Presenteeism Australia: Enggan Ambil Cuti Sakit dan Risiko Kesehatan

ORBITINDONESIA.COM – Presenteeism Australia kembali disorot setelah survei people2people Recruitment menunjukkan 85 persen responden ragu mengambil cuti sakit. Di balik narasi “tetap masuk kerja” dan “tahan dulu”, tersimpan risiko kesehatan karyawan, penularan di kantor, dan produktivitas yang justru turun.

Temuan survei itu mengungkap kebiasaan yang tampak heroik, tetapi rapuh secara sistem. Banyak pekerja memilih hadir saat sakit demi citra tangguh, bukan demi pemulihan.

Head of HR solutions people2people, Suhini Wijayasinghe, menyebut ini bukti bahwa tekanan dan budaya kerja masih mendorong presenteeism. Ia menegaskan, persoalan cuti sakit bukan sekadar kebijakan, melainkan iklim psikologis di tempat kerja.

Angka-angka memberi petunjuk mengapa orang menahan diri. Sekitar sepertiga merasa terlalu sibuk, sedikit lebih banyak diliputi rasa bersalah, dan seperempat takut dihakimi.

Presenteeism sering terlihat seperti disiplin, padahal bisa menjadi gejala ketidakamanan. Ketika pekerja takut dinilai lemah, keputusan kesehatan berubah menjadi keputusan reputasi.

Data survei menunjukkan 62 persen responden memakai kurang dari tiga hari dari jatah 10 hari cuti sakit dalam setahun. Namun hampir seperempat justru memakai lebih dari seluruh jatah, menandakan sebagian pekerja “membayar” sakit dengan saldo cuti yang cepat habis.

Saat jatah cuti menipis, kompromi menjadi lebih ekstrem. Sebanyak 62 persen mengaku tetap masuk kerja ketika merasa sakit, dan 8 persen mengatakan pernah melakukannya sekali.

Di level organisasi, konsekuensinya tidak selalu terlihat di laporan harian. Wijayasinghe memperingatkan risiko penularan lebih tinggi, produktivitas lebih rendah, dan kesejahteraan yang memburuk jika pekerja tidak merasa aman menggunakan cuti sakit.

Menariknya, niat pencegahan sebenarnya kuat. Sebanyak 81 persen setuju vaksin flu sebaiknya disediakan gratis di tempat kerja.

Masalahnya, niat itu belum menjadi praktik. Hanya 37 persen responden melaporkan menerima vaksin flu dalam setahun terakhir, sehingga ada “peluang nyata” bagi perusahaan menormalkan langkah pencegahan.

Komunikasi dengan atasan menjadi indikator lain dari budaya yang bekerja. Hanya 43 persen merasa sangat nyaman memberi tahu manajer saat sakit, sementara 25 persen tidak nyaman dan 12 persen menghindarinya sama sekali.

Angka ini menandakan hambatan bukan hanya administratif, tetapi relasional. Ketika ruang bicara sempit, pekerja cenderung memilih hadir fisik sambil menanggung sakit diam-diam.

Presenteeism Australia seharusnya dibaca sebagai sinyal kegagalan desain kerja, bukan sekadar pilihan individu. Budaya “selalu tersedia” membuat sakit tampak seperti pelanggaran moral, bukan kondisi biologis.

Rasa bersalah yang dominan dalam survei mengisyaratkan adanya norma tak tertulis: pekerja baik adalah pekerja yang tidak merepotkan. Pada titik itu, cuti sakit berubah dari hak menjadi negosiasi psikologis.

Ketika perusahaan menginginkan produktivitas jangka panjang, logikanya justru berlawanan dengan presenteeism. Orang yang memaksakan diri bekerja saat sakit tidak hanya memperlambat pemulihan, tetapi berpotensi memperluas penularan dan menambah beban tim.

Program vaksin flu gratis di kantor bisa menjadi pintu masuk perubahan, tetapi tidak cukup bila budaya tetap menghukum ketidakhadiran. Normalisasi pencegahan harus dibarengi normalisasi pemulihan, agar “sehat” tidak sekadar slogan di poster HR.

Di sisi lain, transparansi manajer penting agar pekerja tidak merasa harus membuktikan sakitnya. Jika 12 persen memilih menghindari komunikasi, itu pertanda bahwa sebagian tempat kerja belum menjadi ruang aman untuk berkata, “Saya perlu pulih.”

Survei people2people memperlihatkan paradoks yang keras: banyak pekerja menahan cuti sakit, tetapi akhirnya tetap masuk kerja ketika sakit karena jatah habis atau takut dinilai. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini menggerus kesehatan, mengundang penularan, dan merusak produktivitas yang ingin dijaga.

Perusahaan dapat memulai dari kebijakan yang memudahkan—seperti vaksin flu gratis—namun inti persoalan ada pada budaya yang memberi izin untuk beristirahat tanpa rasa bersalah. Pertanyaannya, apakah tempat kerja kita benar-benar mengukur kinerja dari hasil, atau dari seberapa sering seseorang terlihat hadir meski tubuhnya meminta berhenti?

(Orbit dari berbagai sumber, 16 Juni 2026)