Denny JA: Menyambut Rainer Maria Rilke dan Berthold Damshäuser di Jaya Suprana Institute
MENYAMBUT RAINER MARIA RILKE DAN BERTHOLD Damshäuser DI JAYA SUPRANA INSTITUTE
Oleh Denny JA, Ketum Satupena
ORBITINDONESIA.COM - Hadirin yang saya hormati,
Ada penyair yang pandai merangkai kata. Ada penyair yang mampu melukis perasaan.
Tetapi hanya sedikit penyair yang sanggup mengubah kesepian manusia menjadi pengalaman spiritual.
Salah satunya adalah Rainer Maria Rilke.
Lahir di Praha pada tahun 1875 dan wafat di Swiss pada tahun 1926, Rilke sering dianggap sebagai salah satu penyair terbesar abad ke-20.
Ia hidup di masa ketika Eropa sedang kehilangan kepastian lama: agama mulai dipertanyakan, perang mengintai, dan manusia modern merasa semakin terasing dari dirinya sendiri.
Di tengah zaman yang gelisah itu, Rilke tidak menawarkan ideologi. Ia tidak menawarkan revolusi politik.
Ia menawarkan sesuatu yang lebih sunyi. Ia mengajak manusia kembali mendengar suara jiwanya sendiri.
Karena itulah, seratus tahun setelah kematiannya, puisinya masih dibaca di seluruh dunia.
-000-
Sebagai Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, saya, Denny JA, menyambut dengan penuh sukacita terselenggaranya acara sastra ini, hasil kerja sama SATUPENA dan Jaya Suprana Institute, hari ini 31 Mei 2026.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi instan, puisi mengajak kita kembali mendengar suara terdalam kemanusiaan.
Kehadiran Berthold Damshäuser dan pembacaan puisi Rainer Maria Rilke dalam Bahasa Indonesia bukan sekadar peristiwa sastra, melainkan jembatan budaya yang mempertemukan jiwa-jiwa lintas bangsa.
Berthold Damshäuser adalah sastrawan, penerjemah, dan akademisi Jerman yang selama puluhan tahun mengabdikan dirinya untuk memperkenalkan sastra Indonesia dan Jerman secara timbal balik.
Ia sangat tepat berbicara tentang Rainer Maria Rilke karena menguasai bahasa, tradisi sastra, dan konteks budaya Jerman yang melahirkan karya-karya Rilke. Lebih dari itu, Damshäuser memiliki kepekaan puitik yang memungkinkan pembaca Indonesia menangkap bukan hanya makna kata-kata Rilke, tetapi juga kedalaman jiwa yang berdenyut di balik setiap puisinya.
-000-
Apa yang membuat Rilke Istimewa?
1. Ia Menjadikan Kesepian Sebagai Guru
Sebagian besar manusia berusaha lari dari kesepian.
Rilke justru mengundangnya masuk.
Dalam surat-suratnya yang terkenal kepada seorang penyair muda, ia menulis bahwa kesepian bukanlah kutukan. Kesepian adalah ruang tempat manusia bertemu dirinya sendiri.
Bagi Rilke, pertumbuhan batin selalu lahir dari keberanian untuk duduk sendirian bersama pertanyaan-pertanyaan yang belum memiliki jawaban.
Karena itu puisinya terasa seperti percakapan pribadi dengan jiwa pembacanya.
-000-
2. Ia Menyatukan Dunia dan Spiritualitas
Rilke melihat keilahian bukan hanya di gereja.
Ia menemukannya dalam mawar.
Dalam patung.
Dalam burung.
Dalam musim gugur.
Dalam seorang pengemis yang berjalan di jalanan kota.
Ia percaya bahwa benda-benda biasa menyimpan kedalaman yang tak terlihat.
Membaca Rilke sering terasa seperti belajar melihat dunia untuk pertama kalinya.
-000-
3. Bahasanya Indah, Tetapi Tidak Pernah Dangkal
Puisi Rilke memiliki keindahan yang memukau.
Namun keindahan itu selalu membawa pembaca menuju pertanyaan yang lebih dalam:
Apa arti hidup?
Apa arti cinta?
Bagaimana menghadapi kematian?
Bagaimana menerima perubahan?
Karena itu karya-karyanya tidak sekadar indah dibaca.
Ia mengubah cara seseorang memandang hidup.
-000/
Ini satu contoh puisinya:
“Der Panther” (The Panther)
Ditulis: 1902–1903
Ini mungkin puisi Rilke yang paling sering diajarkan di sekolah dan universitas.
Puisi ini menggambarkan seekor macan kumbang yang terkurung di kebun binatang Paris.
Tetapi sebenarnya sang panther adalah simbol manusia modern.
Ia masih hidup.
Masih berjalan.
Masih bernapas.
Namun jiwanya telah kehilangan kebebasan.
Puisi ini menjadi refleksi mendalam tentang keterasingan, rutinitas, dan penjara tak kasat mata yang sering kita bangun sendiri.
Ia berbicara kepada siapa saja yang diam-diam bertanya:
“Apakah hidup ini memiliki makna yang lebih dalam?”
Dan dari jarak satu abad, suara Rainer Maria Rilke masih menjawab dengan lembut:
“Masuklah ke dalam dirimu sendiri. Di sana, jawaban itu menunggumu.”
-000-
Seratus tahun setelah kematiannya, Rilke masih mengajak manusia melakukan perjalanan yang sama: masuk ke dalam dirinya sendiri.
Di Jakarta yang riuh oleh notifikasi dan kemacetan, ajakan Rilke terasa semakin mendesak. Ia mengingatkan kita bahwa keheningan bukan kehilangan, melainkan ruang tempat manusia Indonesia menemukan kembali jiwanya yang sesungguhnya.
Semoga sore ini, melalui suara Berthold Damshäuser dan puisi-puisi yang akan kita dengarkan, kita tidak hanya mengenal seorang penyair besar.
Semoga kita juga menemukan kembali bagian terdalam dari diri kita yang selama ini mungkin tertutup oleh hiruk-pikuk kehidupan.*
Jakarta, 31 Mei 2026. ***