Gelar yang Kutanggalkan, Bekal yang Kuwariskan
Penulis : Raden Hezty Ramadhana Retta
“Assalamualaikum” kataku sambil mengetuk pintu seraya mengajak kedua anak ku menunggu dengan tenang di depan pintu rumah, menunggu sang pemilik membukakan pintunya untuk kami.
Tidak lama, terdengar suara balasan salam dari dalam rumah dengan bunyi langkah kaki setengah berlari.
“wa’alaikumsalam. Udah dateng yaa Benji Jodi?”, balasnya sambil terburu-buru membuka kunci pintu. Tidak lama, pintu terbuka. Senyum itu kulihat lebih lebar dari biasanya. Senyum yang sama yang menyapa ku setiap pulang. Senyum ibu.
Selalu setiap datang ke rumah ibu, peranku sebagai istri dan ibu seperti masuk kepada mode ‘tidur’ dan peran ku sebagai anak masuk ke mode ‘aktif’. Aku dibiarkan duduk dan mengerjakan apapun yg ku mau karena kedua anak balita ku dipegang penuh oleh beliau.
“masak apa Bu hari ini?” tanyaku seraya membuka tudung saji. Di dalamnya berbagai lauk makanan ada di sana. Mulai dari yang digoreng, ditumis, berkuah, sampai menu khusus ‘bocil’.
‘ah, ibu memang ibu yang selalu memberikan 100% hidupnya’, batin ku. Pikiranku melayang masuk ke masa kecil ku. Ingat setiap hari, beliau tanya “hari ini teteh mau makan apa?”. Betul, ia selalu berusaha membuat apapun dengan tangannya sendiri. Ia berusaha untuk bisa masak apapun agar anak-anaknya bisa menikmati makan yang kami inginkan di rumah.
Tidak hanya soal makanan, tentu soal pendidikan dan perkembangan anak, menurutku ibu ahlinya. Bukan hanya ada untuk kami selama 24 jam penuh, tapi juga turut mengoptimalkan potensi kami. Ia adalah sosok guru pertama untuk ku. Sejak aku kecil, ibu sudah memenuhi kebutuhan belajar ku dengan sangat baik. Di rumah, standar belajar kami memang bisa dibilang tinggi. Setiap ujian, sudah membudaya dalam keluarga kami untuk duduk belajar bersama dengan ibu sebagai guru yang membersamai kami. Itu dilakukan bahkan sampai aku kuliah. Kami, anak-anaknya, selalu merasa kurang apabila belum diuji oleh ibu.
“Ibu jadi ikutan pinter nih namanya”, ledeknya kalau anaknya sudah mulai minta waktunya untuk membersamai kami belajar.
Meski tidak selalu mendapatkan hasil sesuai harapan, tapi yang selalu Ibu katakan adalah bagian terpenting dari perjuangan adalah prosesnya. Satu nilai mahal yang kami dapat dari cara pengasuhan Ibu kepada kami.
Berbicara proses, transformasi ibu adalah satu pelajaran menarik bagi ku. Ibu adalah seorang anak perempuan yang pintar dan gemar belajar. Ibu adalah satu role modelku selama sekolah karena selalu masuk sekolah terbaik. Seorang anak perempuan kebanggaan ayah (kakek ku). Ibu ku gemar naik gunung, punya teman yang banyak, juga suka menari. Rumah kakek kerap jadi ‘basecamp’ tempat teman-teman ibu berkumpul. Sampai bertemu ayah ku pun juga karena kenal dari suatu komunitas. Ibu juga seorang gadis yang gemar melakukan kegiatan perempuan, bakatnya di seni seperti menggambar dan menjahit sangat kuat, sampai ia sempat meminta melanjutkan kelas menjahit sebagai ganti kuliah. Sayangnya, anak kesayangan ayah ini sudah diarahkan karirnya untuk harus melanjutkan kuliah di tempat yang sang ayah mau. Mau tidak mau, suka tidak suka, akhirnya ia ikuti. Entah karena memang sudah bawaan diri karena punya otak yang cukup cair, nyatanya beliau tetap survive mengenyam bangku kuliah, lulus dengan nilai terbaik, dan justru berujung jadi salah satu pengajar di kampusnya.
Namun, semua berubah sejak ia dihadapkan pada realita bagaimana beratnya meninggalkan dua anaknya di rumah sementara ia harus bekerja di luar mengajar siswa-siswanya. Hatinya bergejolak. Seiring berjalannya waktu, keinginannya semakin kuat untuk bisa membersamai kami secara penuh di rumah. Meski ada satu-dua hal yang harus ia korbankan, yaitu karir dan ekonomi.
Setelah aku dewasa, sempat ku tanya pada beliau, “kenapa ibu dulu berhenti jadi dosen?”
Jawabannya bikin aku terpana, “Ngapain ibu bikin anak-anak orang pintar tapi anak ibu sendiri ga bisa ibu urus di rumah? jangankan ngurusin belajarnya, belum tentu ibu bisa urus juga makannya, mandinya, tidurnya”
“Tapi memang ga sayang? bukannya ibu dikasih kesempatan S2 juga?”
“ya, dikasih sih” katanya santai, “ke luar negeri lagi, tapi buat apa? Ibu ga pengen-pengen banget kalau jadinya kalian berantakan” suatu pengakuan yang sepertinya mudah ia sampaikan tapi masuk begitu dalam ke pada. Ibu menempatkan kami di atas segalanya. Seperti sudah rela pasang badan pada setiap pendapat orang yang akan tertuju kepadanya, apalagi kala itu kesempatan untuk mendapatkan sekolah lebih tinggi dari sekedar Sarjana bukan hal yang mudah. Mulai dari komentar yang membuatnya senang, sampai komentar yang menjatuhkan kerap ia terima. Apalagi naik turunnya ekonomi keluarga membuat ia kerap ditunjuk untuk disalahkan atas keputusannya. Aku tau, dalam hatinya mungkin pedih, namun ia tetap berdiri tegap dan tersenyum seolah menangkal energi negatif demi dunia anaknya yang tetap nyaman.
Pada akhirnya aku paham, bahwa tidak ada perjuangan yang bisa disepelekan. Baik itu menjadi perempuan yang punya pilihan untuk mengarungi dunia kerja sambil mengasuh anak, maupun menjadi perempuan yang meletakan kesempatan karirnya, impiannya, demi membangun sebuah kebahagian baru bagi dirinya, yaitu memastikan dunia anak-anaknya tetap aman bersamanya. Bagi ku, perjuangan ibu yang hadir secara penuh dalam perjalanan hidup anak-anak nya telah berhasil. Perjuangan ibu menjadi satu warisan besar untuk ku dalam membersamai kedua anakku. Terutama, ketika hari-hariku terasa berat, aku ingat ada ibu yang dengan segala perjuangannya tetap kuat berdiri demi dunia anaknya aman dan nyaman, itu juga yang akan aku lakukan untuk anak-anakku.