Ali Samudra: Menuju Taqwa dan Kebebasan Berpikir

Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur.

Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur.

Opini

Oleh Ali Samudra

ORBITINDONESIA.COM - Sebagian besar dari kita mengenal agama sejak lahir, melalui keluarga, lingkungan, dan masyarakat tempat kita tumbuh. Kita belajar beribadah, mengenal halal dan haram, serta memahami berbagai ajaran agama dari orang-orang yang lebih dahulu mengenalnya. Semua itu merupakan bagian penting dari perjalanan kehidupan seorang Muslim.

Namun, ada pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri: apakah agama yang kita jalani telah menjadi keyakinan yang sungguh-sungguh kita pahami, ataukah masih sebatas keyakinan yang kita warisi?

Pertanyaan ini bukan untuk meragukan agama, melainkan untuk mengajak kita melihat kembali kedalaman iman.

Sebab, keyakinan yang diwariskan dapat menjadi titik awal yang baik. Akan tetapi, ia perlu terus dipelajari, direnungkan, dan diuji melalui perjalanan hidup agar tumbuh menjadi keyakinan yang matang.

Di sinilah kebebasan berpikir memperoleh tempat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Berpikir bukanlah ancaman bagi iman. Justru, ketika dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab, berpikir dapat menjadi jalan untuk memperkuat iman dan mendekatkan manusia kepada taqwa.

Kebebasan Berpikir sebagai Jalan Menuju Taqwa

Al-Qur’an tidak mengajak manusia untuk sekadar menerima segala sesuatu tanpa pertimbangan. Dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 170, Al-Qur’an mengkritik sikap orang-orang yang tetap mengikuti tradisi nenek moyang meskipun mereka tidak menggunakan akal dan petunjuk yang benar.

Kritik tersebut mengandung pesan penting: sesuatu tidak otomatis benar hanya karena telah diwariskan, dilakukan oleh banyak orang, atau disampaikan oleh tokoh yang dihormati. Kebenaran perlu dicari melalui petunjuk, pengetahuan, dan pertimbangan yang jernih.

Al-Qur’an bahkan menggambarkan orang-orang yang mendengarkan berbagai perkataan, lalu mengikuti yang terbaik di antaranya, sebagai orang-orang yang mendapat petunjuk Allah (QS Az-Zumar [39]: 18). Ayat ini menunjukkan bahwa mendengar, menimbang, dan memilih dengan pertimbangan yang baik merupakan bagian dari sikap beriman.

Tentu saja, kebebasan berpikir bukan berarti setiap orang dapat menetapkan kebenaran semata-mata berdasarkan keinginan pribadi. Kebebasan berpikir adalah kesediaan menggunakan akal untuk memahami, menilai, dan mencari alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia bukan kebebasan untuk mengabaikan kebenaran, melainkan kebebasan dari sikap menerima sesuatu secara membuta.

Seorang Muslim tidak perlu takut mengajukan pertanyaan. Ia dapat bertanya tentang makna suatu ayat, dasar sebuah pendapat, atau alasan di balik suatu ketentuan agama.

Pertanyaan yang lahir dari keinginan memahami bukanlah bentuk permusuhan terhadap agama. Sebaliknya, pertanyaan dapat menjadi pintu bagi pengetahuan yang lebih dalam.

Taqwa yang Tidak Takut pada Pertanyaan

Taqwa sering dipahami sebagai kesungguhan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Pemahaman ini benar, tetapi perjalanan menuju taqwa juga melibatkan kesadaran, pengetahuan, dan pembentukan sikap batin.

Taqwa yang hanya bertumpu pada kebiasaan tanpa disertai pemahaman dapat menjadi rapuh ketika berhadapan dengan persoalan yang belum pernah dijumpai sebelumnya.

Seseorang mungkin menjalankan ajaran agama dengan tekun, tetapi ketika berhadapan dengan pertanyaan kritis dari dunia modern, ia tidak tahu bagaimana menjelaskan keyakinannya. Ia kemudian merasa terancam, bukan karena kebenaran telah terbantahkan, melainkan karena pemahamannya belum cukup berkembang.

Inilah yang dapat kita sebut sebagai taqwa yang remang-remang: bukan berarti ibadahnya tidak bernilai atau imannya pasti lemah, tetapi pemahaman yang menopang keyakinannya belum memperoleh penerangan yang memadai. Taqwa seperti ini membutuhkan proses belajar, bukan celaan.

Dunia modern menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang semakin kompleks. Manusia membicarakan kebebasan, keadilan, hak individu, perkembangan ilmu pengetahuan, dan hubungan agama dengan kehidupan sosial.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu muncul untuk menyerang agama. Sebagian justru lahir dari keinginan memahami bagaimana ajaran agama dapat memberi arah bagi kehidupan manusia.

