mampu membangun teknologi sendiri? Apakah kita mampu mempertahankan diri sendiri?
Kedaulatan bukan lagi slogan politik.
Ia berubah menjadi kebutuhan praktis.
Ketika Macron berbicara mengenai dukungan terhadap agenda kedaulatan Indonesia, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada kerja sama ekonomi.
Saya melihat pengakuan bahwa bangsa-bangsa modern membutuhkan kemampuan berdiri di atas kaki sendiri.
Tentu tidak ada negara yang bisa hidup sendirian. Namun ada perbedaan besar antara bekerja sama dan bergantung.
Bekerja sama adalah pilihan. Bergantung adalah kerentanan.
Dan dalam dunia yang semakin tidak pasti, kemampuan bekerja sama tanpa kehilangan kemandirian mungkin akan menjadi aset paling berharga sebuah bangsa.
-000-
KEEMPAT: KEMITRAAN STRATEGIS HARUS MENYENTUH PERTAHANAN, TEKNOLOGI, DAN SUMBER DAYA MANUSIA
Di abad ke-19, kekuatan sebuah negara diukur dari luas wilayahnya.
Di abad ke-20, kekuatan diukur dari kapasitas industrinya. Namun di abad ke-21, ukuran itu berubah.
Hari ini, negara paling berpengaruh bukan selalu negara yang memiliki wilayah terbesar. Melainkan negara yang menguasai teknologi paling maju.
Yang menguasai data. Yang menguasai inovasi. Yang menguasai kecerdasan buatan.
Karena itu saya tertarik ketika Macron dan Prabowo sama-sama menekankan pendidikan, riset, sains, teknologi, dan inovasi.
Hubungan Indonesia dan Prancis tidak boleh berhenti pada pembelian pesawat tempur atau kontrak industri. Hubungan itu harus masuk ke laboratorium.
Masuk ke kampus. Masuk ke pusat riset. Masuk ke ruang kelas. Masuk ke pikiran generasi muda.
Sejarah memperlihatkan bahwa negara yang berhasil melompat jauh hampir selalu melakukan investasi besar pada manusianya.
Jepang pasca perang. Korea Selatan. Singapura. Tiongkok.
Mereka membangun manusia terlebih dahulu.
Baru kemudian membangun ekonomi. Karena pada akhirnya sumber daya alam bisa habis.
Cadangan minyak bisa menurun.
Tetapi sumber daya manusia yang unggul dapat menciptakan kekayaan baru tanpa batas. Dan itulah investasi paling strategis yang dapat lahir dari hubungan Indonesia dan Prancis.
-000-
KELIMA: INDONESIA DAN PRANCIS SEDANG MEMBANGUN ALIANSI PERADABAN
Yang paling mengesankan saya malam itu justru bukan pembicaraan tentang ekonomi. Bukan pula soal pertahanan. Melainkan soal budaya.
Saya masih mengingat ketika orkestra memainkan karya Debussy yang terinspirasi gamelan Jawa.
Ada sesuatu yang simbolis di sana.
Seorang komponis Prancis abad ke-19 pernah mendengar bunyi gamelan Nusantara.
Suara itu menyeberangi samudra. Menembus bahasa. Menembus politik. Lalu hidup kembali dalam musik Prancis.
Bukankah itu bentuk dialog peradaban yang paling indah? Macron berbicara tentang Borobudur. Tentang museum.
Tentang sastra. Tentang film.
Tentang mode.
Prabowo berbicara tentang Palestina dan kemanusiaan.
Semua itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Prancis sedang bergerak melampaui hubungan negara dengan negara.
Yang dibangun adalah hubungan peradaban dengan peradaban. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, hubungan seperti ini menjadi semakin penting.
Karena teknologi dapat menghubungkan manusia. Tetapi hanya budaya yang dapat membuat manusia saling memahami.
Dan ketika pemahaman tumbuh, ketakutan berkurang. Ketika ketakutan berkurang, kerja sama menjadi mungkin.
Mungkin inilah bentuk diplomasi paling kuat yang pernah ditemukan manusia: bukan diplomasi senjata, melainkan diplomasi jiwa.
-000-
KEENAM: SOLUSI DUA NEGARA: PALESTINA MERDEKA, ISRAEL AMAN
Di antara semua tema yang muncul malam itu, tidak ada yang lebih menyentuh hati selain Palestina.
Karena di balik statistik perang terdapat jutaan kehidupan yang nyata. Ada ibu yang kehilangan anak. Ada anak yang kehilangan rumah.
Ada keluarga yang hidup dengan ketakutan setiap hari. Selama lebih dari tujuh dekade, konflik Israel-Palestina menjadi luka terbuka dunia.
