24 Ribu Buku Dibagikan Gratis saat Mudik, Cara Baru Bikin Perjalanan Lebih Bermakna

ORBITINDONESIA.COM — Di tengah hiruk-pikuk arus mudik yang selalu dipenuhi koper, tas, dan kelelahan perjalanan panjang, ada pemandangan berbeda di Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Senin pagi itu, bukan hanya tiket dan jadwal keberangkatan yang dibagikan—tetapi juga buku.

Ribuan buku bacaan hadir sebagai teman baru bagi para pemudik, terutama anak-anak, melalui program Mudik Asyik Baca Buku 2026 yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Sebuah inisiatif sederhana, namun menyimpan gagasan besar: menjadikan perjalanan pulang kampung tidak hanya soal jarak, tetapi juga tentang pengalaman belajar.

Program ini secara resmi dibuka oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, bersama sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari DPR RI hingga perwakilan sektor transportasi. Dari satu titik keberangkatan di Jakarta, gerakan ini kemudian menjangkau berbagai simpul perjalanan—stasiun, terminal, bandara, hingga pelabuhan—yang tersebar di wilayah DKI Jakarta dan Banten.

Sebanyak 24 ribu buku dibagikan secara gratis kepada para pemudik. Buku-buku tersebut tidak sekadar diberikan, tetapi dihadirkan sebagai alternatif: di antara waktu menunggu, di sela perjalanan panjang, atau bahkan untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan yang bermanfaat.

Bagi banyak anak, perjalanan mudik sering kali identik dengan rasa bosan atau waktu yang dihabiskan di depan gawai. Program ini mencoba mengubah kebiasaan tersebut, menghadirkan buku sebagai teman perjalanan yang lebih bermakna. Sebuah upaya untuk memperkenalkan kembali kesenangan membaca di tengah dominasi layar digital.

Menteri Abdul Mu’ti menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menumbuhkan budaya literasi sejak dini. Harapannya, buku tidak hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi pilihan utama bagi anak-anak dalam mengisi waktu mereka.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari berbagai pihak. Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai bahwa menghadirkan buku di ruang-ruang publik seperti titik transportasi adalah pendekatan kreatif untuk mendekatkan anak-anak dengan bacaan. Kolaborasi dengan Perpustakaan Nasional, Ikatan Penerbit Indonesia, hingga para penerbit menjadi kunci agar gerakan ini dapat berjalan luas dan berkelanjutan.

Di balik angka 24 ribu buku, terdapat harapan yang lebih besar: tumbuhnya generasi yang akrab dengan literasi, yang melihat membaca bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan.

Mudik, yang selama ini identik dengan perjalanan fisik dari kota ke kampung halaman, perlahan diberi makna baru. Bukan hanya kembali ke akar, tetapi juga membuka jendela pengetahuan.

Dan mungkin, di antara riuhnya perjalanan itu, satu buku yang dibaca di kursi kereta atau ruang tunggu terminal bisa menjadi awal dari kebiasaan kecil—yang kelak membawa perubahan besar.