Karena itu, seorang Muslim perlu membangun keyakinan yang tidak berhenti pada jawaban yang diwariskan. Ia perlu mempelajari alasan, konteks, dan tujuan dari ajaran yang diyakininya.

 Dengan demikian, ketika menghadapi pertanyaan, ia tidak harus memilih antara menolak pertanyaan atau meninggalkan keyakinan. Ia dapat menjadikan pertanyaan sebagai kesempatan untuk memperdalam pemahaman.

Menghormati Pendapat, Tidak Menelannya Mentah-Mentah

Dalam kehidupan beragama, kita tidak dapat mengabaikan peran ulama, guru, dan para pemikir Islam. Menghormati ulama tidak berarti menganggap setiap pendapat yang disampaikan seseorang sebagai kebenaran yang tidak boleh ditelaah.

Pendapat agama, seperti pendapat manusia pada umumnya, perlu dipahami dasar dan konteksnya. Kita dapat bertanya: apa dalil yang digunakan? Bagaimana dalil itu dipahami? Apakah terdapat pendapat lain? Apakah kesimpulannya sesuai dengan konteks persoalan yang sedang dibahas?

Pertanyaan seperti itu bukan berarti merendahkan ulama. Justru, ia merupakan bagian dari kesungguhan mengikuti jalan ilmu.

Para ulama sendiri memiliki tradisi perbedaan pendapat, saling menguji argumentasi, dan mengembangkan pemahaman berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki.

Kita juga perlu membedakan antara wahyu dan penafsiran manusia terhadap wahyu. Al-Qur’an sebagai wahyu memiliki kedudukan yang berbeda dari tafsir, fatwa, atau pendapat seseorang.

Penafsiran merupakan usaha manusia memahami wahyu. Usaha itu dapat sangat berharga, tetapi tetap memiliki kemungkinan untuk ditinjau kembali.

Ketika suatu pendapat diperlakukan sebagai kebenaran mutlak, ruang belajar dapat tertutup. Sebaliknya, ketika kita menyadari bahwa penafsiran adalah usaha manusia, kita dapat menghormatinya tanpa kehilangan kemampuan untuk menimbang.

Tentu, tidak setiap orang dapat langsung menilai semua persoalan agama secara mendalam. Ada bidang ilmu, metodologi, dan syarat keilmuan yang perlu dipelajari. Kebebasan berpikir bukan alasan untuk berbicara tanpa pengetahuan. QS Al-Isra’ [ 17] ayat 36 mengingatkan agar manusia tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya, karena pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawaban.

Dengan demikian, sikap yang tepat bukan menelan semua pendapat mentah-mentah, tetapi juga bukan menolaknya secara serampangan. Kita perlu mendengar, mempelajari, menimbang, dan mengambil kesimpulan sesuai kemampuan serta pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ibadah dan Pencarian Makna

Kebebasan berpikir dalam beragama juga perlu dipahami secara tepat dalam hubungannya dengan ibadah.

Ada kemungkinan seseorang merasa bahwa ia harus memahami seluruh makna ibadah sebelum menjalankannya. Padahal, kewajiban agama tidak harus menunggu sampai seluruh hikmahnya dapat dijelaskan oleh akal manusia.

Sholat, puasa, zakat, dan haji tetap merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Menjalankan kewajiban tersebut tidak bertentangan dengan sikap kritis.

Kita dapat melaksanakan ibadah sesuai tuntunan yang dipahami, sambil terus mencari makna yang lebih dalam dari setiap gerak, bacaan, dan ketentuannya.

Sholat, misalnya, bukan hanya rangkaian gerakan dan bacaan. Al-Qur’an menyatakan bahwa sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar (QS Al-‘Ankabut [29]: 45). Ayat ini mengajak kita melihat hubungan antara ibadah dan pembentukan moral.

Jika sholat dijalankan setiap hari, tetapi tidak mendorong kita menjadi lebih jujur, adil, dan bertanggung jawab, maka ada makna yang perlu kita renungkan kembali.

Demikian pula puasa. Al-Qur’an menyebutkan bahwa puasa diwajibkan agar manusia mencapai taqwa (QS Al-Baqarah [2]: 183). Maka, pencarian makna puasa tidak berhenti pada kemampuan menahan lapar dan dahaga. Ia juga mengajak kita melatih pengendalian diri, kepekaan terhadap penderitaan orang lain, dan kesungguhan memperbaiki perilaku.

Jangan menunggu sampai seluruh makna ibadah dipahami untuk mulai menjalankannya. Tetapi jangan pula berhenti mencari maknanya hanya karena ibadah telah dijalankan.

Ibadah dan pencarian makna seharusnya berjalan beriringan. Ibadah menjaga hubungan kita dengan Allah, sementara tafakur membantu kita menyadari makna hubungan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dari Sikap Kritis Menuju Wasathiyah

Sikap kritis yang disertai kerendahan hati dapat membantu seorang Muslim menghadapi perbedaan pandangan dengan lebih tenang.