Setiap generasi mewarisi trauma generasi sebelumnya. Setiap perang meninggalkan kemarahan baru.
Namun baik Prabowo maupun Macron memilih berbicara tentang harapan.
Harapan itu bernama solusi dua negara. Palestina yang merdeka.
Israel yang aman.
Bagi sebagian orang, gagasan itu terdengar semakin sulit diwujudkan.
Namun sejarah manusia penuh dengan hal-hal yang dahulu dianggap mustahil.
Perdamaian antara Prancis dan Jerman pernah dianggap mustahil.
Berakhirnya apartheid di Afrika Selatan pernah dianggap mustahil.
Runtuhnya Tembok Berlin pernah dianggap mustahil. Tetapi semuanya terjadi. Karena pada akhirnya tidak ada konflik yang lebih kuat daripada kehendak manusia untuk hidup damai.
Solusi dua negara bukan kemenangan Palestina atas Israel.
Bukan kemenangan Israel atas Palestina. Ia adalah kemenangan kemanusiaan atas kebencian.
Dan mungkin itulah gagasan paling luhur yang terdengar malam itu di Istana Élysée: bahwa masa depan dunia tidak dibangun oleh mereka yang menang perang, melainkan oleh mereka yang berani menghentikannya.
-000-
Tengah malam di Paris, dalam keheningan, saya merenung kembali. Mengapa memperdalam kerjasama Indonesia-Perancis menjadi penting. Tiga alasannya.
1. KARENA DUNIA SEDANG BERPINDAH DARI HEGEMONI MENUJU MULTIPOLARITAS
Selama kurang lebih tiga dekade setelah berakhirnya Perang Dingin, dunia hidup dalam apa yang sering disebut sebagai “unipolar moment”. Amerika Serikat menjadi pusat gravitasi utama ekonomi, militer, teknologi, dan politik global.
Namun zaman itu perlahan berakhir.
Kebangkitan Tiongkok, bangkitnya India, kembalinya Rusia sebagai aktor geopolitik, menguatnya negara-negara Teluk, serta semakin pentingnya kekuatan regional seperti Indonesia telah mengubah peta dunia.
Kita sedang memasuki era multipolar. Masalahnya, setiap transisi menuju tata dunia baru hampir selalu diiringi ketidakpastian.
Sejarah mencatat transisi dari dominasi Spanyol ke Inggris, dari Inggris ke Amerika Serikat, selalu diwarnai gesekan, konflik, dan perlombaan kekuatan.
Dalam konteks itulah hubungan Indonesia dan Prancis menjadi strategis. Keduanya bukan negara adidaya. Namun keduanya memiliki legitimasi moral dan kapasitas diplomatik untuk menjadi penyeimbang.
Indonesia adalah jangkar Asia Tenggara. Prancis adalah kekuatan utama Eropa yang memiliki tradisi otonomi strategis.
Ketika dua negara seperti ini bekerja sama, mereka membantu menciptakan ruang bagi diplomasi, bukan dominasi.
Mereka membantu memastikan bahwa dunia baru tidak hanya dibentuk oleh yang paling kuat, tetapi juga oleh yang paling bijaksana.
-000-
2. KARENA KEDAULATAN MASA DEPAN DITENTUKAN OLEH TEKNOLOGI DAN PENGETAHUAN
Di masa lalu, negara kaya adalah negara yang memiliki emas. Kemudian negara kaya adalah negara yang memiliki pabrik.
Hari ini, negara kaya adalah negara yang menguasai pengetahuan. Kecerdasan buatan. Semikonduktor.
Juga menguasai Bioteknologi. Energi bersih. Komputasi kuantum. Data.
Semua itu sedang menjadi medan perebutan baru antarbangsa.
Banyak negara berkembang gagal bukan karena kekurangan sumber daya alam. Mereka gagal karena tidak memiliki akses pada teknologi yang menentukan masa depan.
Indonesia memahami tantangan ini.
Prancis juga memahami tantangan ini. Karena itu kerja sama kedua negara jauh lebih penting daripada sekadar perdagangan atau investasi.
Yang dipertaruhkan adalah kemampuan membangun generasi masa depan. Ketika universitas bekerja sama. Ketika ilmuwan berbagi pengetahuan.
Ketika mahasiswa bertukar pengalaman. Ketika pusat riset bersama dibangun. Saat itulah fondasi kekuatan jangka panjang mulai diletakkan.
Minyak suatu hari bisa habis. Batu bara suatu hari bisa ditinggalkan.
Tetapi pengetahuan yang tertanam dalam pikiran manusia dapat terus berkembang lintas generasi.
