Perpanjangan Waiver Minyak Rusia: Stabilitas atau Kontroversi?

ORBITINDONESIA.COM – Ketegangan di Timur Tengah dan meningkatnya harga energi global memaksa Amerika Serikat memperpanjang waiver pembelian minyak Rusia, meski mendapat kritik tajam dari banyak pihak.

Di tengah ketegangan perang antara Iran dan Timur Tengah, pemerintahan Trump memperpanjang waiver untuk memungkinkan pembelian minyak Rusia. Keputusan ini bertujuan menstabilkan harga energi global yang melonjak. Namun, hal ini menuai kritik karena dianggap menguntungkan Rusia di tengah perang dengan Ukraina.

Departemen Keuangan AS mengizinkan negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang dimuat di kapal hingga 16 Mei. Langkah ini menggantikan waiver yang berakhir pada 11 April dan mengabaikan transaksi dengan Iran, Kuba, dan Korea Utara. Sementara itu, harga minyak global turun 9% setelah Iran membuka sementara Selat Hormuz. Namun, perang telah menyebabkan gangguan pasokan energi terburuk dalam sejarah, menurut Badan Energi Internasional.

Perpanjangan waiver ini mendapat kritik dari para pembuat kebijakan di AS, yang menilai langkah ini dapat merusak upaya Barat untuk mengurangi pendapatan Rusia. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen juga menegaskan bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk melonggarkan sanksi terhadap Rusia. Kirill Dmitriev, utusan khusus Presiden Rusia, menyatakan bahwa perpanjangan ini akan memengaruhi 100 juta barel minyak Rusia lainnya.

Keputusan perpanjangan waiver ini menunjukkan upaya kompleks untuk menyeimbangkan stabilitas energi global dengan dinamika politik internasional. Dengan alat yang hampir habis untuk menstabilkan pasar energi, dunia perlu mempertimbangkan strategi jangka panjang yang lebih berkelanjutan. Pertanyaannya, seberapa jauh kita harus melangkah untuk menjaga keseimbangan ini?

(Orbit dari berbagai sumber, 21 April 2026)