Rizal, Gen Z yang Tak Gengsi Jual Sayur Demi Biaya Kuliah

“Saya percaya proses, jadi saya lakukan ini.”

Kalimat itu diucapkan Rizal, pemuda Gen Z berusia 22 tahun asal Garut, Jawa Barat, yang kini merantau ke Jakarta Utara. Di usia ketika banyak anak muda masih bergantung pada dukungan orang tua, Rizal justru memilih jalan berbeda. Ia mulai menata mimpi-mimpinya dengan cara yang sederhana namun penuh usaha: berjualan sayur sambil menempuh pendidikan.

Rutinitas Rizal dimulai sejak pagi. Dari kontrakan tempat ia tinggal, ia berangkat menuju lapak sayur tempatnya bekerja. Di sana ia membantu melayani pembeli, menimbang sayuran, serta menyiapkan berbagai kebutuhan dagangan. Aktivitas tersebut sudah menjadi bagian dari kesehariannya.

Bagi sebagian orang, pekerjaan seperti ini mungkin dianggap sederhana. Namun bagi Rizal, pekerjaan itu memiliki arti yang jauh lebih penting. Dari hasil berjualan sayur, ia dapat membiayai kuliahnya sendiri tanpa harus sepenuhnya bergantung pada orang tua di kampung halaman.

Pilihan untuk bekerja sambil kuliah bukanlah keputusan yang mudah. Tinggal jauh dari keluarga, menyesuaikan diri dengan kehidupan di kota besar, serta membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan menjadi tantangan yang harus ia jalani setiap hari.

Meski begitu, Rizal memilih untuk tetap menjalaninya dengan penuh tanggung jawab. Ia menyadari bahwa pendidikan adalah salah satu jalan yang bisa membuka kesempatan lebih luas di masa depan. Karena itu, ia tidak ingin menyerah hanya karena keterbatasan ekonomi.

Di tengah kesibukannya, Rizal juga kerap membagikan aktivitasnya melalui media sosial. Dari unggahan tersebut, banyak orang mulai mengenal kisahnya. Tidak sedikit warganet yang memberikan dukungan dan apresiasi atas usaha yang ia lakukan untuk tetap melanjutkan pendidikan.

Perhatian publik terhadap cerita Rizal menunjukkan bahwa kisah-kisah perjuangan seperti ini masih memiliki tempat di hati masyarakat. Banyak orang melihat bahwa semangat belajar tidak selalu lahir dari kondisi yang serba mudah.

Rizal sendiri mengaku tidak merasa gengsi dengan pekerjaannya sebagai penjual sayur. Baginya, bekerja adalah cara untuk tetap bertahan sekaligus langkah nyata agar ia bisa terus melanjutkan pendidikan yang sedang dijalani.

Rizal juga sudah memiliki rencana yang lebih jauh untuk masa depannya. Ia bercita-cita melanjutkan pendidikan hingga jenjang S2 di luar negeri. Mimpi tersebut tentu bukan sesuatu yang kecil. Namun Rizal percaya bahwa setiap langkah yang ia jalani hari ini adalah bagian dari perjalanan menuju tujuan tersebut.

Kesehariannya mungkin terlihat sederhana: bekerja di lapak sayur, kemudian melanjutkan aktivitas belajar sebagai mahasiswa. Namun dari rutinitas itulah Rizal perlahan membangun masa depannya sendiri.

Kisahnya menjadi pengingat bahwa semangat untuk belajar bisa datang dari mana saja. Tidak selalu dari keadaan yang serba cukup, tetapi justru dari tekad untuk terus melangkah meski dengan cara yang sederhana.