Dan dalam dunia yang semakin ditentukan oleh inovasi, kerja sama Indonesia–Prancis sesungguhnya adalah investasi pada aset paling berharga yang dimiliki bangsa mana pun: sumber daya manusia.
-000-
3. KARENA DUNIA MEMBUTUHKAN JEMBATAN ANTARPERADABAN
Salah satu paradoks terbesar zaman modern adalah ini: teknologi membuat manusia semakin terhubung. Namun secara emosional dan politik, manusia justru semakin terpecah.
Media sosial mempercepat kemarahan. Algoritma memperkuat prasangka. Politik identitas memecah masyarakat. Perang budaya tumbuh di banyak tempat.
Dalam situasi seperti itu, hubungan antarnegara tidak cukup dibangun melalui kontrak ekonomi.
Hubungan harus dibangun melalui pemahaman budaya.
Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia yang demokratis.
Prancis adalah salah satu pusat peradaban Eropa modern.
Selama berabad-abad, banyak orang menganggap dunia Islam dan dunia Barat sebagai dua kubu yang sulit dipertemukan.
Namun malam di Istana Élysée menunjukkan gambaran yang berbeda. Borobudur dibicarakan.
Gamelan dihormati. Bengawan Solo dimainkan. Palestina didiskusikan.
Budaya menjadi bahasa bersama.
Inilah alasan ketiga mengapa hubungan Indonesia dan Prancis penting. Hubungan ini menunjukkan bahwa peradaban yang berbeda tidak harus saling mencurigai.
Mereka dapat saling belajar. Saling memperkaya. Saling menginspirasi.
Dan mungkin di abad ke-21, kemampuan membangun jembatan antarperadaban akan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan membangun jembatan ekonomi.
Sejarah juga mengajarkan bahwa kejayaan bangsa tidak lahir dari isolasi, melainkan dari keberanian memeluk kompleksitas global tanpa kehilangan jati diri. Ujian sesungguhnya adalah memastikan visi ini tidak layu saat pemimpin berganti nantinya.
-000-
Dua buku ini dapat memperkaya wawasan kita memahami isu di atas. Buku pertama berjudul The World: A Family History of Humanity. Penulisnya Simon Sebag Montefiore, 2022
Untuk memahami mengapa tata dunia lama sedang retak, saya tidak menemukan buku yang lebih memukau daripada karya Simon Sebag Montefiore ini.
Buku setebal lebih dari seribu halaman tersebut mengisahkan sejarah dunia bukan melalui negara atau perang semata, melainkan melalui keluarga-keluarga yang membangun peradaban.
Pesan paling relevan dari buku ini adalah bahwa tidak ada tatanan dunia yang abadi.Mesir pernah menjadi pusat dunia.Persia pernah menjadi pusat dunia.
Roma pernah menjadi pusat dunia.
Dinasti Tiongkok pernah menjadi pusat dunia. Imperium Inggris pernah menguasai seperempat bumi.
Semuanya berubah. Semuanya bergeser. Semuanya akhirnya digantikan.
Montefiore memperlihatkan bahwa sejarah manusia sesungguhnya adalah sejarah pergeseran pusat kekuasaan. Tidak ada bangsa yang selamanya berada di puncak.
Tidak ada peradaban yang selamanya dominan. Yang bertahan bukan yang paling kuat.
Yang bertahan adalah yang paling mampu beradaptasi.
Membaca buku ini membuat saya memahami bahwa apa yang sedang kita saksikan hari ini bukanlah akhir dunia. Ini adalah babak baru dalam siklus panjang sejarah manusia.
Tata dunia lama sedang retak bukan karena kesalahan satu negara. Melainkan karena sejarah memang selalu bergerak.
Dan setiap generasi memiliki tugas untuk membantu membentuk tatanan baru yang lebih baik daripada yang digantikannya.
-000-
Buku kedua berjudul The Age of the Unthinkable. Ia ditulis oleh Joshua Cooper Ramo, 2009
Buku ini membantu menjelaskan mengapa dunia saat ini terasa begitu tidak stabil. Joshua Cooper Ramo berargumen bahwa dunia modern telah menjadi sistem yang sangat kompleks.
Dalam sistem yang kompleks, peristiwa kecil dapat menghasilkan dampak yang sangat besar.
Virus kecil dapat menghentikan ekonomi global.
Satu konflik regional dapat mengguncang pasar energi dunia.
Satu inovasi teknologi dapat mengubah jutaan pekerjaan. Satu unggahan media sosial dapat memicu krisis politik.
Menurut Ramo, kita memasuki era ketika banyak hal yang dahulu dianggap mustahil justru menjadi mungkin.
Karena itu pemimpin abad ke-21 tidak bisa lagi berpikir dengan logika abad ke-20. Mereka harus belajar menghadapi ketidakpastian. Mereka harus membangun ketahanan.
