Adopsi AI di Tempat Kerja: Budaya Kerja Tak Bisa Diotomasi
ORBITINDONESIA.COM – Adopsi AI di tempat kerja sedang dikebut, tetapi budaya kerja tak bisa dipercepat dengan tombol “deploy”. Saat Amazon meluncurkan Alexa+ lintas negara, timnya justru belajar bahwa koneksi budaya bukan sekadar bahasa dan slang.
Amazon ingin Alexa+ “terasa seperti keluarga” di berbagai rumah, lalu membentuk tim kompleks dari engineer, data science, dan tim lokal. Dalam persiapan rilis di Kanada, mereka menemukan respons yang “terlalu banyak referensi moose,” kata Carlos Perez, director Alexa in the Americas.
Pelajaran itu relevan untuk perusahaan Kanada yang mengejar efisiensi lewat AI dan LLM. Bahkan model yang paling halus tetap membutuhkan interaksi tingkat-karyawan agar alat benar-benar berguna dan diterima.
Susan Zettergren, chief people officer Capital One Canada, mengakui pemahaman slang lokal penting untuk perangkat AI. Namun ia menegaskan budaya kerja dibangun oleh manusia, lewat interaksi manusia, bukan oleh sistem yang sekadar “menjawab benar”.
Kesenjangan sudah terlihat: survei yang dikutip Canadian HR Reporter menyebut sembilan dari 10 pengguna AI pernah meninggalkan alat kerja setidaknya sekali karena frustrasi. Di saat yang sama, para eksekutif cenderung lebih optimistis terhadap adopsi, sehingga jarak persepsi makin lebar.
Frustrasi ini jarang murni soal fitur, dan lebih sering soal konteks kerja yang tak terbaca oleh mesin. Budaya, kata Zettergren, adalah “fabric of who we are,” termasuk aturan tak tertulis yang mengatur keputusan, cara kerja, dan rasa percaya.
Di titik itu AI cepat mentok, karena ia tidak hidup di dalam relasi dan sejarah tim. Organisasi yang “over-indexing” pada AI sebagai obat cepat tekanan produktivitas berisiko kehilangan hal yang membuat pekerjaan berjalan: penilaian, empati, dan konteks.
Karena itu adopsi AI tidak bersifat biner, melainkan soal keseimbangan. Zettergren menekankan pelatihan yang konsisten, tata kelola penggunaan, serta jalur karier yang menghargai spektrum keterampilan dari teknis hingga kolaborasi.
Capital One memakai “champions” di tiap departemen untuk menghidupkan strategi AI lewat use case yang nyata. Pendekatan ini memberi kanal umpan balik agar teknologi tidak menggilas kegelisahan budaya, apalagi ketika cara penggunaan AI terus berubah.
Sinyal budaya paling jelas muncul pada pekerja awal karier yang cemas otomatisasi. “Headlines” tentang AI sering menyorot otomasi tugas junior, sehingga wajar bila pekerja baru merasa takut kehilangan pijakan.
Jika perusahaan hanya menawarkan training teknis, kecemasan itu tidak hilang, hanya berpindah bentuk menjadi sinisme dan penarikan diri. Dampaknya strategis: pipa pemimpin masa depan dan pengetahuan organisasi bisa terkikis sebelum matang.
Di banyak perusahaan, AI diperlakukan seperti proyek IT, padahal ia proyek sosial yang menyentuh martabat dan rasa aman. Ketika strategi datang dari atas tanpa dialog, yang retak bukan produktivitas, melainkan kepercayaan.
Kasus “moose references” dari Alexa+ terdengar lucu, tetapi ia menunjukkan bahaya pendekatan permukaan: terlihat lokal, namun terasa asing. Di kantor, versi “moose” bisa berupa chatbot HR yang sopan tetapi tak paham realitas beban kerja, atau dashboard kinerja yang rapi tetapi menihilkan kerja kolaboratif.
Budaya kerja bukan dekorasi, melainkan sistem operasi organisasi. Jika AI dipasang tanpa membaca sistem operasi itu, perusahaan akan mengira mereka menghemat waktu, padahal mereka sedang memindahkan biaya ke tempat lain: konflik, churn, dan hilangnya komitmen.
Karena itu ukuran keberhasilan AI seharusnya bukan hanya output dan efisiensi, tetapi kualitas kerja bersama. “It’s bigger than just the thing that you've delivered,” kata Zettergren, karena yang dinilai adalah bagaimana pekerjaan dilakukan secara kolaboratif.
Adopsi AI di tempat kerja akan terus melaju, tetapi budaya kerja menentukan apakah laju itu menghasilkan kemajuan atau sekadar kebisingan. AI bisa memahami kata, namun manusia membangun makna, dan makna itulah yang membuat orang mau bertahan dan bertumbuh.
Pertanyaannya bukan “seberapa cepat kita mengadopsi AI,” melainkan “seberapa jujur kita mendengar manusia yang bekerja dengannya.” Jika organisasi berani menyeimbangkan teknologi dengan empati, mereka tidak hanya mengadopsi AI, mereka membangun masa depan kerja yang layak dipercaya.
(Orbit dari berbagai sumber, 28 Mei 2026)