Penuturan Orang Tua Korban Tragedi Daycare Little Aresha: "Saya Akui Saya Sedikit Bodoh!"
SAYA AKUI SAYA SEDIKIT BODOH - Ini penuturan orang tua korban tragedi Daycare Little Aresha.
ORBITINDONESIA.COM - “Saya akui. Saya sedikit bodoh karena terperdaya daycare tersebut. Itu penyesalah terbesar saya saat ini.”
“Saya tidak sendiri. Anda lihat! Kami ini lintas profesi. Kami berpendikan. Bahwa orang tua orang tua anak ini berpendidikan! Tetapi terperdaya oleh promosi, oleh agitasi, oleh branding daycare ini, apalagi dengan nuansa islami.”
“ Kami ini teryakinkan. Body language Bu Dh (Ketua Yayasan) sangat luar biasa. Mulai dari menyentuh anak, memperlakukan anak, perhatiannya ke anak pada kesan pertama, sampai dengan semua ucapannya yang lemah lembut. Kami ini semua orang tua percaya.”
“Ketika terjadi apa-apa dengan anak yang kami kadang tidak perhatian, dia pandai untuk memainkan psikologi anak dan memainkan emosi agar kami orang tua malah saling menyalahkan. Misalkan ketika anak kami ada bekas luka atau apa, dia bisa berperilaku kepada kami bahwa apa yang anak kami alami itu seakan-akan kesalahan orang tua.”
“Kami juga dimudahkan. Sangat dimudahkan. Bahwa anak dijemput dari rumah dan dikembalikan lagi ke rumah sehingga kami tidak perlu repot mengantar dan menjemput anak dari lokasi daycare. Kurang enak apa coba? Ternyata kami baru ketahui dan sadar, bahwa tindakan itu adalah agar tidak ada kecurigaan bahwa ternyata jumlah anak yang dititipan di daycare itu sampai dengan 50 anak lebih. Bayangkan anak segitu banyak dalam ruangan tidak layak, berlumut, dan hanya bagus rapi bersih ber-AC dari luar. Kami tidak protes ketika kami tidak diizinkan ke bagian dalam. Kami tidak bertanya-tanya lebih lanjut.”
“Anak juga kerap sakit, tiap 3 bulan ke dokter karena pneumonia. Itu juga jadi konflik rumah tangga. Tidak menduga bahwa ini adalah karena kejahatan daycare itu.”
“Kami, para orang tua stress. Karena selain harus menanggung perasaan bersalah yang begitu dalam dan juga entah kapan bisa recovery, juga karena kami mendapat sanksi sosial dari sosial media. Dari netizen. Bahwa kesalahan orang tua seperti kami kemudian dihakimi publik, dikatakan goblok, tidak peka tidak ini dan tidak itu. Kurang berat apa coba?
“Kami sadar, the show must go on. Bahwa pada akhirnya kami harus kuat bukan saja demi menolong luka kami sendiri, tetapi juga kami harus menguatkan anak-anak kami yang entah bagaimana parahnya sudah terluka fisik dan mentalnya tanpa kami ketahui seberapa dalam dan bagaimana caranya untuk memulihkannya. Kami butuh bantuan. Butuh bantuan dari proses hukum dan proses penyembuhan trauma ini.”
“Kami adalah generasi sandwich. Bekerja karena keadaan dan tuntutan kebutuhan yang tidak mudah di zaman ini. Untuk siapa? Untuk anak-anak kami dan juga yang bergantung pada kami. Dua duanya, ayah ibu, kerja ya karena kalau satu saja yang kerja, tidak akan cukup. Kami bingung setelah ini mau gimana. Kami memohon informasi yang jelas: apa yang harus dilakukan? ke mana keberlanjutan anak-anak mereka akan dititipkan atau diasuh? Bagaimana menyikapinya dan sebagainya.”
“Alhamdulillah, negara hadir. Mohon kasus hukum berjalan sesuai koridor. Bahwa siapapun backing di balik pelaku ini akan ditrabas oleh kepolisian. Kami harap kami tidak dikecewakan.”
Dalam pertemuan itu, ada komitmen bersama antara pemerintah daerah dan pusat, untuk menangani kebutuhan korban mulai dari persoalan medis, mental, hukum dan kebutuhan lainnya dari para korban, anak-anak dan orang tua mereka.
Begitulah catatan saya, ketika kemarin menjadi salah satu undangan pada kegiatan ekspose pemerintah dan keluarga anak korban daycare Little Aresha di kantor DP3AP2 DIY. Senin 27 April 2026.
Rasa prihatin dan empati sedalam-dalamnya untuk adik-adik, dan para orang tua. Sebagai pekerja sosial anak yang begitu dekat dengan anak, jangan ditanya bagaimana sedihnya saya dan bagaimana amarah saya pada para pelaku. Jika ada keberatan ataupun sanggahan dari keluarga korban atas catatan saya di atas, atau permintaan penurunan konten agar tidak terjadi trauma, akan saya lakukan demi menghormati dan menghargai Bapak Ibu. Semua demi yang terbaik.
(Sumber: FB Feriawan Agung Nugroho) ***