Kritik Dario Perkins: Kevin Warsh dan Kebijakan The Fed

Seeking Alpha

Seeking Alpha

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kebijakan The Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh memantik kritik tajam dari Dario Perkins, global macro strategist TS Lombard. Perkins menyebut konferensi pers perdana Warsh sebagai “kekecewaan terbesar musim panas 2026” karena sang ketua “terdengar seperti komentator, bukan bankir sentral paling berkuasa di dunia.” (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Artikel sumber berbahasa Inggris ini menggambarkan perubahan gaya komunikasi dan filosofi kebijakan moneter Warsh yang menekankan agar pasar bereaksi pada data ekonomi, bukan pada tafsir tentang respons The Fed. Perkins awalnya mengaku “benar-benar antusias” menanti konferensi pers itu, tetapi ia melihat hasilnya justru memperlemah kejelasan arah kebijakan. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Dalam terjemahan bebas yang akurat, Perkins menyoroti inti pesan Warsh: biarkan imbal hasil obligasi jangka pendek, khususnya tenor 2 tahun, mencerminkan pembacaan pasar atas data. Di media sosial, gagasan ini dipuji dengan nada provokatif: “Biarkan saja yield 2 tahun menjalankan kebijakan moneter,” tulis Perkins secara sarkastik mengutip respons warganet. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Perkins menilai pendekatan “market-driven policy” itu rapuh karena yield 2 tahun kerap gagal membaca ekonomi, terutama saat titik balik siklus. Ia mengingatkan bahwa bahkan sebelum era forward guidance, indikator pasar tersebut “sering membuat kekacauan total” dalam memprediksi arah ekonomi AS. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Masalahnya bukan hanya akurasi ramalan, tetapi juga mandat ganda The Fed yang harus menyeimbangkan inflasi dan lapangan kerja. Perkins mempertanyakan bagaimana pasar bisa menimbang dua sisi mandat itu jika pejabat bank sentral menolak menjelaskan reaction function, yakni pola respons kebijakan terhadap data. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Alternatif yang kerap diajukan adalah kembali ke Taylor Rule, yaitu aturan yang mengaitkan suku bunga dengan inflasi dan output gap. Namun Perkins menyebut pendekatan ini sudah terbukti gagal pada periode krisis keuangan global, ketika harga minyak melonjak sementara sistem kredit runtuh. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Perkins menulis bahwa Warsh seharusnya ingat masa itu karena ia pernah sangat hawkish dan “sepenuhnya salah.” Kalimat ini bukan sekadar serangan personal, melainkan argumen bahwa aturan mekanistis bisa menyesatkan ketika guncangan datang dari sisi finansial, bukan dari inflasi permintaan. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Kritik berikutnya menyasar transparansi dan akuntabilitas, dua kata kunci yang selalu melekat pada bank sentral modern. Perkins membandingkan gaya Warsh dengan Jerome Powell yang, meski tidak selalu disetujui, setidaknya memberi pemahaman bagaimana pejabat The Fed membaca ekonomi. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Warsh, menurut Perkins, menolak menjawab pertanyaan bukan hanya tentang masa depan, tetapi juga tentang masa kini dan masa lalu. Ia hanya memberi soundbite, sesuatu yang bagi seorang teknokrat tak terpilih dengan kekuasaan besar dianggap sebagai kegagalan akuntabilitas publik. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Warsh juga mengumumkan pembentukan task force eksternal untuk mengkaji tema besar, mulai dari kerangka inflasi hingga penggunaan data alternatif, dengan laporan akhir tahun. Perkins mengakui bank sentral perlu mendengar suara luar agar tidak terjebak groupthink. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Tetapi ia mempertanyakan mekanismenya karena semua keputusan tetap berada di Federal Open Market Committee dan task force tidak punya hak suara. Dalam frasa yang sinis, Perkins menggambarkan Warsh “menghubungi teman-temannya” di akademia dan bisnis, lalu setelah laporan masuk, pertanyaannya sederhana: “Lalu apa?” (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Perdebatan makin tajam saat Warsh mendorong pemakaian alternative data, seolah The Fed kalah informasi dibanding pihak luar. Bagi Perkins, ini membingungkan karena The Fed adalah institusi dengan sumber daya nyaris tak terbatas dan akses data luas. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Perkins menantang logika itu dengan pertanyaan praktis: jika ada data alternatif yang benar-benar memberi keunggulan dibanding seri resmi, mengapa The Fed belum menelitinya sejak lama. Ia memberi referensi pengalaman di Bank of England akhir 1990-an, ketika mereka sudah melacak ribuan harga online untuk mendahului CPI resmi, dan kesimpulannya tegas: “Tidak ada keunggulan.” (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Di balik kritik Perkins, ada kekhawatiran lebih besar tentang arah komunikasi kebijakan The Fed di era pasca-forward guidance. Warsh tampak ingin “mendisiplinkan” pasar agar tidak bergantung pada petunjuk bank sentral, tetapi cara yang ditempuh justru berisiko menciptakan kebingungan baru. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Pasar keuangan memang bisa menjadi sensor cepat, tetapi ia juga bisa menjadi cermin distorsi, terutama saat ketidakpastian tinggi. Ketika bank sentral menahan penjelasan reaction function, volatilitas dapat meningkat karena pelaku pasar menebak-nebak prioritas The Fed antara inflasi dan pekerjaan. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Task force dan data alternatif terdengar modern, tetapi tanpa jembatan yang jelas ke proses pengambilan keputusan, keduanya bisa berubah menjadi kosmetik kebijakan. Publik tidak hanya butuh “lebih banyak studi,” tetapi butuh alasan yang dapat diuji untuk setiap keputusan suku bunga yang memengaruhi kredit, hipotek, dan lapangan kerja. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Perkins juga mengajukan standar yang sering terlupakan: konferensi pers ketua The Fed bukan panggung retorika, melainkan instrumen tata kelola. Jika seorang ketua memilih soundbite ketimbang penjelasan, ia mengurangi kemampuan publik menilai apakah kebijakan dibuat dengan kerangka yang konsisten. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Kritik Dario Perkins terhadap Kevin Warsh pada akhirnya adalah peringatan tentang harga dari komunikasi yang minim dan filosofi yang terlalu percaya pada sinyal pasar. Ketika yield 2 tahun dijadikan kompas utama tanpa peta reaction function, The Fed berisiko kehilangan narasi kebijakan yang bisa dipertanggungjawabkan. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)

Pertanyaan reflektifnya sederhana tetapi mengganggu: apakah The Fed ingin pasar “lebih mandiri,” atau justru sedang memindahkan beban ketidakpastian dari ruang rapat kebijakan ke rumah tangga dan dunia usaha. Jika transparansi adalah fondasi legitimasi bank sentral modern, seberapa lama publik akan menerima kebijakan yang terdengar seperti komentar, bukan keputusan yang dijelaskan. (Orbit dari berbagai sumber, 5 Juli 2026)