Hendrajit: NU Nyata, Tetapi Kurang Aktual
Oleh Hendrajit, pengkaji geopolitik, guru kelana, dan wartawan freelance.
ORBITINDONESIA.COM - Kisruh di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) sebaiknya tidak semata-mata dipandang melalui lensa campur tangan eksternal atau betapa "seksinya" NU sebagai pangsa pasar politik untuk meraup suara dalam kontestasi kekuasaan. Persoalan ini lebih tepat ditelaah dari sudut ketahanan budaya internal NU sendiri sebagai organisasi sosial-keagamaan yang memiliki kemampuan atau ketidakmampuan dalam menghadapi intervensi, penetrasi, dan bahkan akuisisi pengaruh dari luar.
Jika terlalu fokus pada faktor eksternal, kita berisiko terjebak dalam semacam "sindrom aku malang"—perasaan bahwa setiap kali ada campur tangan kekuasaan, berarti kita tidak berdaya. Akibatnya, muncul sikap pasrah: menerima keadaan apa adanya karena merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengubahnya.
Di sinilah kerapuhan NU sebagai entitas sosial dan budaya mulai tersingkap. Ketika sebuah komunitas tersugesti bahwa dirinya tidak berdaya, maka perlahan ia akan menerima kondisi yang sebenarnya tidak disukai, tetapi dianggap tak terhindarkan. Baik warga maupun sebagian elite NU dapat terjebak dalam kondisi psikologis semacam itu.
Konsekuensinya bersifat strategis. NU menjadi kesulitan membedakan antara kenyataan dan aktualitas. NU memang nyata. Ia hadir, hidup, dan bertahan sejak 1926 hingga hari ini. Alhamdulillah. Namun, pada saat yang sama, aktualitasnya sebagai kekuatan budaya dan peradaban justru semakin memudar.
NU ada secara fisik dan organisatoris, tetapi belum tentu hadir secara efektif dalam menjawab tantangan zaman.
Padahal NU memiliki khazanah tradisi, kearifan lokal, dan warisan intelektual yang sangat kaya. Persoalannya, kekayaan itu belum sepenuhnya diaktualisasikan untuk menyembuhkan berbagai penyakit sosial yang lahir dari modernisasi dan globalisasi. Alih-alih menjadi penawar, dalam banyak hal NU justru ikut terpapar penyakit yang sama seperti masyarakat modern yang hendak dibimbingnya.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Saya teringat pesan almarhum mentor spiritual saya, Haji Mochtar Hussein. Beliau pernah berkata, "Setiap tindakan pasti ada alasannya, dan setiap alasan pasti ada maknanya."
Makna lahir dari cara berpikir dan cara pandang. Dan di sinilah mungkin letak persoalannya. Entah sejak kapan, NU mulai memandang tradisi dalam bingkai "pelestarian" dan "konservasi". Tradisi dijaga agar tidak punah, dipertahankan agar tidak hilang ditelan zaman.
Padahal tradisi tidak cukup hanya dilestarikan. Tradisi harus diaktualisasikan.
Tradisi semestinya berdialog dengan zaman, bukan sekadar bertahan darinya. Tradisi dan modernitas seharusnya menjadi mitra dialog yang saling memperkaya, bukan dua kutub yang saling menjauh.
Ketika peran NU dibingkai hanya sebagai penjaga tradisi, maka secara tidak sadar tradisi ditempatkan pada posisi yang lemah, defensif, dan inferior. Tradisi dipandang sebagai sesuatu yang harus dilindungi, bukan sebagai sumber daya hidup yang mampu memberi jawaban atas persoalan-persoalan baru.
Akibatnya, tradisi seolah dilokalisasi dan dimuseumkan. Ia tetap ada, tetapi kehilangan daya hidupnya. Ia dikenang, tetapi tidak digunakan. Ia dihormati, tetapi tidak diaktualisasikan.
Padahal tantangan zaman modern sangat membutuhkan kehadiran tradisi yang hidup. Krisis identitas, kesepian sosial, kecemasan kolektif, disorientasi budaya, dan berbagai penyakit psikologis masyarakat modern justru membutuhkan sumber inspirasi yang berakar pada kearifan tradisional.
Sayangnya, ketika tradisi tidak lagi diaktualisasikan, para penjaganya pun kehilangan peran. Alih-alih menjadi "dokter jiwa" bagi masyarakat era digital dan abad informasi, mereka justru berisiko menjadi pasien dari penyakit yang sama.
Di sinilah saya melihat akar persoalan NU hari ini. Krisis yang dihadapi NU bukanlah krisis finansial. Bukan pula krisis intelektual. Warga NU yang terdidik saat ini tidak kalah kualitasnya dibandingkan warga Muhammadiyah atau organisasi Islam lainnya.
Masalah utamanya bukan kekurangan uang dan bukan kekurangan kecerdasan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kemiskinan imajinasi dan kemiskinan inspirasi pada berbagai lapisan kepemimpinan.
Secara metaforis, NU seperti mengalami stroke ringan dan berpotensi terkena gangguan jantung. Otak dan jantungnya sama-sama melemah. Padahal kekuatan utama NU selama ini terletak pada kemampuan menghubungkan akal dan rasa, tradisi dan realitas, sejarah dan masa depan.
NU pernah menjadi ruang tempat masyarakat menemukan makna hidup melalui tradisi. Ia menjadi semacam konsultan budaya dan penyembuh alternatif bagi problem-problem yang tidak mampu dijawab oleh rasionalitas modern semata.
Ketika fungsi itu ditinggalkan, NU kehilangan sebagian dari jati dirinya.
Saya belajar banyak dari para penyembuh alternatif yang pernah saya temui ketika kesehatan saya terganggu. Salah satunya adalah Haji Dahlan. Dari namanya saja kita bisa menangkap akar kultural yang dekat dengan tradisi NU.
Yang menarik, beliau tidak selalu melihat penyakit dari sudut pandang yang lazim. Ketika saya khawatir mengalami gangguan prostat, misalnya, beliau justru melihat ketidakseimbangan pada posisi pinggang kanan dan kiri saya. Menurutnya, keluhan yang saya rasakan bukan terutama berasal dari prostat, melainkan dari struktur tubuh yang tidak simetris.
Dua kali terapi, kondisi saya membaik.
Saya tidak sedang membahas benar atau salahnya diagnosis tersebut. Yang ingin saya tunjukkan adalah cara pandangnya. Haji Dahlan melihat persoalan dari sudut yang berbeda. Ia tidak terpaku pada gejala yang tampak, melainkan mencari akar masalah yang tersembunyi.
Bagi saya, Haji Dahlan adalah arketipe dari apa yang saya sebut sebagai "konsultan tradisi" dan "penyembuh alternatif". Ia mewakili tradisi yang bukan hanya nyata, tetapi juga aktual.
Tradisi semacam itulah yang seharusnya dihidupkan kembali oleh NU. Bukan tradisi yang sekadar dipamerkan atau dilestarikan, melainkan tradisi yang mampu menjawab tantangan zaman, menginspirasi masyarakat modern, dan membantu bangsa menemukan kembali jati dirinya.
Sebab hanya dengan cara itulah NU tidak sekadar menjadi organisasi yang nyata keberadaannya, tetapi juga aktual peran dan kontribusinya bagi masa depan Indonesia. ***