Mereka harus menciptakan jaringan kerja sama yang luas.
Ketika saya mendengar pidato Macron dan Prabowo di Élysée, saya teringat pada tesis utama buku ini.
Dunia yang sedang lahir bukanlah dunia yang sepenuhnya dapat diprediksi. Karena itu bangsa yang berhasil bukanlah bangsa yang paling besar. Melainkan bangsa yang paling siap menghadapi perubahan.
Dan salah satu bentuk kesiapan itu adalah membangun kemitraan dengan negara-negara yang memiliki visi masa depan yang sama.
-000-
Malam itu, ketika saya meninggalkan Istana Élysée, Paris sudah larut.
Lampu-lampu kota memantul di jalan. Angin musim semi menuju summer berembus pelan. Di kejauhan, kota yang selama berabad-abad melahirkan revolusi, filsafat, seni, dan gagasan besar itu tampak tenang.
Namun pikiran saya justru dipenuhi pertanyaan tentang masa depan dunia. Saya teringat kembali pada Davos. Saya teringat kembali pada peringatan Mark Carney bahwa tata dunia lama sedang retak.
Saya teringat kembali pada kalimat yang menggema ke seluruh dunia:
“If we’re not at the table, we’re on the menu.”
Di Davos, kalimat itu terdengar seperti peringatan. Di Élysée, saya merasa menemukan jawabannya.
Jawaban itu bukan perlombaan senjata. Bukan pula pembentukan blok-blok baru yang saling bermusuhan.
Jawaban itu adalah kerja sama. Kerja sama negara-negara yang cukup kuat untuk menjaga kedaulatannya, tetapi cukup bijak untuk bekerja bersama.
Kerja sama yang dibangun bukan hanya di atas kepentingan ekonomi, tetapi juga di atas ilmu pengetahuan, budaya, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap martabat bangsa lain.
Itulah yang saya dengar dari pidato Emmanuel Macron. Itulah yang saya dengar dari pidato Prabowo Subianto.
Dan itulah yang saya rasakan mengalir di antara alunan Mozart, Debussy, dan Bengawan Solo malam itu.
Namun saya juga sadar, pidato yang indah belum tentu menjadi sejarah. Antara retorika Élysée dan kenyataan geopolitik, masih ada jurang yang hanya bisa dijembatani oleh konsistensi, keberanian, dan waktu.
Enam gagasan besar yang muncul dari kedua pidato tersebut sesungguhnya bermuara pada satu keyakinan yang sama. Bahwa abad ke-21 tidak harus menjadi abad dominasi. Ia dapat menjadi abad keseimbangan.
Bahwa dunia tidak harus dipimpin oleh rasa takut. Ia dapat dipimpin oleh rasa saling menghormati.
Bahwa negara-negara menengah tidak harus menjadi penonton sejarah.
Mereka dapat menjadi penulis sejarah. Indonesia dan Prancis mungkin dipisahkan lebih dari sebelas ribu kilometer.
Mereka lahir dari peradaban yang berbeda. Mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda. Namun malam itu saya melihat keduanya berbagi satu mimpi yang sama:
membangun dunia yang lebih merdeka, lebih seimbang, dan lebih manusiawi.
Mungkin itulah makna terdalam dari pertemuan di Élysée. Bukan sekadar pertemuan dua presiden. Bukan sekadar jamuan makan malam kenegaraan.
Melainkan pertemuan dua bangsa yang sedang mencari cara agar dunia baru yang lahir dari retaknya tata dunia lama tidak menjadi dunia yang lebih keras, melainkan dunia yang lebih beradab.
Dan sejarah selalu berubah ketika bangsa-bangsa yang cukup berani memilih menjadi jembatan, bukan tembok.
Ketika kekuatan besar sibuk memperebutkan dunia, sejarah diam-diam sedang memberi kesempatan kepada bangsa-bangsa menengah untuk menyelamatkannya
Pada akhirnya, masa depan tidak akan dimiliki oleh bangsa yang paling kuat, melainkan oleh bangsa yang mampu mengubah kerja sama menjadi peradaban.*
Paris, 29 Mei 2026
REFERENSI
1. The World: A Family History of Humanity Penulis: Simon Sebag Montefiore. Penerbit: Weidenfeld & Nicolson. Tahun Terbit: 2022
2. The Age of the Unthinkable: Why the New World Disorder Constantly Surprises Us and What We Can Do About It. Penulis: Joshua Cooper Ramo. Penerbit: Little, Brown and Company. Tahun Terbit: 2009
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World
https://www.facebook.com/share/1LYFtsbU9h/?mibextid=wwXIfr ***