Puncak Hujan Meteor Eta Aquarid Terganggu Terang Bulan
ORBITINDONESIA.COM – Fenomena hujan meteor Eta Aquarid yang ditunggu-tunggu akan segera menerangi langit malam dengan serpihan dari komet Halley. Namun, bulan yang terang benderang tahun ini akan membuat pemandangan tersebut sulit dinikmati.
Pada malam puncaknya, Selasa hingga Rabu pagi, pengamat dari belahan bumi selatan biasanya menyaksikan 50 meteor per jam. Namun, bulan yang mengganggu dapat memangkas jumlah tersebut hingga setengahnya. Di belahan bumi utara, jumlah meteor yang terlihat bahkan lebih sedikit, kurang dari 10 per jam.
Hujan meteor terjadi ketika Bumi melewati jejak serpihan yang ditinggalkan oleh komet atau asteroid. Serpihan ini bertabrakan dengan atmosfer Bumi pada kecepatan yang sangat tinggi, menghasilkan garis-garis cahaya yang juga dikenal sebagai bintang jatuh. Meskipun pada malam hari tertentu beberapa meteorit bisa terlihat di bawah langit gelap, hujan meteor lebih menarik karena terjadi pada waktu yang dapat diprediksi setiap tahun.
Menurut Teri Gee, manajer Planetarium Barlow di Wisconsin, pengamat di belahan bumi utara tidak akan terlalu terkesan. Namun, bagi mereka yang berada lebih jauh ke selatan, pemandangan ini bisa lebih menakjubkan. Gee menyarankan untuk menghindari lampu kota dan bangunan tinggi untuk mendapatkan pandangan yang jelas ke langit.
Pada akhirnya, menikmati hujan meteor adalah pengalaman yang lebih baik jika dilihat secara langsung, meskipun bulan terang dapat mengurangi jumlah meteor yang terlihat. Menghabiskan waktu di luar ruangan, jauh dari polusi cahaya, dapat memberikan momen refleksi dan kekaguman terhadap keajaiban alam yang jarang terjadi. Apakah kita siap untuk menantikan pemandangan ini dan memikirkan keindahan alam semesta yang lebih luas?
(Orbit dari berbagai sumber, 8 Mei 2026)