Dahlan Iskan: Tantangan Utama Organisasi Modern Adalah Kemampuan Pemimpin Membaca Situasi
ORBITINDONESIA.COM – Program Doktor Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina menyelenggarakan forum diskusi strategis bertajuk “Manajemen Krisis Perusahaan di Tengah Ketidakpastian Global”. Forum ini menghadirkan Dahlan Iskan, Menteri BUMN periode 2011–2014, sebagai pembicara utama yang membagikan pengalaman praktis dan refleksi kritis terkait kepemimpinan, pengelolaan organisasi, serta strategi menghadapi krisis dalam konteks nasional maupun global.
Dalam paparannya, Dahlan menegaskan bahwa tantangan utama organisasi modern bukan semata kompleksitas persoalan, melainkan kemampuan pemimpin membaca situasi dan menentukan prioritas secara tepat.
Ia mencontohkan pengalamannya saat memimpin PT PLN (Persero), meskipun tidak memiliki latar belakang pendidikan teknik.
Menurutnya, kepemimpinan tidak harus bertumpu pada kompetensi teknis, tetapi pada kapasitas manajerial dan kemampuan memimpin yang kuat.
“Pemimpin yang baik bukan hanya yang paham teknis, tetapi yang menguasai manajerial dan mampu memimpin dari level bawah hingga manajer,” ujarnya.
Dahlan juga menyoroti pentingnya independensi dalam membangun tim. Ia mengaku memilih langsung jajaran direksi guna memastikan keselarasan visi dan soliditas organisasi.
“Direktur harus saya tentukan sendiri agar tim solid. Tidak boleh ada ‘juragan’ di luar struktur yang mengganggu pengambilan keputusan,” tegasnya.
Selain itu, ia menekankan bahwa antusiasme dan kemauan untuk berkembang menjadi kunci organisasi yang adaptif. Menurutnya, potensi manusia pada dasarnya tidak terbatas selama individu mampu memperluas cara pandang.
“Otak manusia tidak terbatas. Kita mungkin tidak menggunakan sampai 10 persen. Kita bisa memperluasnya dengan menggeser ufuk berpikir,” katanya.
Salah satu poin penting yang disorot adalah penyusunan skala prioritas. Dahlan menilai konsep ini kerap disampaikan secara retoris, namun belum dijalankan secara sistematis dan ilmiah. Ia menekankan bahwa proses tersebut harus diawali dengan inventarisasi persoalan secara terbuka dan kolektif.
“Semua harus menyampaikan persoalan terbesar. Baik atau buruk dicatat, tetapi harus dirumuskan secara konklusif dalam satu kalimat,” jelasnya.
Ia menambahkan, tidak semua persoalan harus diselesaikan secara bersamaan. Organisasi perlu menyesuaikan prioritas dengan kapasitas dan sumber daya yang tersedia.
“Dari situlah lahir skala prioritas, berdasarkan kemampuan dan pembiayaan,” ujarnya.
Dalam implementasinya, Dahlan menekankan pentingnya disiplin dalam menjalankan prioritas. Sumber daya terbaik, baik manusia maupun finansial, harus difokuskan pada isu utama.
“Kalau itu prioritas nomor satu, maka orang terbaik harus ditempatkan di situ. Tidak boleh ada kompromi karena kepentingan,” tegasnya.
Dalam konteks manajemen krisis, Dahlan menilai peran pemimpin sangat krusial, terutama dalam membaca tanda-tanda awal krisis. Ia menyoroti bahwa banyak organisasi gagal karena tidak mampu mengenali sinyal dini.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, pemimpin perlu membangun kesadaran krisis di internal organisasi.“Kalau pemimpin sudah tahu akan ada krisis, tapi bawahannya belum sadar, maka pemimpin harus menciptakan kesadaran krisis itu,” ungkapnya.
Di luar isu manajerial, Dahlan juga menyinggung sejumlah isu strategis nasional, termasuk pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia mengkritisi rendahnya efisiensi investasi yang dinilai belum menghasilkan manfaat optimal.
“Kita mengeluarkan ratusan triliun, tetapi hasilnya belum terlihat. Itu tidak ilmiah,” ujarnya.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan konsep Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yang mengukur hubungan antara investasi dan output ekonomi.
“Setiap satu rupiah yang dikeluarkan harus menghasilkan nilai tambah. Itu prinsip ICOR, dan kita masih lemah di situ,” pungkasnya.***