Sudarsono Soedomo: Mudik Tanpa Topeng

Oleh Sudarsono Soedomo, pengajar IPB Bogor

ORBITINDONESIA.COM - Setiap menjelang Idul Fitri, jalanan penuh oleh satu kegiatan besar bangsa ini: mudik. Orang-orang kembali ke kampung halaman, kembali ke asal. Mobil penuh koper, bus penuh cerita, dan media sosial penuh foto perjalanan. Ada yang pulang membawa oleh-oleh, ada yang membawa cerita sukses, dan hampir semua membawa satu hal yang sama: baju baru.

Konon baju baru itu simbol kembali ke Fitrah—kembali suci seperti bayi. Tetapi kalau dipikir-pikir, ada kemungkinan tafsir lain yang sedikit lebih nakal. Jangan-jangan baju baru itu sebenarnya topeng baru.

Bayangkan begini. Selama hidup manusia mengumpulkan banyak topeng. Ada topeng jabatan, topeng kepintaran, topeng kesalehan, topeng kesuksesan, bahkan topeng “saya tahu segalanya”. Topeng-topeng ini dipakai karena kehidupan sosial memang membutuhkan peran. Tidak mungkin kita hidup tanpa peran sama sekali.

Masalahnya, lama-lama manusia lupa bahwa itu topeng. Ia mulai percaya bahwa topeng itulah dirinya. Di sinilah drama kecil kehidupan dimulai.

Ketika seseorang pulang kampung saat Lebaran, ia sering membawa satu kebutuhan batin yang halus: terlihat berhasil. Maka dipakailah baju baru, sepatu baru, mungkin juga cerita baru tentang kehidupan di kota. Padahal mudik seharusnya berarti kembali ke asal. Tetapi yang terjadi kadang justru sebaliknya: topeng lama belum sempat dilepas, topeng baru sudah dipasang. Jadi bukannya berkurang, jumlah topeng malah bertambah.

Padahal bulan puasa sebelumnya—bulan Ramadan—sering dipahami sebagai latihan menahan diri. Menahan lapar, menahan marah, menahan nafsu. Kalau ditafsirkan sedikit filosofis, puasa itu sebenarnya seperti mengupas kulit bawang. Lapisan demi lapisan dilepas.

Lapisan pertama mungkin kesombongan kecil. Lapisan berikutnya keinginan untuk selalu menang. Lapisan lain mungkin kebutuhan untuk selalu terlihat pintar.

Semakin lama dikupas, semakin terlihat bahwa manusia ini sebenarnya penuh lapisan. Seperti bawang. Setiap kali satu kulit dilepas, muncul kulit berikutnya. Sampai akhirnya kita bertanya: ada tidak inti bawang itu?

Di sinilah Idul Fitri menjadi menarik. Secara simbolik, ia sering dimaknai sebagai kembali ke fitri—kembali ke keadaan manusia ketika lahir. Keadaan ketika seseorang belum punya jabatan, belum punya reputasi, belum punya gelar panjang di belakang namanya. Pendek kata, keadaan ketika manusia belum memakai topeng apa pun. Waktu itu kita menyebutnya sederhana saja: bayi.

Menariknya, pada ujung kehidupan, manusia juga mendapatkan sebutan yang sama sederhananya: jenazah. Tidak ada lagi gelar akademik, tidak ada lagi jabatan, tidak ada lagi status sosial. Semua topeng ditanggalkan begitu saja.

Seolah-olah kehidupan manusia adalah perjalanan panjang dari satu keadaan tanpa topeng menuju keadaan tanpa topeng lagi. Di tengah perjalanan itu barulah manusia sibuk mengoleksi berbagai topeng.

Karena itu, mudik sebenarnya dapat dibaca sebagai simbol yang sangat indah: latihan pulang ke asal-usul kita sendiri. Bukan hanya kembali ke kampung halaman, tetapi kembali ke keadaan ketika manusia tidak terlalu sibuk mempertahankan topengnya.

Kalau seseorang benar-benar ringan mudiknya, mungkin bukan karena koper yang dibawanya sedikit. Mungkin karena topeng yang ia pertahankan dalam batin juga tidak terlalu banyak.

Ada satu pengalaman kecil yang sering menunjukkan hal ini. Ketika seseorang berani berkata, “saya tidak tahu,” hidup tiba-tiba terasa lebih ringan. Tidak perlu lagi menjaga citra sebagai orang yang selalu tahu segalanya. Satu topeng kecil terlepas. Bayangkan kalau lebih banyak topeng yang kita sadari.

Tentu saja, hidup tanpa topeng sama sekali mungkin mustahil. Kehidupan sosial tetap membutuhkan peran. Kita tetap menjadi orang tua, tetangga, pegawai, atau warga masyarakat. Tetapi ada satu perbedaan besar antara dua jenis aktor di panggung kehidupan.

Ada aktor yang percaya bahwa perannya adalah dirinya. Ada juga aktor yang sadar bahwa ia sedang bermain peran. Yang kedua biasanya hidup lebih santai. Karena ia tahu bahwa ketika pertunjukan selesai, topeng itu dapat dilepas.

Mungkin itulah salah satu makna mudik yang paling sunyi. Di tengah hiruk-pikuk perjalanan pulang kampung, di balik baju baru dan cerita baru, ada kemungkinan kecil bagi manusia untuk bercermin sejenak. Melihat wajahnya sendiri. Lalu tiba-tiba sadar bahwa banyak yang selama ini ia pertahankan ternyata hanya topeng.

Kalau kesadaran itu muncul, mungkin tidak terjadi apa-apa yang dramatis. Tidak ada petir, tidak ada wahyu besar. Yang ada mungkin hanya sesuatu yang sangat sederhana. Seorang manusia yang tersenyum pelan—dalam damai dan tenteram—karena akhirnya tahu bahwa dirinya bukan topeng yang selama ini ia pakai.

Mudik selalu membutuhkan peta. Orang memeriksa jalur tol, mencari jalan alternatif, dan memantau kemacetan agar tidak tersesat di perjalanan. Tetapi ada satu peta yang jarang diperiksa: peta batin. Mengenali dan menyadari topeng-topeng yang kita pakai sebenarnya seperti mengetahui peta jalan pulang. Tanpa peta itu, manusia mudah tersesat—bukan di jalan raya, melainkan di dalam identitas yang ia pakai sendiri.

Selamat Lebaran Idul Fitri 1447 H.  Mohon maaf lahir batin—kalau ada kata yang nyakitin, itu nggak sengaja. Kalau ada yang sengaja… ya maafin aja lah, mumpung hari kemenangan.

(Bogor, 17 Maret 2026) ***