Paket Retensi dan Bonus Block: Keuntungan atau Beban?

ORBITINDONESIA.COM – Ketika Naoko Takeda, seorang ilmuwan data di Block's Cash App, ditawari kenaikan gaji 75% dan bonus retensi setelah pemutusan hubungan kerja besar-besaran, dia memilih untuk keluar. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tawaran menggiurkan ini?

Takeda meninggalkan pekerjaannya setelah Block memecat lebih dari 4.000 karyawan. Dia merasa tawaran kenaikan gaji dan bonus ini bukanlah kehormatan, melainkan tindakan yang memalukan dan dehumanisasi. Dalam konteks ini, sejumlah karyawan yang tersisa menerima paket retensi dengan penawaran signifikan.

CEO Block, Jack Dorsey, mengungkapkan efisiensi AI sebagai alasan pengurangan tenaga kerja, memperkirakan bahwa semua perusahaan pada akhirnya akan mengikuti tren ini. Meskipun demikian, beberapa karyawan yang terkena dampak menyatakan bahwa meskipun mereka sepenuhnya menerima AI, hal itu tidak menyelamatkan mereka dari pemutusan hubungan kerja yang meluas.

Retensi bonus bisa membantu menenangkan kekhawatiran para karyawan yang tersisa tentang keamanan pekerjaan mereka. Namun, hal ini juga dapat membuat mereka merasa tidak nyaman karena beban kerja yang lebih besar. Selain itu, perasaan bersalah dan tidak nyaman karena masih memiliki pekerjaan saat rekan-rekan lainnya di-PHK bisa mempengaruhi budaya perusahaan dan akhirnya menyebabkan pengunduran diri.

Pada akhirnya, pertanyaannya adalah apakah langkah ini akan menjadi solusi jangka panjang bagi Block atau justru menimbulkan masalah baru. Apakah keuntungan jangka pendek dari pengurangan tenaga kerja akan sebanding dengan biaya sosial dan budaya yang harus mereka bayar? (Orbit dari berbagai sumber, 8 Maret 2026)