Ia menyadari bahwa tidak semua perbedaan berarti penyimpangan, dan tidak setiap pendapat yang berbeda dengan dirinya harus dianggap sebagai ancaman.

Di sinilah kita dapat memahami nilai wasathiyah. Istilah ini sering diterjemahkan sebagai sikap pertengahan, tetapi bukan berarti mengambil posisi di tengah dalam setiap persoalan.

Wasathiyah lebih tepat dipahami sebagai sikap adil, seimbang, dan tidak melampaui batas. Ia mengajak kita menempatkan sesuatu secara proporsional, sesuai prinsip dan alasan yang benar.

Sikap ini tidak menuntut seorang Muslim menghilangkan keyakinannya. Seseorang tetap dapat meyakini bahwa ajaran yang dianutnya benar, tetapi tidak harus merendahkan orang yang memiliki pemahaman berbeda. Keteguhan dalam prinsip dapat berjalan bersama penghormatan terhadap sesama manusia.

Sebaliknya, fanatisme sempit sering tumbuh ketika seseorang menyamakan keyakinan pribadi atau kelompoknya dengan seluruh kebenaran. Ia tidak lagi bersedia mendengar alasan lain, bahkan ketika alasan tersebut layak dipertimbangkan.

Perbedaan kemudian berubah menjadi pertentangan, dan agama yang seharusnya membimbing manusia menuju kebaikan justru digunakan untuk membangun tembok di antara mereka.

Namun, sikap kritis tidak otomatis membuat seseorang menjadi adil. Akal pun dapat digunakan untuk membenarkan kepentingan pribadi atau kelompok.

Karena itu, berpikir kritis harus disertai kejujuran, kesediaan mengoreksi diri, dan komitmen terhadap keadilan. QS Al-Ma’idah [5] ayat 8 mengingatkan agar kebencian terhadap suatu kaum tidak mendorong manusia berlaku tidak adil.

Wasathiyah bukan sikap tanpa pendirian. Ia adalah kemampuan memegang prinsip tanpa kehilangan keadilan; kemampuan berbeda tanpa membenci; dan kemampuan meyakini sesuatu tanpa menganggap diri sendiri tidak mungkin keliru.

Menjawab Tantangan Dunia Modern

Sebagian orang mungkin khawatir bahwa terlalu banyak berpikir akan membawa seseorang kepada keraguan. Kekhawatiran ini dapat dimengerti, terutama jika pertanyaan muncul tanpa bekal pengetahuan yang memadai.

Namun, keraguan tidak selalu menjadi akhir dari perjalanan iman. Dalam banyak keadaan, pertanyaan justru menjadi awal bagi pemahaman yang lebih kokoh.

Yang perlu dijaga adalah cara kita menghadapi pertanyaan. Jangan menjadikan keraguan sebagai alasan untuk berhenti belajar. Jangan pula menjadikan keyakinan sebagai alasan untuk menolak setiap pertanyaan. Keduanya dapat membuat manusia terperangkap dalam sikap yang tertutup.

Seorang Muslim modern perlu memiliki keberanian untuk berpikir sekaligus kesediaan untuk belajar. Ia tidak harus menguasai seluruh ilmu agama untuk mulai memperdalam keyakinannya. Namun, ia perlu menyadari batas pengetahuannya, mencari sumber yang dapat dipercaya, dan tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

Kebebasan berpikir bukanlah tujuan yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari perjalanan manusia untuk mengenali kebenaran, memahami tanggung jawabnya, dan membangun kehidupan yang lebih baik.

Dalam perjalanan itu, akal bukan pengganti wahyu, dan wahyu bukan alasan untuk mematikan akal. Keduanya perlu dipahami dalam hubungan yang tepat.

Taqwa bukan sekadar keadaan ketika seseorang tidak pernah bertanya. Taqwa juga tercermin dalam kesungguhan mencari kebenaran, keberanian mengoreksi diri, dan kesediaan berlaku adil meskipun berhadapan dengan perbedaan.

Kita membutuhkan keyakinan yang kuat, tetapi tidak sempit; ibadah yang tekun, tetapi tidak kehilangan makna; dan pemikiran yang bebas, tetapi tetap bertanggung jawab.

Jangan menunggu sampai seluruh makna ibadah dipahami untuk mulai menjalankannya. Tetapi jangan pula berhenti mencari maknanya hanya karena ibadah telah dijalankan.

Sebab, taqwa yang matang bukanlah taqwa yang takut menghadapi pertanyaan. Ia adalah taqwa yang terus bertumbuh melalui kesungguhan mencari kebenaran, memperbaiki diri, dan menjaga keadilan terhadap sesama manusia.***

 

Jakarta, 25 Oktober 2026

 

*Ali Samudra, Pembina Yayasan Masjid Baitul Muhajirin - Jakarta Timur. **